Kecil-Kecil Berani Bunuh Diri, Ada Apa Ini?

Kecil-Kecil Berani Bunuh Diri, Ada Apa Ini?

Penulis: Asy-Syifa Ummu Shiddiq

Muslimah News, OPINI — Kasus bunuh diri pada anak tidak bisa dianggap remeh. Setiap elemen perlu memberikan perhatian khusus pada masalah ini. Pasalnya, mereka—yang dianggap masih kecil—adalah calon pemimpin bangsa. Kalau fenomena seperti ini menggejala, apa yang dapat diharapkan?

Peristiwa bunuh diri seorang anak SD kelas 5 di Pekalongan menarik perhatian. Menurut penuturan sang ibu, si anak diminta makan siang dan berhenti bermain HP. Sayangnya, bukannya menurut, ia malah pergi ke kamar dan menguncinya. Setelah itu, terjadilah peristiwa nahas tersebut. Guru di sekolah tempatnya belajar pun memberikan tanggapan, bahwa si anak tidak terlihat memiliki masalah. Ia masih ceria seperti biasanya.

Peristiwa memilukan seperti ini ternyata bukan hanya sekali. Deputi bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mencatat pada 2023 ini sudah ada 20 kasus serupa. Alasannya beragam, mulai dari perundungan, percintaan, hingga masalah dengan orang terdekat (keluarga).

Akan tetapi, faktor terbesar pendorong semua kasus bunuh diri adalah depresi, gangguan kejiwaan yang muncul akibat adanya tekanan. Ketidakmampuan seseorang menghadapi tekanan tersebut—berasal dari mana saja—membuat akalnya tidak mampu berpikir jernih. Mereka berani melakukan tindakan di luar nalar yang dianggap dapat mengurangi depresi, seperti melukai dirinya sendiri atau bahkan bunuh diri.

Anak-anak merupakan fase penting dalam pertumbuhan. Hal-hal yang ia konsumsi selama fase ini akan memengaruhi segala keputusannya. Oleh karenanya, peristiwa memilukan ini harusnya menjadi tamparan keras bagi semua pihak.

Di rumah, , orang tua perlu menyadari bahayanya membiarkan anak kecanduan gawai. Ketika penggunaannya tidak terkontrol, anak tentu akan bebas menjelajahi segala informasi, apalagi saat ini banyak sekali gim tidak mendidik yang dapat memengaruhi pola pikir anak.

Selain gawai, lingkungan juga memiliki pengaruh besar. Semua pihak perlu mengetahui kondisi anak ketika bergaul di sekolah atau luar sekolah, siapa saja temannya, apa saja circle-nya, dan sebagainya. Sedangkan negara, seyogianya wajib mengusut detail penyebab maraknya bunuh diri pada anak. Semua ini dilakukan agar ada solusi tepat dan kejadian serupa tidak terulang.

Salah Kelola

Kejadian bunuh diri yang banyak, ternyata tidak hanya pada anak-anak. Beberapa waktu lalu, peristiwa yang sama juga menimpa kalangan mahasiswa. Ini menunjukkan ada sesuatu yang salah, bisa pada lingkungan keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Apabila kita mau merenung lebih dalam, semua ini akibat pola pikir dan hidup yang mengikuti Barat. Fungsi negara yang semestinya berperan sebagai tameng pertama pemikiran dan budaya Barat agar tidak masuk, ternyata tidak berjalan. Parahnya, negara malah menjadi pionir dalam menerapkan sistem kehidupan Barat (kapitalisme).

Negara juga menerapkan sistem demokrasi liberalisme yang mengafirmasi segala kebebasan, mulai dari kepemilikan, beragama, berpendapat, hingga bertingkah laku. Kebebasan inilah yang memengaruhi pola pikir dan sikap generasi saat ini.

Tidak sampai di situ, sistem pendidikan yang berlandaskan sekularisme juga ikut mewarnai pembentukan kepribadian generasi. Mereka menjadi generasi yang jauh dari agama. Akibatnya, mereka menilai bahwa kebahagiaan itu hanya bicara masalah kesenangan dunia, seperti gawai, uang, makan-makan, musik, percintaan, ingin serba instan, dan lain-lain.

Semua itu membuat mereka manja, terlena, menjadi generasi stroberi yang bagus di luar, tetapi lembek di dalam. Apabila keinginannya tidak terpenuhi, dunia sudah terasa runtuh. Pemikiran yang pendek inilah yang membuat mereka mencari jalan keluar yang salah, ujung-ujungnya memutuskan untuk bunuh diri.

Sedangkan keluarga sendiri kehilangan fungsinya. Ayah dan ibu tidak mampu memberikan pemahaman yang benar kepada anaknya karena mereka sendiri juga sibuk bekerja. Masyarakat dengan berbagai masalahnya juga tidak menjalankan peran menjaga generasi, yakni dengan membiarkan kemaksiatan di sekelilingnya. Hasilnya, generasi terdidik dengan kondisi salah dan berakhir pada penyelesaian yang salah pula.

Perhatian Islam

Islam sejatinya memberi perhatian besar pada generasi. Negara yang mengambil Islam sebagai landasan akan mengutamakan pembentukan generasi yang berkepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir Islam dan pola sikap Islam. Dengan begitu mereka akan menjadi pribadi yang kuat dan tidak gampang depresi.

Sistem pendidikan Islam diterapkan mulai dari tingkat dasar hingga tinggi. Sekolah dasar akan menanamkan akidah Islam dan segala pemahaman Islam lainnya yang dapat menjadikan mereka punya pola pikir dan pola sikap islami. Saat pendidikan tinggi, mereka baru bisa diajarkan tsaqafah asing agar tahu mana yang benar dan salah.

Akidah Islam inilah yang akan menjaga kewarasan mental generasi. Mereka akan lebih berpikir realistis, dapat menempatkan mana yang berada di wilayah yang dikuasai manusia dan mana yang tidak. Mereka juga akan paham bahwa kebahagiaan tertinggi adalah meraih rida Allah, bukan sebatas kesenangan dunia. Jika Islam dapat diterapkan secara sempurna, tidak akan ada lagi generasi lembek bermental stroberi, apalagi mudah merasa depresi. Wallahualam. [MNews

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *