Wabah Stres Menjangkiti Masyarakat, Akibat Jadikan Kapitalisme sebagai Habitat

Wabah Stres Menjangkiti Masyarakat, Akibat Jadikan Kapitalisme sebagai Habitat

Penulis: Novita Sari Gunawan

Muslimah News, OPINI — Menarik untuk ditelisik. Di tengah ingar bingar pembangunan infrastruktur di Indonesia, saat masifnya investasi dan peresmian berbagai proyek yang telah dibangun, seperti jalan tol, bandara, pelabuhan, MRT, kereta cepat, stadion olahraga, sirkuit balapan, dan sebagainya, ada kenyataan pahit yang tidak bisa ditolak. Jakarta sebagai representasi ibu kota negara justru terkategori sebagai kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia.

Sebagaimana dilansir dari The Least and Most Stressful Cities Index 2021 yang rilis bulan ini, Jakarta menjadi salah satu kota dengan tingkat stres yang cukup tinggi. Jakarta sebagai ibu kota Indonesia dikenal sebagai salah satu kota yang padat penduduk. Berdasarkan data BPS, Jakarta memiliki 10.562.088 penduduk di tahun 2020.

Fakta tersebut diungkapkan oleh salah satu produsen minyak esensial dan suplemen CBD asal Berlin, Jerman bernama Vaay. Dalam laporan terbaru mereka, Vaay memasukkan Jakarta di urutan ke-92 dalam indeks The Least and Most Stressful Cities Index 2021 tersebut. Dengan skor akhir 41,8, Jakarta berhasil masuk dalam jajaran 10 besar dari 100 kota di dunia yang paling bikin stres. (www.cnnindonesia.com)

Hal ini tentu tidak mengherankan. Apalagi dengan segala fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan, banyak orang yang ‘melirik’ Jakarta sebagai tempat mengadu nasib untuk meraih kesejahteraan hidup yang lebih baik. Namun, di sisi lain ternyata Jakarta menjadi salah satu kota di dunia yang paling membuat stres di tahun 2021.

Tidak Berkorelasi

Terlepas dari dugaan dan opini bahwa dikemukakannya data ini sebagai bagian dari propaganda untuk menguatkan legitimasi publik dalam menyetujui proyek IKN, hal yang perlu ditekankan di sini ialah apabila kita melihat dari sudut pandang korelasi antara hingar-bingarnya proyek pembangunan infrastruktur dengan tingkat kebahagiaan warga maka tampak jauh panggang dari api. Pendek kata, pembangunan infrastruktur yang belum tentu membawa kesejahteraan bagi rakyat ini tidak membuat rakyat lebih bahagia.

Hal ini pun tidak lepas dari adanya kesenjangan ekonomi dalam sistem kapitalisme yang sedang diadopsi negeri ini. Pada akhirnya, mayoritas masyarakat yang hidup dalam kemiskinan mengalami stres dan tidak bahagia akibat tidak terpenuhinya kebutuhan asasi dan tidak bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Namun, realitas sebagian masyarakat yang kaya pun tidak menjamin hartanya akan membuat mereka bahagia. Dari sini bisa dipahami bahwa sejatinya kekayaan atau harta tidak berkorelasi dan bukanlah menjadi sebuah indikator kebahagiaan.

Standar Kebahagiaan

Realitas seseorang atau masyarakat mengalami kebahagiaan sangat dipengaruhi oleh dimensi bagaimana individu atau masyarakat itu telah memahami makna kehidupan. Faktor penentunya di antaranya ialah terkait mindset atau pemikiran dasar tentang standar kebahagiaan yang dimiliki individu, bagaimana terbentuknya pola pikir dalam lingkungan sosialnya serta bagaimana periayahan negara terhadap mereka.

Mari kita telaah apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidup manusia? Menurut standar Islam, Al-Qur’an telah menjawab pertanyaan terbesar manusia ini dengan jelas dan lugas bahwa hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah (QS adz-Dzariyat: 56) maka setiap perbuatan manusia akan selalu mengacu kepada syariat Islam sebagai manifestasi ibadah mereka.

Sayangnya dalam kapitalisme, tidak ada panduan yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jika melihat pada fenomena setiap manusia yang dibentuk oleh peradaban kapitalisme ini maka dapat terlihat bahwa faktor kebahagiaanlah yang menjadi tujuan. Bahkan, hidup manusia memang diarahkan untuk mengejar satu-satunya tujuan itu yakni kebahagiaan.

