Penulis: Shezan A. Gerung
Muslimah News, DUNIA REMAJA – Sobat muslimah, lagi viral, nih, seorang pengguna TikTok bernama Bima Yudho Saputro. Bima menjadi sorotan di dunia maya akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, FYP TikTok nyaris tentang Bima semua. Wah wah wah, Bima Yudho menuai sorotan usai membuat konten video berupa presentasi bertajuk “Alasan Lampung Tidak Maju-Maju” di akun TikToknya yang kemudian viral.
Video berdurasi 3 menit 28 detik itu melontarkan kritik terhadap kondisi sejumlah sektor di Lampung. Beberapa sektor yang dikritik di antaranya mengenai infrastruktur, proyek Kota Baru, pendidikan, tata kelola birokrasi, pertanian, dan tingkat kriminalitas. Bima berpandangan, infrastruktur di Lampung banyak yang rusak, sedangkan proyek Kota Baru disebut mangkrak sejak lama. Akun TikTok ini juga menyebutkan bahwa pendidikan di Lampung tidak merata hingga ketergantungan akan pertanian.
Buntutnya, pengacara Ginda Ansori melaporkan Bima ke Polda Lampung terkait Undang-Undang Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Tidak hanya itu, dalam video unggahan Bima yang lain, ia menyesalkan intimidasi pada keluarganya. Terlebih tidak ada klarifikasi dari pihak pemerintah Lampung, dalam hal ini gubernur. Berbeda dengan sikap Pemprov Lampung, netizen justru beramai-ramai memberi dukungan pada Bima. Mulai dari konten kritik hingga lagu hip-hop yang liriknya bikin ketar-ketir.
Begitulah, ya, kalau anak muda sudah bersuara. Ada cara unik dan kreatif yang mampu menggentarkan penguasa. Memang, sih, kalau anak muda sudah beraksi, suasana heroiknya beda. Maklum, darah muda kata Bang Haji. Gelora semangatnya mewabah dan menjangkiti siapa pun. Buktinya, di TikTok bisa jutaan viewers-nya, lo. Lantas, apa yang menjadi pelajaran dari viralnya Bima ini?
Berbagai Sudut Pandang
Ya, dari viralnya Bima ini berbagai sudut pandang hadir. Ada yang membahas dari sudut pandang kebebasan berpendapat yang negara jamin di berbagai regulasi. Ada pula yang berpendapat bahwa kebebasan berpendapat itu hanya basa-basi doang.
Mengapa? Ya, buntut dari segala kritik di tengah masyarakat itu tetaplah persekusi dan intimidasi. Makanya, tidak sedikit yang pesimis dan memilih diam atas ketimpangan yang marak terjadi.
Nah, dari kasus Bima ini juga ada kekuatan media sosial yang menggulung opini negatif dan sentimen dengan kritik yang bergulir. Media sosial yang memiliki ciri khas berbeda dengan media konvensional membuat masyarakat mampu menciptakan opini sendiri.
Sobat muslimah tentu bisa merasakan atmosfer yang berbeda. Begitu viral, intimidasi hadir untuk membekap. Sayangnya, netizen sudah terlanjur gerah. Mereka bergerak cepat membuat konten yang seakan merapatkan barisan untuk membela Bima. Seakan blunder dengan tindakannya, pemerintah akhirnya ketiban berbagai kritikan yang kian menjalar. Wah, dunia maya memang sehebat itu, ya.
Meski demikian, ada pelajaran lain yang bisa dipetik dari viralnya Bima, nih, Sobat. Apa itu? Suara anak muda yang dikemas dengan kreativitas. Ya, jika selama ini pengguna media sosial membuat konten sebatas entertainment, kali ini beda.
Artinya, menyuarakan kritik di dunia maya, tuh, bisa banget. Mengemasnya pun bisa dengan berbagai cara yang kreatif. Di tengah berbagai ketidakadilan dan kebijakan yang tidak populer, masyarakat bisa banget menyuarakannya dengan berbagai cara. Ya, tentu saja kudu dan harus memperhatikan peraturan yang ada, ya guys, ya.
Agar Kritik Berujung Solusi
Nah, ini poin penting, Sobat muslimah. Artinya, speak up dengan segala ketimpangan itu sudah tepat. Hanya saja, butuh pendalaman dari unsur ‘why’. Mengapa ini semua terjadi? Mengapa proyek-proyek besar untuk kebutuhan rakyat, banyak yang tidak terealisasi?
Membahas hal ini tentu tidak cukup sekadar mengkritik person. Mengapa? Sebab mental korup alias doyan menyelewengkan dana proyek itu tidak muncul dengan sendirinya. Di sinilah butuh pemahaman kita mengenai konsep kehidupan yang sedang berjalan.
Duh, kenapa buntutnya kudu membahas sistem kehidupan segala? Berat woi pembahasannya. Sobat muslimah, siapa pun tentu tidak menginginkan ketidakadilan terus hadir. Untuk menyelesaikan hal ini hingga ke akar-akarnya butuh pembahasan secara sistemis, tidak hanya berhenti di aspek personal. Ini karena, sekali lagi, tindak-tanduk individu itu tergantung dari pemahamannya. Mental korup yang ada dan melekat pada sebagian besar pejabat itu hasil dari bentukan pemahaman. Lebih jauh lagi, ini mengenai spirit yang menjadi motivasi seseorang bertindak.
Saat ini, sistem sekuler kapitalisme menjadi sistem hidup yang diterapkan. Sistem sekuler ini telah mencetak manusia-manusia yang tidak memiliki rasa takut kepada Penciptanya. Mereka tidak merasa takut dengan adanya sistem pengawasan yang berjalan 24 jam, melebihi ketakutan mereka terhadap CCTV agar aman dari operasi tangkap tangan.
Kesadaran akan hubungan dengan Sang Pencipta dengan sendirinya akan menciptakan kesadaran adanya Allah yang mengawasi hamba-Nya. Dampaknya, setiap manusia akan merasa takut mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mereka akan menyalurkan apa yang diamanahkan rakyat sebagaimana mestinya. Inilah poin pentingnya.
Kalau sekarang, sih, setiap ada kasus, masyarakat akan fokus ke personnya saja. Padahal, lebih jauh lagi, sistem sekuler inilah yang berperan mencetak individu-individu korup yang doyan menilep dana rakyat. Miris, kan? So, yuk belajar bareng menelaah realitas.
Di sisi lain, perkaya point of view kita berbasis sistem. Kemas dengan cara kreatif, lalu speak up untuk menyerukan kebenaran hakiki. Siapa tahu, kamu adalah the next Bima versi ideologis. Allahu Akbar! [MNews/Rgl]
