[Tapak Tilas] Mali, Pusat Penyebaran Islam di Afrika

[Tapak Tilas] Mali, Pusat Penyebaran Islam di Afrika

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

Muslimah News, TAPAK TILAS—Tidak banyak yang tahu, belasan abad lalu Mali pernah berperan penting sebagai pusat penyebaran agama Islam di Afrika. Selain menjadi pusat perdagangan dan pendidikan, kawasan ini pun merupakan pusat keamiran bagi Khilafah yang wilayah kekuasaannya sangat luas.

Salah satu kota yang ada sana, yakni Timbuktu, bahkan ditetapkan UNESCO sebagai kota warisan dunia. Di tempat ini banyak terdapat situs-situs sejarah Islam yang sangat penting. Di antaranya, Universitas Timbuktu (Sankore) yang sangat terkenal di masanya. Ada pula Masjid Djinguereber yang terbuat dari lumpur dan kini menjadi maskot bagi negara Mali.

Negeri Mali sendiri berada di kawasan Afrika Barat. Posisinya sangat strategis. Selain dekat dengan Sungai Niger, juga berbatasan dengan Gurun Sahara dan Pantai Gading bagian selatan.

Timbuktu (Sumber: National Geographic)

Itulah kenapa, sejak lama kawasan ini dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan yang sangat ramai. Kota Timbuktu, bahkan menjadi tempat transit penting para pedagang dan karavan trans-Sahara.

Komoditas unggulan dari kawasan Mali ini adalah emas, gading, dan garam. Maklum, wilayah keamiran Mali menguasai tempat-tempat yang kaya kedua sumber daya alam ini.

Di Bawah Kekuasaan Islam

Islam merambah ke Afrika dimulai sejak awal perkembangan Islam. Wilayah ini dibuka oleh Khilafah Bani Umayyah pada abad ke-7 Masehi. Banyak di antara raja-raja di Afrika yang akhirnya menerima Islam. Lalu kekuasaan politiknya pun berubah menjadi keamiran (setingkat provinsi) bagi kekhilafahan Islam.

Ada beberapa dinasti keamiran yang terkenal di Afrika, khususnya di Afrika Barat. Antara lain Keamiran Ghana (830-1235 M) yang wilayahnya meliputi Mali bagian barat dan Mauritania. Pada masa ini Islam berkembang pesat dan masyarakatnya pun terbilang berkemajuan.

Ada juga Dinasti Za yang berubah menjadi kekuasaan Islam pada 1009-1010 M. Kekuasaan dinasti ini berpusat di Kota Kukiya dan Gao di Sungai Niger yang sekarang dikenal sebagai Mali modern. Pada abad ke-13, wilayah ini bergabung dengan keamiran Mali.

Mansa Musa, kanan bawah, pada The Catalan Atlas (1375) (Sumber: Ft)

Keamiran Mali awalnya merupakan sebuah kerajaan yang didirikan oleh Raja Sunjiata Keita pada 1235 M. Saat Rajanya dipimpin oleh Mansa Musa I alias Musa Keita I (lahir 1280, wafat 1337), ia menerima Islam dengan sukarela maka sejak itu wilayah kekuasaannya berubah menjadi keamiran bagi Khilafah Islam.

Pada kepemimpinan Mansa Musa I ini, wilayah Mali mengalami kemajuan luar biasa. Rute perdagangan kuno makin teratur hingga membentang dari Maroko ke Sungai Niger. Perdagangan emas dan garam trans-Sahara pun meningkat tajam, bahkan memicu berkembangnya pusat-pusat kota yang lebih besar.

Situasi inilah yang membuat kawasan Mali, termasuk Timbuktu dan emirat yang menguasainya menjadi wilayah yang kaya raya. Namun, kondisi ini pula yang kelak justru memicu konflik teritorial demi memperoleh kendali atas rute perdagangan komersial dan penguasaan akan sumber-sumber emas.

Seberapa Kaya?

Emirat Mali berkuasa antara tahun 1235 – 1610 M. Para sejarawan mengakui, kawasan ini dikenal sangat kaya. Konon pada masa kejayaannya, para penguasa Mali dikenal sebagai penguasa yang paling mulia dan paling kaya dibanding para penguasa lainnya.

Kisah Mansa Musa bahkan sangat terkenal di seantero dunia hingga saat ini. Sampai-sampai kisahnya yang sangat menakjubkan pernah dimuat dalam majalah-majalah terkenal dunia. Ia benar-benar menjadi simbol kekayaan emas Afrika yang tidak terkira. Kekayaannya tidak ada yang menyaingi sepanjang masa.

Mansa Musa I berkuasa sejak tahun 1312 hingga 1337 M. Ia dikenal dengan nama “Amir Melle”, “Penguasa Tambang-Tambang Wangara”, dan “Penakluk Ghanata”. Konon pada masanya, keamiran Mali menjadi produsen emas terbesar di dunia.

Ia juga dikenal sebagai sang penakluk. Sekitar 24 kota besar di Afrika berhasil tunduk di bawah kekuasaannya. Di antara kota-kota itu kini meliputi wilayah Mali sendiri, Mauritania, Senegal, Gambia, Guinea, Burkina Faso, Niger, Nigeria, dan Chad.

Untuk menggambarkan kekayaannya, kita bisa menyimak kisah perjalanan haji Mansa Musa I pada 1324 M. Disebutkan, saat itu ia membawa rombongan super besar (konon berjumlah 60.000 orang) beserta berpeti-peti emas yang dibawa oleh sekira 12.000 orang budak.

Mansa Musa berkelana ke Makkah dengan rombongan berisi 60.000 orang dan 12.000 budak. (Sumber: BBC)

Ia dikenal sangat dermawan, hingga sepanjang perjalanan ia terus membagi-bagi emasnya kepada orang-orang miskin yang ia temui. Namun, tindakannya ini justru merusak ekonomi kota-kota yang dilintasinya. Nilai emas menjadi jatuh dan inflasi pun sangat tinggi dalam jangka waktu lebih dari satu dekade.

Peristiwa ini menjadi catatan sejarah karena hanya seorang Mansa Musa yang bisa mengendalikan harga emas hingga ke kawasan Laut Tengah. Menurut British Museum, pada masa kekuasaannya, keamiran Mali memiliki hampir separuh jumlah emas yang beredar di kawasan Dunia Lama, negeri-negeri di Afrika, Asia dan Eropa.

BBC bahkan pernah merilis artikel berjudul “Siapa Mansa Musa orang terkaya sepanjang masa” (11/03/2019). Senada dengan itu, situs money menyebutkan, Mansa Musa lebih kaya dari apa yang bisa orang bayangkan.

Sayang, saat kepemimpinan Mali digantikan oleh anaknya, kejayaan Mali mulai merosot sejalan dengan memudarnya keterikatan kekuasaan dengan Islam. Kepemimpinan hanya dimaknai sebagai warisan hingga alih-alih diperkuat, malah hancur diperebutkan.

Tidak heran jika sejak saat itu, wilayah Mali mengalami disintegrasi. Beberapa kali Mali mengalami serangan hingga jatuh pada satu kekuasan ke kekuasaan lain di luar Mali.

Kondisi ini tentu membuka jalan bagi pihak-pihak asing untuk melakukan intervensi. Apalagi cerita menakjubkan tentang kekayaan emas di Mali begitu memikat para pemburu emas, terutama dari kalangan bangsa Eropa.

Bukan kebetulan jika saat itu, Eropa terutama Inggris dan Prancis baru saja keluar dari era kejumudannya. Revolusi Inggris dan Prancis menjadi starting point bagi masuknya dunia pada era penjajahan dengan spirit menguasai emas.

Mutiara yang Hilang

Sejak saat itu, redupnya kekuasaan Islam di Mali terus terjadi tanpa bisa dibendung lagi. Melalui proses yang sangat panjang, pada tahun 1894, akhirnya Prancis berhasil menginvasi dan menjajah Mali. Di bawah kekuasaan penjajah ini pun, kekayaan Mali benar-benar dieksploitasi hingga negeri yang super kaya berubah menjadi negeri yang sangat miskin.

Mali baru ‘merdeka’ dari Prancis pada tahun 1960 M. Namun, tidak ada kekayaan yang tersisa di Mali kecuali hanya cerita sejarah kejayaan masa lalu saja. Sisa-sisa penjajahan begitu kuat sehingga menjadi penghalang tersendiri bagi Mali untuk meraih kebangkitan kembali.

Pada 2012, geliat Islam pernah terdengar di Mali. Salah satu kelompok militan Islam sempat berkuasa dan menerapkan Islam dalam perundang-undangan. Namun, perjuangan yang tidak berbasis kesadaran dan dukungan umat tersebut terbukti tidak berumur panjang. Pada tahun berikutnya, dengan mudah kekuasaan itu ditumbangkan.

Bahkan, itu semua menjadi jalan bagi Barat melancarkan fitnah dan propaganda. Penerapan Islam justru digambarkan sebagai biang keburukan dan keterbelakangan.

Semua ini semestinya menjadi pelajaran berharga bahwa membangun kesadaran umat akan kewajiban dan urgensi penerapan Islam kafah harus menjadi agenda utama. Hingga umat paham bahwa kembalinya kemuliaan mereka memang hanya bisa dengan Islam. Begitupun hidup mati mereka selayaknya hanya diserahkan untuk perjuangan di jalan Islam. Wallahualam. [MNews/Has]

Sumber foto: BBC

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *