Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Daulah Abbasiyah menguasai kekhalifahan Islam pada 132 H yang ditandai dengan pengangkatan khalifah pertama mereka, Abu Abbas Abdullah as-Saffah di Kufah.
Kekhalifahan Bani Abbasiyah berlangsung hingga 656 H yang sekaligus menjadi tahun berakhirnya kekuasaan mereka dengan meninggalnya khalifah terakhir Daulah Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Mu’tashim di tangan Hulagu Khan, salah satu keturunan Jengis Khan, pemimpin Bangsa Tartar sekaligus yang membawa mereka ke Daulah Islam.
Kekhalifahan Bani Abbasiyah Selama Lima Abad
Panji-panji hitam datang dari timur lalu mengantarkan Bani Abbasiyah menduduki takhta kekhalifahan. Daulah Abbasiyah, sebuah negeri yang menjadi kembang timur dan surga dunia. Dari timur bintang kebahagiaan mereka terbit, tetapi dari timur juga Bangsa Tartar datang sebagai bintang nahas bagi Daulah Abbasiyah.
Kekhalifahan Bani abbasiyah mampu bertahan selama 524 tahun dengan jumlah pemimpin sebanyak 37 khalifah. Jika dibagi, rata-rata satu khalifah memerintah selama 14 tahun. Masa kekhalifahan terpanjang mereka adalah 46 tahun, sedangkan yang paling singkat adalah kurang dari satu tahun.
Masa Kejayaan yang Ditopang Kemajuan Ekonomi
Pada satu abad pertama, para khalifah Daulah Abbasiyah benar-benar menjadi khalifah, penguasa, dan pemimpin tertinggi seutuhnya. Mereka memegang kekuasaan dan otoritas tertinggi dan berkuasa penuh atas seluruh dunia Islam, kecuali negeri Andalusia. Mereka benar-benar khalifah secara de jure maupun de facto. Kata-kata mereka didengar dan titah mereka dipatuhi. Tidak ada satu orang pun yang berani menentang dan melawan khalifah, kecuali sebagian kecil kelompok .
Pada masa keemasannya ini, Daulah Abbasiyah dipimpin oleh delapan khalifah, yaitu As-Saffah, Al-Manshur, Al-Mahdi, Harun ar-Rasyid, Al-Amin, Al-Makmun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Periode ini berakhir dengan wafatnya Khalifah Al-Watsiq pada 222 H.
Kemajuan ilmu pengetahuan serta kebangkitan ulama dan intelektual terjadi pada satu abad pertama Daulah Abbasiyah. Hal ini membuat pusat kekhalifahan menjadi mercusuar peradaban.
Kemajuan sebuah peradaban tidak lengkap apabila tidak ditopang oleh kemajuan sektor ekonomi. Faktor ekonomi merupakan penopang yang dibutuhkan oleh sebuah peradaban untuk bisa berkembang dan maju. Misalnya, gerakan penerjemahan dan penemuan-penemuan para ilmuwan bisa terlaksana karena disokong oleh dana. Oleh karenanya, kemajuan ekonomi Kekhalifahan Bani Abbasiyah menjadi penyokong bagi kemajuan di bidang-bidang lainnya.
Sumber pemasukan baitulmal paling besar dari kharaj, sebagai hasil dari penaklukan yang dilakukan secara masif ke daerah-daerah yang belum menjadi bagian dari Daulah Islam. Di samping itu, pemasukan juga berasal dari jizyah, yaitu pungutan yang dibayarkan oleh kafir zimi sebagai bukti ketundukan mereka terhadap kekuasaan dan hukum Islam. Bertambah banyaknya kaum muslim juga menambah pemasukan dari sisi zakat, baik zakat pertanian, peternakan, maupun perniagaan.
Kemajuan ekonomi yang lain pada masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah adalah berdirinya beberapa industri. Produk industri ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sisanya diekspor keluar negeri.
Beberapa industri pada masa Daulah Abbasiyah, di antaranya industri kain linen di Mesir, industri kertas di Samarkand, industri pertanian gandum di Mesir, dan kurma di Irak. Hasil industri ini menambah pemasukan negara dan rakyat. Kemajuan ekonomi ini berdampak pada kesejahteraan masyarakat Daulah Abbasiyah.
Tidak hanya perdagangan komoditas industri, tambang yang dimiliki Khilafah Abbasiyah mampu melambungkan perekonomiannya. Misalnya tambang emas dari Nubia dan Sudan Barat yang merupakan kekayaan milik umat dan dikelola oleh daulah untuk kemaslahatan Islam dan kaum muslim.
Kemajuan peradaban Islam pada masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah ini tidak terlepas dari keimanan dan ketakwaan kaum muslim, baik para penguasa maupun rakyatnya. Al-Qur’an dan Sunah menjadi rujukan dan tuntunan dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa. Rakyat pun menaati penguasanya atas dasar keimanan.
Islam menjadi sudut pandang dan jalan hidup semua elemen kaum muslim, tidak sebatas ibadah ritual. Islam diterapkan secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan. Allah memuliakan mereka di hadapan semua umat di dunia.
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat–ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf: 96). [MNews/Rgl]
Sumber:
Syekh Muhammad Al Khudari, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah, Puncak Keemasan dan Kejayaan Kekhilafahan Islam, Pustaka Al Kautsar
Rizem Aizid, Selayang Pandang Dinasti Abbasiyah, Kelahiran, Kejayaan, Kemunduran, dan Peninggalannya, Diva Press
