Tawakal

Tawakal

Penulis: M. R. Kurnia

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Seorang mukmin memahami betul bahwa bekerja keras itu ibadah dan harus. Di samping itu, dia pun yakin bahwa kerja keras bukanlah sebab datangnya rezeki.

Rezeki ada di tangan Allah yang akan diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, sebelum ia melakukan aktivitas apa pun, termasuk bekerja untuk mencari rezeki, segala sesuatunya ia serahkan kepada Allah Taala. Mau begitu, mau begini, apa pun yang terjadi diserahkan kepada Allah Taala. “Yang penting, telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan perintah Allah Taala,” pikirnya.

Nah, sikap hati menyerahkan segala macam urusan kepada Allah Taala itulah yang disebut tawakul (yang dalam bahasa Indonesia berubah menjadi tawakal). Tawakal ini banyak diperintahkan oleh Allah seperti firman-Nya,

“Dan siapa saja yang bertawakal kepada Allah, maka Dia yang akan mencukupkan keperluannya.” (QS Ath-Thalaq: 3)

Didasarkan pada itu pula, maka seorang mukmin ketika mendapatkan rezeki melalui jalan dia bekerja, ia makin bersyukur kepada Allah Taala. Demikian pula, bila suatu saat ia hanya mendapatkan rezeki sedikit, ia pun bersabar tanpa keluh kesah karena yakin segitulah pemberian Allah Taala. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk senantiasa berupaya bekerja giat dan mencari cara-cara yang lebih jitu sebagai jalan diberikannya rezeki oleh Allah.

Semuanya ini didorong oleh sikap tawakal yang kuat kepada Allah. Demikian pula kalau suatu waktu keadaan demikian sulit, ia tidak takut tidak mendapat rezeki. Allah Maha Pengasih, insyaallah Ia akan memberikan rezeki lewat jalan yang Dia kehendaki.

Bila sikap demikian melekat dalam diri seorang muslim, ia akan menjadi orang yang profesional dalam bekerja, sekaligus pasrah menerima berapa pun rezeki yang akan diperolehnya, serta tanpa punya rasa khawatir tidak mendapat rezeki.

Renungan

Akibat pengaruh paham serba materi (materialisme), tidak sedikit kaum muslim yang khawatir akan rezeki bagi diri dan keluarganya. Padahal, rezeki itu ada di tangan Allah. Manusia hanyalah diperintahkan untuk berusaha mencari jalan datangnya rezeki yang akan diberikan oleh-Nya.

Sampai-sampai, ada orang yang tidak mau berjuang di jalan Allah, enggan menyampaikan kebenaran dan amar makruf nahi mungkar, tidak terdorong untuk turut serta dalam barisan orang-orang yang hendak mengembalikan berlakunya hukum Allah di muka bumi ini hanya karena takut dipecat dari pekerjaan, khawatir anak dan istri tidak ada yang mengurus, sayang bila harta dan karirnya akan kandas.

“Bila saya turut memperjuangkan Islam, boleh jadi rezeki saya jadi seret. Bahkan, mungkin saja dicopot dari pekerjaan, siapa yang akan menafkahi anak dan istri saya, siapa yang membiayai anak-anak saya,” kilah mereka.

Padahal, apabila kita merenung dengan hati ikhlas dan pikiran jernih, hal itu tidaklah logis. Mengapa kita tidak berpikir, “Andaikan saya mati besok, siapa yang akan menafkahi anak dan istri saya, siapa yang akan membiayai sekolahnya, siapa yang akan membelanya?” Padahal, mati itu sudah pasti datangnya. Sedangkan datangnya kesempitan rezeki belum tentu adanya. Sebab, rezeki ada di tangan Allah, Dia tidak memberitahukan kepada kita, apakah rezeki kita banyak ataukah sedikit.

Dengan demikian, seorang muslim yang benar-benar beriman bahwa rezeki ada di tangan Allah Taala tidak akan berani meninggalkan dakwah, jihad, ataupun kewajiban lain hanya karena khawatir tidak dapat membiayai hidup diri dan keluarga karenanya. Di benak orang itu bertanam firman Allah Taala,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS At-Taubah: 111).

Selain itu, cerita para sahabat selalu terngiang di telinganya. Para sahabat muhajirin, laki-laki dan perempuan, rela meninggalkan rumah, binatang ternak, tanah, perniagaan, kampung halaman, teman, saudara, bahkan anak, suami, maupun ayahnya demi taat kepada perintah Allah Taala. Kalangan Ansar pun rela membagi-bagi hartanya pada kaum muhajirin sebagai saudara pembela Islam. Tidak ada kekhawatiran secuil pun tentang sempitnya rezeki. Yang ada di benaknya hanyalah satu, rida Allah Taala.

“Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah, rasul-Nya, dan jihad fisabilillah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah: 24). [MNews/Rgl]

Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *