Muslimah News, NAFSIYAH — Manusia sering kali beralasan lupa untuk menutupi kesalahan yang dilakukannya. Jika telah mengatakan lupa atas kelalaian yang dilakukan, dianggap hal itu tidak menjadi masalah. Bagaimana “lupa” dalam timbangan syarak?
Firman Allah Taala, “Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” (QS At-Taubah: 67).
Ibnu Nujaim mengatakan bahwa lupa yang dimaksud dalam ayat di atas ialah nisyan. Nisyan yakni tidak mengingat sesuatu pada waktu ia membutuhkannya. Lalu, apa pengaruh lupa pada kehidupan manusia? Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa orang yang lupa berarti telah bebas dari mukallaf (pembebanan syariat) saat ia lupa karena mengerjakan suatu perintah harus didasari ilmu.
Kemudian, jika berkaitan dengan meninggalkan perintah karena lupa, tidaklah gugur perintah tersebut bahkan harus dilakukan ketika ingat. Jika berkaitan dengan melakukan larangan dalam keadaan lupa selama bukan perusakan, tidak dikenakan apa-apa. Jika berkaitan dengan melakukan larangan dalam keadaan lupa dan ada perusakan, tetap ada dhaman (ganti rugi).
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Barangsiapa melakukan suatu yang terlarang karena lupa, maka ia tidak dikatakan melakukan sesuatu yang terlarang.” (Majmu’ah Al-Fatawa, hlm.573).
Berikut ini beberapa bentuk lupa yang sering dilakukan manusia. Pertama, lupa dengan meninggalkan perintah, yakni lupa membaca bismillah pada awal wudu. Abu Hurairah ra. mengatakan, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada salat bagi yang tidak ada wudu. Tidak ada wudu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).
Ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca bismillah pada awal wudu termasuk sunah. Jika lupa membacanya di awal wudu, boleh dibaca kapan pun saat wudu belum selesai. Jika meninggalkan bismillah karena lupa, tetap sah wudunya.
Kedua, lupa mengerjakan salat wajib. Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang lupa salat fardu, wajib meng-qadha. Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian tertidur dari salat atau lupa dari salat, hendaklah ia salat ketika ia ingat. Karena Allah berfirman, ‘Kerjakanlah salat ketika ingat.’” (QS Thaha: 14) (HR Muslim).
Setiap muslim hendaknya mengupayakan agar menjadi manusia yang kuat daya ingatnya. Makin jauh seseorang dari maksiat, makin kuat daya ingatnya. Apalagi ia masih dalam kondisi muda, belum berusia tua. Hal yang aneh, jika sering lupa terjadi pada anak muda.
Janganlah sering melupakan perkara yang diwajibkan Allah Taala kepada kita. Melupakan syariat yang telah dibebankan kepada manusia karena hal itu justru akan mendatangkan murka Allah dan azab-Nya. Semoga kita menjadi muslim yang memiliki daya ingat kuat hingga mampu menunaikan segala perkara hukum syarak. Amin. Wallahu musta’an. [MNews/Rndy-YG]