Namun, tidak dapat dipungkiri, kapitalisme menyulitkan kita untuk merumuskan makna kebahagiaan itu. Jika standar bahagia seorang muslim adalah mendapatkan rida Allah (QS at-Taubah: 72) maka lain halnya dengan kapitalisme yang menjadikan aspek materi sebagai standar atas kebahagiaan. Seperti halnya bahagia karena memiliki banyak uang, kemudian mampu untuk makan enak, memiliki rumah megah, kendaraan mewah, dan lainnya.

Aspek inilah yang dieksploitasi oleh kapitalisme bahwa hidup itu memang bertujuan untuk bahagia. Penekanannya di sini, kebahagiaan itu juga standarnya tidak cukup dari sisi terpenuhinya kebutuhan melainkan yang utama, kebahagiaan adalah ketika manusia dapat mencapai apa yang menjadi keinginannya.

Namun, bukan berarti Islam tidak mengenal atau melarang umatnya meraih kebahagiaan dari aspek material atau duniawi. Hal tersebut boleh, tetapi bukanlah menjadi tujuan, melainkan sebagai sarana dalam mendekatkan diri dengan Allah Swt. Islam sebagai umat terbaik juga mendukung agar umatnya meraih fasilitas dan sarana terbaik dalam kehidupan dunia.

Hanya saja perbedaan yang jelas antara Islam dengan ideologi yang lainnya yaitu bahwa Islam memperhatikan bagaimana cara seseorang dalam meraih kebahagiaan dunia tersebut. Tidak boleh keluar dari koridor hukum syarak sehingga akan terlaksana bagi kaum muslim, cita-citanya dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Keinginan Tidak Terbatas

Kita tidak boleh lupa bahwa kebutuhan itu terbatas sedangkan keinginan manusia tidak terbatas. Kebutuhan jasadiah (needs/hajatul ‘udhowiyah) adalah sesuatu yang harus dipenuhi manusia. Jika tidak dipenuhi maka akan menyebabkan kerusakan pada fisik manusia.

Contohnya adalah kebutuhan atas makan, minum, tempat tinggal, sekresi, serta istirahat. Kebutuhan ini dipicu dari dalam tubuh manusia itu sendiri, bukan dari luar. Itulah mengapa, kebutuhan jasadiah adalah sesuatu yang mutlak ada dan tidak bisa dikontrol oleh manusia.

Berbeda dengan kebutuhan jasadiah tadi, keinginan naluriah (wants/gharizah) adalah sesuatu yang jika tidak dipenuhi maka hanya akan menyebabkan rasa gelisah. Keinginan muncul akibat adanya rangsangan dari luar sehingga pada dasarnya keinginan adalah sesuatu yang bisa dikendalikan oleh manusia.

Akibat Salah Habitat

Ibarat ikan yang menggelepar di darat, itulah yang terjadi dalam fenomena ini. Masyarakat hidup di habitat yang salah sehingga wajar jika hidup dalam habitat kapitalisme ini meniscayakan munculnya wabah stres dan ketidakbahagiaan dalam menjalani kehidupan. Sebab, manusia sibuk mengejar keinginan yang tidak ada habisnya. Ketika segala keinginan tidak terwujud maka akan timbul stres dan tidak bahagia karena merasa tidak puas terhadap hidupnya.

Di samping itu, habitat kapitalisme yang menihilkan peran negara sebagai periayah dan pelayan bagi rakyatnya juga menjadi faktor utama penentu terbentuknya frustasi sosial ini. Sebab, jangankan meraih keinginan tadi, masih banyak dari masyarakat yang hidup dalam kemiskinan justru tidak dapat memenuhi kebutuhannya karena kebijakan negara selama ini yang tidak berpihak pada rakyat, melainkan pada para kapitalis.

Oleh karena itu, jika tidak ingin berlama-lama lagi hidup dalam wabah ini maka saatnya mengganti habitat yang salah ini dengan habitat Islam, di mana seluruh aspek kehidupan akan diatur oleh Islam, agama dan ideologi satu-satunya yang berasal dari Allah Swt. sebagai pencipta alam semesta. Sebab, Allah Swt. yang paling mengetahui sistem seperti apa yang dibutuhkan oleh manusia yang telah diciptakannya. Wallahualam. [MNews/Has]

Share

One thought on “Wabah Stres Menjangkiti Masyarakat, Akibat Jadikan Kapitalisme sebagai Habitat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *