Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Antara umat Islam dengan kekaisaran Romawi belum pernah terjadi peperangan pada permulaan pemerintahan Khalifah Abdullah al-Makmun hingga 215 H. Pada tahun tersebut Al-Makmun pergi dari Baghdad untuk memerangi Romawi. Khalifah meminta Ishaq bin Ibrahim bin Musha’ab untuk menggantikan tugas-tugas dan tanggung jawab khalifah untuk sementara waktu.
Khalifah Al-Makmun memimpin langsung pasukannya berangkat melalui Mosul hingga sampai ke Manbaj, lalu Dabiq, Antikia, dan Mashesah. Dari kota ini khalifah bergerak ke Tharasus yang merupakan benteng umat Islam. Dari Tharasus, pasukan khalifah bergerak memasuki wilayah kekuasaan Romawi pada pertengahan bulan Jumadilawal.
Kemenangan Pasukan Muslim
Pasukan kaum muslim berhasil menaklukkan benteng Qurrah setelah melalui pertempuran sengit dan khalifah memerintahkan untuk menghancurkan benteng tersebut. Ketika berhasil menaklukkannya, Khalifah Al-Makmun membeli tawanan seharga 56 ribu dinar kemudian melepaskan mereka tanpa lupa memberi uang dinar untuk masing-masing tawanan yang dibebaskan.
Sebelum penaklukan tersebut, terdapat sebuah benteng bernama Majidah, lalu Al-Makmun memberikan jaminan keamanan dan pengampunan kepada penduduknya. Kemudian Asynas at-Turki dikirimkan ke benteng Sundus, lalu ia membawa pemimpin benteng tersebut menghadap khalifah. Al-Makmun juga mengirimkan Ajif dan Ja’far al-Khayyah untuk menemui wali kota benteng Sinan, lalu ia mendengar dan patuh.
Setelah itu, pasukan Khalifah Al-Makmun bergerak ke Syam. Sampai di sana, khalifah mendapatkan informasi bahwa penguasa Romawi membunuh sejumlah warga Tharasus dan Al-Mashesah hingga jumlahnya mencapai 6.600 orang. Lalu ia pun memutar kembali pasukannya ke wilayah Romawi dan singgah di Thuwanah hingga penduduknya keluar untuk meminta perdamaian.
Ia bergerak menuju Heraclius dan penduduknya pun keluar untuk berdamai. Setelah itu Khalifah Al-Makmun menugaskan saudaranya Ishaq bin Ibrahim untuk menaklukkan 30 benteng. Kemudian khalifah menugaskan Yahya bin Aksam dari Thuwanah untuk menyerang dan mendapatkan ganimah, lalu kembali ke pangkalan militer.
Pasukan Al-Makmun keluar menuju Kaisum, dilanjutkan ke Damaskus. Dari Damaskus ia keluar menuju Mesir pada 16 Zulhijah 216 H. Kemudian kembali ke Damaskus pada 217 H. Al Makmun memasuki wilayah kekaisaran Romawi untuk ketiga kalinya dan menetap di Lu’luah selama seratus hari dan keluar dari kota itu dengan menugaskan Ajif untuk tinggal di sana.
Ketegasan Khalifah Al-Makmun
Penguasa Romawi terus berkorespondensi dengan Khalifah Al-Makmun selama masa kepergiannya ini. Kaisar Romawi mengirim surat kepada khalifah Al-Makmun dan menyatakan, “Sesungguhnya bersatunya dua orang yang berseteru untuk menjaga persatuan itu jauh lebih penting menurutku, yang tentunya jika perseteruan itu tidak dihindari akan membahayakan keduanya. Aku tidak merasa senang jika anda membiarkan keberuntungan jatuh kepada selain anda, yang seharusnya anda kuasai sendiri. Anda mengetahui semua itu. Aku menulis surat kepadamu untuk membahas masalah ini dan ingin segera mencapai gencatan senjata dan menghentikan perang menuju perdamaian di antara kita.”
“Masing-masing pihak memiliki pendukung dan kelompok, di samping berinteraksi dalam bidang perniagaan, persahabatan, dan perekonomian, melepaskan tawanan, mengamankan jalan-jalan, dan merealisasikan perkara-perkara yang tampak mustahil dicapai. Apabila anda menolak, maka tidak ada teman bagimu untuk berbincang-bincang dan tiada kata-kata yang indah lagi bagimu. Ini karena sesungguhnya aku mendorongmu untuk berdamai, menghentikan pergerakan kuda-kudamu dan penunggangnya. Akhirnya, aku meminta maaf dan semoga terdapat jalan yang baik antara aku denganmu.”
Khalifah Al-Makmun menjawab, “Suratmu telah kuterima, mengenai permintaanmu untuk mengadakan gencatan senjata dan meminta dilakukan perjanjian damai. Anda telah mencampurkan keramahan dengan kekerasan melalui ungkapan-ungkapan anda untuk membatalkan perjanjian–perjanjian dagang, berkomunikasi dengan para sahabat, melepaskan tawanan, menghentikan pembunuhan dan peperangan. Kalaulah bukan karena keinginan Anda untuk berdamai dan mengambil keberuntungan dalam mengolah pemikiran, maka aku tidak yakin bahwa pendapatmu mengenai masa depan itu benar, kecuali dengan memperbaiki dampak buruk yang ditimbulkannya.”
“Jika tidak, maka jawaban dari suratmu adalah dengan mengirimkan kuda-kuda yang membawa prajurit yang tangguh dan memiliki pandangan yang cermat dalam menyerang dan mengalahkan kalian. Ini marena mereka meyakini perjuangan mereka itu akan mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan mengalirkan darah kalian dan merasa terhormat dengan sakit yang mereka derita.”
“Aku akan terus mengirimkan bantuan persenjataan dan logistik kepada mereka lebih dari cukup untuk kemenangan mereka hingga mencapai tujuan dan perdamaian yang sesungguhnya. Hanya saja, aku terus menyampaikan saran kepadamu hingga Allah berkenan memberikan petunjuk kepadamu dan para pendukungmu menuju keesaan Allah dan syariat-Nya yang suci. Jika menolak, harus ditebus dan menjadi tanggungan, serta membutuhkan perhatian. Jika Anda mengabaikan, aku harus memperlihatkan kekuatanku untuk meyakinkanmu. Semoga kesejahteraan dan keselamatan senantiasa terlimpahkan kepada orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuk.”
Peperangan melawan Romawi terus berlanjut hingga ajal menjemput Khalifah Al-Makmun ketika berada di Tharasus. [MNews/Rgl]
Sumber:
Syekh Muhammad al-Khudari, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah, Puncak Keemasan dan Kejayaan Kekhilafahan Islam, Pustaka Al-Kautsar.

Alhandulillah