[Metode Dakwah Al-Qur’an] Metode Dakwah Al-Qur’an Khusus mengenai Akidah atau Perang Pemikiran (Bagian 3/4)

[Metode Dakwah Al-Qur’an] Metode Dakwah Al-Qur’an Khusus mengenai Akidah atau Perang Pemikiran (Bagian 3/4)

Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.

Sambungan dari Bagian 2/4

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Dalam surah Al-Muddatstsir, Allah mengancam tokoh Makkah dan pemuka Banî Makhzûm, Al-Walîd bin al-Mughîrah hingga firman-Nya,

ذَرْنِيْ وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيْدًاۙ

وَّجَعَلْتُ لَهٗ مَالًا مَّمْدُوْدًاۙ

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak.” (QS Al-Muddatstsir [74]: 11—12).

سَاُصْلِيْهِ سَقَرَ

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سَقَرُۗ

“Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?” (QS Al-Mudatstsir [74]: 26—27).

Betapa halusnya pernyataan yang digunakan untuk mengakhiri dalam surah yang sama,

فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِيْنَۙ

كَاَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنْفِرَةٌۙ

فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍۗ

“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.” (QS Al-Muddatstsir [74]: 49—51).

Dapat kami kemukakan bahwa tidak ada satu pun surat Makkiah kecuali di dalamnya terdapat proporsi yang cukup berupa serangan, tekanan, ancaman, menarik perhatian, ataupun kecaman kepada bangsa Arab, sebagaimana yang terdapat dalam surah Al-Mursalât, setelah diskusi yang panjang dan kecaman pedas, seraya menyatakan, َ

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ ارْكَعُوْا لَا يَرْكَعُوْنَ

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ 

“Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Rukuklah,” niscaya mereka tidak mau rukuk. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Maka kepada perkataan apakah selain al-Qur’an ini mereka akan beriman?” (QS Al-Mursalât [77]: 46—50).

Allah Swt. juga berfirman,

لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ

اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS Quraisy [106]: 1—2).

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِۗ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” (QS Al-Fîl [105]: 1).

Dalam surah Al-An’âm, Dia berfirman,

وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتٰبًا فِيْ قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوْهُ بِاَيْدِيْهِمْ لَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

وَقَالُوْا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ ۗوَلَوْ اَنْزَلْنَا مَلَكًا لَّقُضِيَ الْاَمْرُ ثُمَّ لَا يُنْظَرُوْنَ

وَلَوْ جَعَلْنٰهُ مَلَكًا لَّجَعَلْنٰهُ رَجُلًا وَّلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَّا يَلْبِسُوْنَ

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِيْنَ سَخِرُوْا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ ࣖ

“Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” Dan mereka berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?’ dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.” (QS Al-An’âm [6]: 7—10).

وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ اِنَّمَا يُعَلِّمُهٗ بَشَرٌۗ لِسَانُ الَّذِيْ يُلْحِدُوْنَ اِلَيْهِ اَعْجَمِيٌّ وَّهٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِيْنٌ

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS An-Nahl [16]: 103).

وَكَذَّبَ بِهٖ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّۗ قُلْ لَّسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيْلٍ

“Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah, ‘Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu.'” (QS Al-An’âm [6]: 66).

سَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا لَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَآ اَشْرَكْنَا وَلَآ اٰبَاۤؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتّٰى ذَاقُوْا بَأْسَنَاۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوْهُ لَنَاۗ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَخْرُصُوْنَ

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.’ Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?’ Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.” (QS Al-An’am [6]: 148). [MNews/Rgl]

Sumber: Hafidz Shaleh, M.A., Metode Dakwah Al-Qur’an

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *