Penulis: Nida Alkhair
Muslimah News, OPINI — Idulfitri tahun ini berlangsung tidak serempak. Sebagian masyarakat merayakan Idulfitri pada Jumat (21-4-2023), sedangkan pemerintah—setelah melakukan sidang isbat—menetapkan 1 Syawal 1444 H jatuh pada 22-4-2023. (Detik, 20-4-2023).
Kalangan yang mengikuti metode hisab merayakan Idulfitri pada Jumat. Bagi yang mengikuti metode rukyatulhilal lokal, tersebab hilal tidak tampak, merayakan pada Sabtu. Sedangkan bagi yang mengikuti metode rukyatulhilal global, karena hilal sudah tampak di beberapa wilayah (salah satunya di Arab Saudi), maka merayakan Idulfitri pada Jumat.
Perbedaan penetapan Idulfitri ini memang sudah diduga mengingat adanya perbedaan metode dalam menentukan 1 Syawal. Bukan tahun ini saja perayaan Idulfitri berlangsung tidak serempak. Jika kita kilas balik, tampak bahwa umat Islam acapkali merayakannya pada hari yang berbeda.
Jika dahulu yang menjadi perbedaan adalah seputar metode hisab dan rukyat, kini yang menjadi polemik adalah seputar wujudulhilal dan imkanu rukyatilhilal, juga seputar ketinggian hilal, bahkan mengenai rukyatulhilal dilakukan secara lokal ataukah global.
Tidak hanya di Indonesia, perbedaan perayaan Idulfitri juga terjadi di level dunia. Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Aljazair, Bahrain, Mesir, Irak, dsb. merayakan Idulfitri pada Jumat. Sedangkan negara lainnya, seperti Indonesia, Malaysia, Maroko, Oman, India, dan Australia merayakan Idulfitri pada Sabtu, meski sebagian warganya merayakan pada Jumat. (CNBC Indonesia, 20-4-2023).
Mirisnya, perbedaan pandangan terkait 1 Syawal ternyata turut menyulut konflik horizontal. Terbaru, beberapa wilayah melarang penggunaan lapangan untuk salat Id pada Jumat, meski pada akhirnya tetap dibolehkan. Konflik horizontal seperti ini tentu tidak baik untuk persatuan umat.
Umat Islam Harus Bersatu
Kondisi umat Islam yang berbeda hari dalam merayakan Idulfitri sesungguhnya merupakan hal yang tidak perlu terjadi. Rasulullah saw. bersabda, “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Apabila penglihatan kalian tertutup mendung, sempurnakanlah bilangan (bulan Syakban) menjadi 30 hari.” (HR Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan hadis ini, ketika hilal Syawal belum tampak, umat Islam masih wajib berpuasa Ramadan dan haram berbuka. Sedangkan ketika hilal Syawal telah tampak, umat Islam wajib berbuka dan berhari raya, serta haram berpuasa. Hilal Syawal ini adalah satu sehingga berlaku untuk seluruh kaum muslim.
Kesalahan dalam menentukan apakah masih 30 Ramadan ataukah sudah 1 Syawal ini bisa berdampak fatal. Jika umat Islam masih berpuasa, sedangkan sesungguhnya sudah masuk 1 Syawal, ia bisa berdosa. Sebaliknya, jika sudah berbuka, padahal masih 30 Ramadan, ia juga bisa berdosa. Oleh karenanya, umat Islam wajib bersatu dalam penetapan 1 Syawal maupun 1 Ramadan.
Butuh Khilafah
Kondisi seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan terus terjadi karena bisa jadi mendatangkan keharaman (dosa) di tengah umat Islam. Ini menunjukkan urgen untuk adanya seorang imam (kepala negara) yang bisa mempersatukan seluruh kaum muslim di dunia.
Melalui keputusannya, imam bisa menghilangkan perbedaan pandangan di tengah umat mengenai 1 Ramadan maupun 1 Syawal. Kaidah fikih menyatakan, “Perintah imam (khalifah) menghilangkan perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiah (khilafiah).” (Muhammad Khair Haikal, Al-Jihad wa al-Qital fi al-Siyasah al-Syar’iyyah, 1/105 dan 2/904).
Memang betul bahwa penentuan Idulfitri cukup kompleks karena di dalamnya melibatkan tiga masalah, yaitu fikih, ilmiah, dan politik. Namun, sekompleks apa pun persoalan sebenarnya dapat terselesaikan dengan adanya imam (khalifah). Begitu pula, bukan sekadar adanya para pemimpin di negeri-negeri muslim, melainkan butuh satu pemimpin untuk seluruh muslim sedunia untuk bisa menyatukan semua umat Muhammad saw..
Walhasil, khalifah menjadi satu-satunya pemimpin yang mampu menghilangkan perbedaan karena Khilafah merupakan satu-satunya sistem yang berkomitmen melaksanakan syariat secara kafah. Sungguh berbeda dengan para penguasa hari ini yang mencampakkan syariat Islam.
Adapun tugas kita adalah istikamah berupaya mewujudkan imam dengan mendakwahkan seputar Khilafah. Semoga ini adalah tahun terakhir tanpa Khilafah. Semoga pula tahun depan kita sudah bisa merayakan Idulfitri serempak bersama umat Islam sedunia dipimpin seorang imam yang adil.
Rasulullah saw. bersabda, “Wajib atasmu untuk mendengar dan menaati pemimpin yang adil dalam sulit dan lapang, dalam keadaan semangat atau dalam keadaan engganmu, atau berat atasmu.” (HR Muslim 1835, Abu Hurairah). Wallahualam. [MNews/Gz]
