Muslimah News, INTERNASIONAL — Berdasarkan pemantauan (rukyat) hilal untuk menentukan awal Syawal di berbagai negara pada Kamis (20-4-2023), telah terlihat adanya hilal syar’i di beberapa wilayah, seperti Arab Saudi, Nigeria, Mali, dan Mesir sehingga Idulfitri 1 Syawal 1444 H jatuh pada Jumat (21-4-2023). Hal ini disampaikan Maktab I’lamy حزب التحرير di kanal Al-Waqiah TV (21-4-2023) mengutip Rayah TV.
Dalam kesempatan ini, aktivis dakwah Ustaz Ponsen menyatakan, inilah yang dimaksud sebagai rukyat global. “Rukyat global merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Ini karena secara fikih dan dalil, rukyat hilal secara global ini sudah jelas daripada jika menggunakan matlak,” tuturnya.
Di sisi lain, ia melanjutkan, saat ini yang menggunakan pengamatan secara matlak pun mengalami inkonsistensi karena matlak yang ditetapkan Imam Syafi’i adalah sejarak 24 farsakh. “Sedangkan, saat ini tidak menggunakan 1 matlak yang berjarak 24 farsakh tersebut, tetapi menggunakan wilayatul hukm, artinya menggunakan satu wilayah berdasarkan pemerintahan saat ini yang berpegang pada nasionalistis. Akibatnya antara Indonesia dengan negara-negara lain bisa terjadi perbedaan,” ungkapnya.
Sekat Nasionalisme
Jadi, Ustaz Ponsen menyesalkan, ini tidak mengambil hujah yang kuat, yaitu tidak mengambil rukyatul hilal secara global dan masih menggunakan sekat-sekat nasionalisme.
“Padahal, rukyat hilal secara global sangat memungkinkan dilakukan, apalagi ditunjang dengan teknologi saat ini. Antara Papua dan Aceh bisa cepat informasi terlihat atau tidaknya hilal, termasuk antarnegara,” ucapnya.
Ia mencontohkan yang diterapkan saat ini, ketika Papua tidak terlihat hilal tetapi dua jam kemudian di Aceh terlihat, maka Papua mengikuti hasil rukyat di Aceh. Namun, jika di Aceh juga tidak terlihat, tetapi dua jam kemudian di Bangladesh terlihat, kemungkinan yang terjadi adalah Indonesia tidak mengikuti Bangladesh. “Mengapa? Karena sekat-sekat nasionalisme,” cetusnya.
Oleh karenanya, ia menyampaikan, apabila di Mesir terlihat hilal yang waktunya berbeda enam jam, maka seharusnya tidak menjadi masalah bagi kaum muslim, tinggal diumumkan saja. “Tampaklah rukyat global mestinya tidak menjadi kendala. Yang menjadi kendala bukanlah persoalan fikih, melainkan politis atau kekuasaan,” ujarnya.
Oleh karenanya, ia menegaskan, untuk memberikan solusi atas persoalan ini kita membutuhkan kesatuan umat di bawah naungan Khilafah. “Ini karena ada seorang khalifah yang akan menyelesaikan perbedaan dan memutuskan persoalan ini bagi seluruh kaum muslim sehingga tidak ada perbedaan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain,” jelasnya. [MNews/Ruh]
