[Ath-Thariq] Sejarah dan Penerapan Islam (Bagian 2/3)

[Ath-Thariq] Sejarah dan Penerapan Islam (Bagian 2/3)

Penulis: Syekh Ahmad Athiyat

Sambungan dari Bagian 1/3

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Sesungguhnya sejarah telah dimaksudkan untuk menyebut karakter para pribadi dan keistimewaan mereka, dan menukil peristiwa tanpa diteliti atau diuji terlebih dahulu sehingga sangat dangkal  kualitas penukilannya. Berdasarkan hal ini, kita tidak boleh memalingkan perhatian padanya, kecuali hanya untuk meneliti tata cara penerapan. Sedangkan ketika ada keinginan dalam diri kita untuk mengetahui tata cara penerapan Islam dari sejarah; yakni tentang implementasi hukum-hukum Islam, maka sebelumnya kita harus memperhatikan beberapa poin berikut:

1. Tidak boleh meneliti tata cara penerapan bersumberkan buku-buku sejarah yang dikarang para peneliti sejarah yang memusuhi Islam. Hal ini karena hubungan mereka dengan Islam semata-mata tegak di atas landasan permusuhan dan kedengkian. Mereka ini ada dua  golongan;

Pertama, peneliti sejarah Barat yang dengki pada Islam dan mereka yang menulis sejarah dengan diliputi jiwa penuh kedengkian, fanatisme, dan dengan maksud memperdaya, menghasut, dan memberikan gambaran buruk pada Islam dan penganutnya serta menjauhkan kaum muslim dari agamanya.

Kedua, murid-murid yang dididik peneliti sejarah tersebut, yang menulis sejarah dengan semangat dan maksud yang sama sebagaimana pendahulunya, atau dengan ketololan mereka yang tak terhingga ketika mereka menukil dari “maha guru‟-nya tanpa diteliti atau diperiksa terlebih dahulu.

Ada banyak bukti atas hal itu, di antaranya adalah pengakuan sebagian orang Barat penulis buku itu sendiri, ilmuwan Prancis Alconte Decastre mengatakan dalam bukunya, Islam, “Saya tidak tahu apa yang dikatakan kaum muslim seandainya mereka tahu berbagai cerita abad pertengahan dan memahami apa yang dilantunkan dalam  lagu-lagu penyanyi kristiani (penyanyi gereja). Seluruh lagu-lagu kami–bahkan lagu yang ada sebelum abad kedua belas Masehi–terlahir dari ide yang satu, sebabnya adalah peperangan salib. Semuanya dipenuhi oleh kedengkian pada kaum muslim, karena ketidaktahuan yang menyeluruh akan agama mereka. Kadang lagu-lagu tersebut memunculkan cerita-cerita dalam akal kami yang sebenarnya bertentangan dengan agama dan meneguhkan kesalahan dalam benak kami. Sebagian kesalahan tersebut masih tertanam kuat hingga hari ini. Setiap penyanyi menganggap kaum muslim sebagai kaum musyrik (politeis) yang tidak beriman dan penyembah patung.”

Ini merupakan contoh dari ribuan contoh lain yang menjelaskan betapa dengki dan bencinya orang Barat dan peneliti sejarah kepada Islam dan umatnya. Apakah kita rela mengambil sejarah kita dari cerita-cerita yang mereka karang? Oleh karena itu, kita tidak boleh merujuk pada buku-buku mereka, sebagaimana ketidakbolehan merujuk pada buku-buku karangan murid-murid mereka seperti Jurji Zaydan dan Phillip Hute.

2. Tidak boleh meneliti penerapan Islam dari buku-buku para sejarawan muslim kecuali setelah diteliti dan diperiksa secukupnya. Hal ini tiada lain karena sebagian besar mereka ada yang mencela dan ada pula yang memuji. Jarang di antara mereka ada penulis yang benar-benar bersih, yang menulis sejarah seobjektif mungkin. Yang menunjukkan akan hal itu adalah sejarah Daulah Islam pada masa Bani Umayah yang ditulis dengan satu versi sebelum keruntuhannya, kemudian berubah seluruhnya setelah berkuasanya Bani Abbasiyah. Demikian pula sejarah keluarga Ali di Mesir yang hingga  tahun 1952 M, buku-buku sejarah di sana senantiasa menggambarkan keluarga alawiyah ini dalam bentuk yang paling indah, dan bentuknya kemudian berbalik menjadi gambaran yang paling hitam hanya karena hilangnya kekuasaan dari keluarga tersebut dan ditulis oleh tangan sejarawan sendiri. Hal yang sama tampak pada buku-buku sejarah tentang Abdul Nashr sebelum wafatnya, tentang Anwar Sadat sebelum pembunuhannya, bila dibandingkan dengan apa yang ditulis setelahnya. Oleh karena itu, harus diteliti terlebih dahulu dan dipastikan kebenarannya sebelum menerima sejarah yang menceritakan berbagai peristiwa.

3. Qiyas Syumuliy (analogi generalisasi) dalam penelitian ini harus dijauhi. Tidak boleh mengambil gambaran tentang Daulah Islam hanya dari corak pemerintahan masa Umar atau Mu’tashim saja. Tidak boleh pula mengambil gambaran Daulah Islam pada masa Bani Umayyah dari tulisan tentang Umar bin Abdul Aziz atau Yazid bin Muawiyah saja. Sebagaimana juga tidak boleh mengambil  gambaran Daulah Islam dari  buku-buku seni dan sastra yang menjelaskan satu segi saja, seperti buku Al-Aghaniy karangan Al-Ashfahani yang khusus dikarang untuk  memberitahukan tentang para pelawak dan orang-orang fasik, dan juga tidak boleh mengambilnya dari buku-buku orang zuhud dan para sufi. Bila hal itu dilakukan, akibatnya akan memberikan gambaran yang salah dari apa yang sebenarnya terjadi sehingga realitasnya sekali waktu menjad masa zuhud, pada lain waktu menjadi masa fasik, yang ketiganya masa jihad, dan sebagainya.

Ketahuilah bahwa contoh gambaran ini tidak tersedia (ada), karena tulisan sejarah yang ada hingga sekarang hanya terbatas pada informasi tentang penguasa yang menonjol saja, dan jarang kita temukan orang yang melakukan penulisan sejarah hingga aspek-aspek masyarakat yang lain seperti ekonomi, pergaulan sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Sebagian besar buku tersebut tidak dapat dipercaya sehingga ucapan para penulisnya tidak perlu diperhitungkan.

Sumber-sumber yang dikenal hingga sekarang ada tiga:

1. Buku-buku sejarah.

2. Atsar (Monumen Sejarah).

3. Riwayat. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 3/3

Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)

Share

One thought on “[Ath-Thariq] Sejarah dan Penerapan Islam (Bagian 2/3)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *