Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, KELUARGA — Indonesia disebut-sebut termasuk negara dalam kategori fatherless country atau “negara kekurangan ayah”. Ini bukan berarti jumlah ayah berkurang. Jumlah ayah banyak, tetapi tidak berperan atau berfungsi sebagai ayah sesungguhnya. Fatherless country dimaknai sebagai negara yang keadaan masyarakatnya berupa kecenderungan tidak adanya peran dan keterlibatan figur ayah secara signifikan dan hangat dalam kehidupan sehari-hari seorang anak di rumah.
Kurangnya keterlibatan peran ayah dalam pengasuhan anak dinilai membuat anak-anak Indonesia menjadi father hungry atau “lapar pada sosok ayah”. Ini berupa kondisi kerusakan psikologis yang diderita anak-anak karena tidak mengenal ayahnya. Akibatnya, anak berpotensi berperilaku menyimpang. Kondisi ini tentu disebabkan kurangnya pemahaman para ayah tentang peran utamanya sebagai kepala keluarga. Ia berkewajiban mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya, serta bertanggung jawab terhadap kondisi mental maupun fisik anak-anaknya. Tidak hanya makanan, perhatian dan kasih sayang ayah juga dibutuhkan dan berandil besar bagi tumbuh kembang anak hingga dewasa kelak. Bahkan seringkali anak mencontoh sosok ayah. Ayah pun memiliki tempat istimewa di hati anak-anaknya, sebagaimana juga ibu.
Renungan untuk para Ayah
Seorang suami atau ayah adalah pemimpin keluarga. Ia yang paling bertanggung jawab menjaga dan mengurus keluarga. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. “ (HR Bukhari).
Allah Swt. juga hal ini di dalam firman-Nya,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At-Tahrim: 6).
Dalam ayat ini, Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan cara taat dan patuh melaksanakan perintah Allah. Objek pada ayat ini adalah setiap mukmin. Akan tetapi, perintah ini juga mengarah kepada orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarga, yaitu ayah. Kepala keluarga wajib memastikan diri dan keluarganya selamat dari neraka. Ini menunjukan bahwa orientasi penjagaan tersebut bukan hanya penjagaan yang bersifat duniawi, tetapi juga ukhrawi.
Meski seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, seorang suami atau ayahlah penanggung jawab atas pendidikan istri dan anaknya. Bukan hanya berkaitan dengan biaya pendidikan, tetapi juga terkait materi dan muatan pendidikan tersebut. Dengan demikian, tidak benar jika urusan pendidikan anak hanya dibebankan pada seorang ibu. Ayah pun berandil besar menentukan pendidikan anak-anaknya sehingga mereka menjadi generasi beriman kukuh, berkepribadian Islam handal, cerdas, dan siap berjuang untuk Islam.
Dalam menjalankan perannya, seorang ayah tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku, dan kasar terhadap keluarganya. Sebaliknya, ia harus berakhlak mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang. Ibnu Qoyyim rahimahullah secara tegas mengingatkan dalam kitab Tuhfatul maudud bahwa penyebab utama rusaknya generasi hari ini adalah karena ayah. Beliau mengatakan, “Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya, dan memfasilitasi syahwat (keinginannya). Ia mengira telah memuliakannya, padahal merendahkannya. Ia juga mengira telah menyayanginya, padahal menzaliminya. Dengan demikian, hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, penyebab utamanya adalah ayah.”
Imam Ibnu Qoyyim sesungguhnya tidak hendak menyudutkan para ayah. Ia justru mengingatkan kita semua, terutama para ayah, agar introspeksi diri. Sudahkah benar-benar memberi perhatian kepada anak? Sudahkah mendidik anaknsesuai tuntunan Rasulullah ﷺ? Sudahkah memenuhi impian dan harapan anak terhadap orang tuanya? Kadang, orang tua justru memaksakan kehendak kepada anak-anaknya, jarang mendengarkan, serta menanyakan harapan dan keinginan mereka.
Ayah Harus Selalu Ada bagi Anaknya
Seorang anak senantiasa membutuhkan ayahnya bukan terkait kebutuhan materi semata. Akan tetapi anak butuh perhatian, bimbingan, nasihat, senyuman, dekapan hangat penuh kasih sayang, atau digendongan walaupun sebentar. Rasulullah saw. mencontohkan untuk kita semua, dari Abdullah bin Ja’far ra. berkata, “Apabila Rasulullah saw. pulang dari bepergian, biasanya beliau disambut oleh anak-anak dan anggota keluarganya. Suatu hari, beliau pulang dari bepergian. Aku lebih dahulu menyambut beliau, maka aku digendongnya. Kemudian, salah seorang anak, Fathimah ra. menyambutnya. Ia pun digendongnya di belakang. Kemudian, kami bertiga memasuki kota Madinah di atas binatang tunggangan.” (HR Muslim).
Hal seperti ini kadang dilupakan oleh seorang ayah. Sesungguhnya, ayah bersama ibu, berperan penting dalam proses pendidikan anak sehingga terwujud generasi handal berkepribadian Islam. Generasi yang menjadikan kecintaan kepada Allah di atas segalanya dan menjadikan rida Allah sebagai tujuannya. Lalu, apa yang harus dilakukan seorang ayah sehingga ia selalu ada bagi anak-anaknya?
1. Memahami bahwa anak adalah anugerah dan amanah dari Allah Taala.
Sebagai din sempurna, Islam memosisikan anak sebagai anugerah dan amanah dari Allah Swt. yang harus dipertanggungjawabkan oleh para orang tua. Anak sebagai anugerah harus disyukuri karena kita dipercaya Allah merawatnya. Oleh karenanya, orang tua wajib menjaga tumbuh kembang anak penuh kasih sayang dan kesabaran. Sejak anak dalam kandungan, orang tua wajib mempersiapkan diri menjaganya, mendidik, dan melindunginya.
Dengan memahami bahwa anak adalah amanah dari Allah, ayah akan paham bahwa kehadiran anak bukan untuk kehidupan di dunia semata, melainkan juga untuk kehidupan di akhirat. Dengan demikian, ayah akan berusaha keras berlaku baik dan selalu ada untuk anak-anaknya. Ayah tentu berharap agar anaknya saleh/salihah, mandiri, mampu mengarungi kehidupan dengan baik, serta siap mengemban dakwah, dan memperjuangkan Islam.
2. Memenuhi hak anak.
Sudah seharusnya seorang ayah paham bahwa ia adalah penanggung jawab keluarga. Ia wajib menafkahi istri dan anak-anaknya. Nabi saw. bersabda, “Makanan yang kamu berikan untuk anakmu, dinilai sebagai sedekah. Begitu juga makanan yang kamu berikan bagi istrimu, bernilai sedekah untukmu. Termasuk makanan yang kamu beri untuk pembantumu, adalah juga sedekah.” (HR Ahmad).
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau belanjakan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan terhadap keluargamu, yang paling agung pahalanya adalah yang engkau nafkahkan terhadap keluargamu.” (HR Muslim).
Selain nafkah, ada kewajiban lain yang harus dipenuhi seorang ayah, yang akan membawanya kepada pahala yang besar dan dapat meraih surga. Ayah harus melindungi anak dengan akhlak mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang. Dalam menjalankan perannya, seorang ayah tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku, dan kasar terhadap anak-anak dan istrinya. Rasulullah saw. bersabda, “Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluarganya. Aku adalah yang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku.” (HR At-Tirmidzi).
3. Berkomunikasi intens dan berkegiatan bersama anak.
Komunikasi yang baik dapat membangun hubungan yang baik, terlebih jika dilakukan secara langsung atau komunikasi verbal. Hal ini akan membuat hubungan ayah dan anak makin dekat dan baik karena didasari rasa saling percaya, jujur, dan terbuka. Sampaikan hal yang ingin disampaikan atau ditanyakan kepada anak secara langsung agar jelas apa yang diharapkan. Berbicara secara langsung juga bisa menguatkan ikatan, serta tatapan mata dan sentuhan bisa menambah keharmonisan orang tua dan anak.
Saling berkomunikasi di antara anggota keluarga sangat diperlukan. Bahkan, hal ini dianjurkan oleh Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Islam memerintahkan kita bergaul secara makruf, saling menasehati, dan beramar makruf nahi mungkar sehingga kehidupan keluarga tenteraman dan bersahabat.
Komunikasi intens akan mempererat hubungan ayah dan anak, terlebih dilakukan sambil berkegiatan bersama, seperti makan, salat berjemaah, tadarus, berkebun, atau menghadiri majelis ilmu bersama. Keberkahan akan melimpah pada keluarga kita. Sabda Rasuluah saw. dari Wahsyi bin Harb dari bapaknya dari kakeknya, “Sesungguhnya para sahabat Rasulullah saw. pernah mengadu, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan, tetapi tidak merasa kenyang. Nabi bersabda, ‘Mungkin kalian makan sendiri-sendiri.’ “Betul,’ kata para sahabat. Nabi lantas bersabda, ‘Makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah sebelumnya, tentu makanan tersebut akan diberkahi'”. (HR Abu Daud).
4. Menjadi teladan bagi anak.
Bagaimanapun anak-anak membutuhkan teladan (qudwah) yang baik, bahkan hingga ia dewasa. Oleh karenanya, ayah dan ibu harus selalu memberi contoh yang baik kepada anak. Dengan demikian, akan tertanam dalam jiwa mereka benih-benih kebaikan yang akan terhunjam dan terbawa dalam setiap sikap dan perilaku mereka bahwa syariat Islam harus diterapkan.
Orang tua harus memberi teladan bahwa Islam adalah rujukan dalam setiap aktivitas, termasuk dalam berpikir atau diskusi. Munculkan rasa bangga menjadi seorang muslim dengan aturannya yang sempurna. Dengan demikian, anak akan semangat menjalankan dan menyebarkan syariat-Nya meskipun tidak mudah. Inilah yang akan mengukuhkan jiwa anak untuk menjadi pembela Islam tepercaya ketika syariat Islam dan umatnya direndahkan oleh musuh-musuh Islam. Anak akan menyampaikan kebenaran Islam di mana pun berada.
5. Mendoakan anak.
Beberapa hadis Rasulullah saw. menjelaskan kepada kita, bahwa di antara doa yang mustajab adalah doa yang diucapkan oleh orang tua untuk anaknya, baik doa kebaikan maupun doa keburukan. Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga doa yang tidak tertolak, yakni doa orang tua (kepada anaknya), doa orang yang berpuasa, dan doa orang yang sedang safar.” (HR. Al Baihaqi).
Juga dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (safar), dan doa baik orang tua pada anaknya.” (HR Ibnu Majah, Abu Daud).
Beberapa ulama meyampaikan pendapatnya tentang hadis-hadis yang menunjukkan mustajabnya doa orang tua kepada anaknya, baik doa ayah, maupun doa ibu. Al Munawi rahimahullah menjelaskan, “Doa orang tua kepada anaknya diijabah karena rasa sayang orang tua yang tulus kepada anaknya. Orang tua juga banyak mendahulukan anaknya daripada dirinya sendiri sehingga setiap doa yang disertai rasa sayang yang tulus mengakibatkan dikabulkannya doa.”
Khatimah
Demikianlah, betapa pentingnya posisi ayah bagi anak-anaknya. Bagaimanapun, anak-anak membutuhkan sosok dan figur ayah dalam kehidupannya, selain sosok ibu. Jangan sampai hal ini dianggap kecil, bahkan diabaikan. Islam telah mengajarkan kepada kita agar kelak lahir anak-anak saleh/salihah berkepribadian Islam yang handal. Akhirnya, mereka akan bahagia di dunia maupun di akhirat, hasil bimbingan ayah dan ibunya. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
