Anakku, Merdekakanlah Dirimu

Anakku, Merdekakanlah Dirimu

Penulis: Arini Retnaningsih

Muslimah News, KELUARGA — Sore itu, kami sedang duduk-duduk di teras. Kakak bercerita bahwa temen-temannya saat ini keranjingan K-Pop. Adiknya menimpali, penggemar lagu Barat masih lebih banyak. Film Barat juga masih paling ramai di bioskop. Kakak mengiyakan, lantas bercerita bahwa teman-temannya berburu jaket pemusik Barat yang sedang viral. Sang adik bercerita tentang teman-temannya yang lagi tren mengikuti potongan rambut dan gaya pakaian artis tertentu. Tiba-tiba, si Bungsu yang masih berusia 9 tahun saat itu, menyeletuk, “Itu namanya kita masih dijajah.”

Kakak-kakaknya sontak tertawa sambil terheran-heran karena adik kecil kami bisa menganalisis situasi. Ayahnya mengacungkan jempol dan berkata, “Adik benar sekali.”

Merdeka sering dipahami sekadar bebas dari pendudukan negara lain. Indonesia dikatakan telah merdeka sejak 1945. Namun, menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Mafaahim Siyaasiyah, penjajahan sesungguhnya tidak akan benar-benar berakhir. Kapitalisme akan selalu berupaya menyebarkan paham dan mempertahankan pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia. Metodenya (thariiqah), menurut Nabhani, melalui penjajahan (isti’maar). Penjajahan adalah penguasaan (pengendalian) dan dominansi di bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, dan hankam.

Kondisi inilah yang mengancam kelangsungan hidup suatu bangsa. Apalagi bila penjajahan pemikiran yang dilakukan Barat berhasil menguasai cara pandang dan cara pikir generasi muda. Tentu akan sangat mudah bagi mereka menguasai semua bidang kehidupan suatu bangsa tanpa perlu melakukan pendudukan fisik.

Kemerdekaan Hakiki

Mencermati kondisi umat Islam umumnya dan bangsa Indonesia khususnya, terlihat bahwa kita masih terbelenggu oleh penjajahan. Sistem ekonomi yang kita gunakan adalah sistem ekonomi kapitalisme yang kita adopsi dari Barat. Sistem ini memaksa kita tunduk menjadi pasar, pemasok sumber daya alam, dan penyedia pekerja bagi negara-negara kaya.

Dalam politik, kita pun masih terbelenggu dengan kepentingan asing. Memang para pemimpin kita terpilih melalui mekanisme Pemilu. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa ada kepentingan para pemilik modal dan negara besar di belakang mereka.

Yang paling mengerikan adalah penjajahan di bidang pemikiran dan tsaqaafah. Kurikulum yang kita gunakan mengadopsi pemikiran Barat. Begitu pula dasar dari tsaqaafah yang diajarkan dan disebarluaskan di tengah umat berasal dari pemikiran sekularisme, liberalisme, dan materialisme.

Sistem rusak inilah yang menguasai kita, serta mengarahkan pemikiran, perasaan, dan kecenderungan-kecenderungan tingkah laku kita sehingga tanpa sadar kita sebenarnya tengah dijajah. Sebagai seorang muslim, semestinya yang menjadi standar dan arah kita adalah akidah Islam.

Dalam Islam, merdeka adalah terbebas dari segala bentuk penghambaan terhadap makhluk menuju penghambaan totalitas hanya kepada Allah Taala. Seorang hamba yang tidak tunduk kepada siapa pun, tidak mengambil standar dari siapa pun, tidak berhukum dengan hukum siapa pun, kecuali hukum Allah semata, berarti ia telah memerdekakan dirinya dengan kemerdekaan yang hakiki.

Lantas, bagaimana kita memahamkan makna kemerdekaan hakiki ini kepada anak-anak kita agar mereka terbebas dari penghambaan kepada selain Allah?

Akidah Islam

Untuk membentuk standar yang sahih dalam berpikir dan bersikap, sedari dini anak harus ditanamkan akidah Islam. Keyakinan bahwa Allah adalah Sang Khalik dapat dibentuk dengan mengajak anak memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi, di langit, dan di dalam tubuhya sendiri. Misalnya, cara tubuhnya menjalankan proses metabolisme tanpa ia harus mengendalikannya. Bahkan ia tidak mampu mengendalikannya.

Ketika anak menyadari posisi Allah sebagai Pencipta, ia akan lebih mudah diarahkan untuk tunduk pada aturan-aturan-Nya dalam Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ. Bila sudah sampai pada tahap keyakinan terhadap Al-Qur’an, akan mudah memahamkan anak terhadap cabang keyakinan lain, seperti iman pada hari akhir, qada dan kadar (qadha wal qadar), dan semua cabang dari keyakinan ini.

Dengan iman yang didapat dari proses berpikir, anak akan paham bahwa ia hanya boleh memakai standar dari apa yang Allah tetapkan dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Ia sadar bahwa hal ini adalah konsekuensi dari kedudukannya sebagai seorang hamba.

Dalam proses ini, kita perlu membiasakan anak untuk mengikatkan diri dengan hukum syariat. Misalnya, untuk menyuruh anak salat. Alih-alih mengatakan kalau tidak salat berdosa, kita jelaskan saja bahwa salat itu perintah Allah. Salat adalah jalan yang Allah berikan agar kita bisa mendapat kasih sayang dan pahala yang besar dari Allah Taala.

Begitu pula bila anak melanggar syariat, misalnya berbohong. Alih-alih mengatakan, “Bunda tidak suka kamu berbohong.” Lebih baik kita katakan, “Allah tidak suka hamba-Nya berbohong. Ia melarang kita berbohong, kecuali dalam tiga hal, yakni siasat perang, mendamaikan dua saudara muslim yang berselisih, dan kebohongan suami-istri (untuk mengharmoniskan rumah tangga).”

Dengan ucapan-ucapan semacam ini, anak terbiasa bahwa yang ia jalankan adalah perintah Allah, bukan perintah orang tua semata. Begitu pun ketika orang tua melakukan perbuatan tertentu, perlu dijelaskan bahwa Allah telah memerintahkannya, atau mencintainya, atau menginginkan mendapat rida Allah semata dalam melakukannya. Ketika meninggalkan suatu keburukan, orang tua menjelaskan bahwa perbuatan tersebut dilarang atau tidak disukai Allah Taala.

Dengan pembiasaan semacam ini, anak akan lebih mudah memahami standar beramal.  Begitu pun ketika memuji anak, kita tidak menggunakan kata-kata, seperti kamu baik, kamu pintar, kamu saleh, Ayah-Bunda sayang, dan sejenisnya yang akan mengarahkan anak pada kecenderungan ria terhadap manusia. Sampaikan bahwa Allah suka, Allah sayang, Allah akan berikan pahala terbaik, Allah akan ganti dengan yang lebih baik, dan sebagainya untuk mengarahkan anak pada niat yang lurus.

Membentuk Maklumat Sahih tentang Kemerdekaan

Merdeka berarti bebas mengekspresikan ketundukan kepada Allah semata. Ia tidak tunduk pada keinginan orang lain, tidak tunduk pada norma dan aturan yang lain, dan tidak tunduk pada tren atau gaya hidup tertentu yang viral, selama semua itu tidak sesuai rambu-rambu dari Allah Taala.

Pemahaman seperti ini bisa disampaikan melalui cerita, diskusi, atau dialog dengan anak sehingga tidak ada kesan menggurui yang menyebabkan anak menolak. Sebagai contoh, kita bisa menceritakan keberanian dan ketegasan Ruba’i bin Amir.

Menjelang Perang Al-Qadhisiyah, Ruba’i bin Amir dikirim oleh panglima tentara Islam ketika itu, Saad bin Abi Waqqash, untuk menghadap panglima tentara Persia, Rustum. Ketika Ruba’i masuk ke perkemahan Panglima Rustum, ia hanya berpakaian sederhana. Dengan  menunggang kuda pendek dan menyandang senjata serta perisai, ia masuk tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya. Ia tidak peduli dengan kemewahan pakaian dan mahkota Rustum. Tidak peduli dengan permadani dan bantal-bantal bertenun benang emas yang dihamparkan. Ia tidak merasa rendah diri di hadapan semua itu karena ia membawa misi yang lebih mulia, yakni meninggikan kalimat Allah Taala.

Rustum lantas menanyakan hal yang membuat kaum muslim datang ke Persia. Ruba’i menjawab tegas, “Allah Swt. memerintahkan kami untuk memerdekakan manusia dari menghambakan diri kepada  selain Allah dan melepaskan belenggu duniawi menuju dunia bebas, dan dari agama yang sesat menuju keadilan Islam.”

Kisah Ruba’i ini akan membawa pelajaran besar bagi kita dan anak-anak kita bahwa seorang hamba yang merdeka tidak lagi diperhamba keinginan materi dan kedudukan. Ia tidak akan menundukkan dirinya pada orang berharta atau para pembesar negara. Bahkan, ia tidak akan segan berdiri di hadapan mereka untuk menyampaikan nasihat dan kebenaran.

Seorang hamba yang merdeka, tidak akan diperbudak harta, menghabiskan waktu dan tenaga sekadar mencari harta dan menimbunnya. Ia tidak akan diperbudak kedudukan dan jabatan sehingga rela melakukan segala cara untuk meraihnya.

Seorang hamba yang merdeka tidak akan diperhamba hawa nafsunya. Ia tidak akan memilih melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan Allah, seperti pacaran, menikah dengan laki-laki yang berbeda agama, selingkuh, dan sebagainya.

Seorang hamba yang merdeka tidak akan diperhamba aktor idola sehingga memujanya, merindukannya, atau meniru habis-habisan gaya idolanya. Ia pun tidak akan diperhamba tren sehingga harus ikut-ikutan dan terus update penampilan.

Seorang hamba yang merdeka tidak akan diperhamba oleh kriteria bahwa cantik itu putih, berambut indah, bertubuh seksi, dan seterusnya dari kriteria kecantikan ala kapitalisme. Ia kembali pada standar Islam bahwa orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. (Lihat QS Al-Hujurat [49]: 13).

Jika anak telah memiliki maklumat sahih terhadap makna kemerdekaan, ia akan mampu menilai fakta dan menyikapinya dengan tepat sebagaimana yang telah Allah Swt. gariskan untuk dirinya.

Melatih Anak Membaca Fakta secara Kritis

Ketika anak telah memiliki maklumat yang benar tentang kemerdekaan hakiki, orang tua tinggal melatihnya menggunakan maklumat tersebut sebagai standar berpikir, bersikap, dan berperilaku, terutama cara anak menilai fakta yang ia hadapi.

Orang tua harus banyak mengajak anak berdialog dan berdiskusi tentang fakta-fakta di hadapannya. Memunculkan suasana sebagaimana diceritakan dalam pengantar tulisan ini, memungkinkan anak menganalisis fakta sehingga ia bisa mengambil sikap yang tepat.

Fakta bisa kita ambil dari berita-berita di TV, media sosial, YouTube, dan sebagainya.  Tunjukkan fakta-fakta bahwa saat ini kondisi umat Islam berada dalam cengkeraman penjajahan yang tidak terlihat oleh mata umum. Namun, bahaya yang tersembunyi mengancam kebebasan umat dalam menjalankan agamanya secara benar. Fakta juga bisa didapat dengan menganalisis film, musik, game, fashion, dan hal-hal yang menarik bagi anak, tetapi mengandung muatan merusak yang sangat dahsyat bagi pemikiran dan sikapnya.

Inilah beberapa kiat memahamkan anak terhadap penjajahan asing yang membelit umat. Dengan memahaminya, anak akan mampu meraih kemerdekaan hakiki, serta tumbuh menjadi generasi pembebas umat.

Yang penting kita catat, upaya ini membutuhkan kondisi orang tua yang memiliki kesadaran politik tinggi, memahami ideologi Islam dan keunggulannya, serta berkeinginan kuat untuk menerapkannya dalam kehidupan.

Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Sumber: alwaie[dot]net

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *