Membuka Pintu Langit dan Menghilangkan Penghalang Doa pada Akhir Ramadhan

Membuka Pintu Langit dan Menghilangkan Penghalang Doa pada Akhir Ramadhan

Penulis: Dedeh Wahidah Achmad

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Berdoa adalah aktivitas yang diperintahkan oleh Allah Taala dan bernilai ibadah bagi pelakunya. Di sanalah seorang muslim berkeluh kesah kepada Penciptanya atas masalah kehidupannya, serta tempat menyandarkan harapan pertolongan sebagai jawaban dari permohonannya.

Demikianlah yang Allah Swt. janjikan dalam firman-Nya,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh, orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Ghafir: 60).

Terkait doa saat Ramadan, banyak nas yang menjelaskan tentang janji dikabulkannya doa. Bahkan, Ramdan termasuk salah satu waktu yang mustajab, apalagi pada sepuluh hari terakhir, yakni ada malam yang kebaikannya dilipatgandakan menjadi seribu bulan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga golongan yang doa mereka tidak ditolak, [yakni] orang yang berpuasa hingga ia berbuka, imam yang adil, doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmidzi).

Demikian juga sabda beliau ﷺ, “Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman, ‘Orang yang berdoa kepada-Ku, akan Kukabulkan. Orang yang meminta sesuatu kepada-Ku, akan Kuberikan. Orang yang meminta ampunan dari-Ku, akan Kuampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pada hari biasa, tidak semua orang biasa bangun pada sepertiga malam. Namun, saat Ramadan, mayoritas umat Islam mampu melakukannya. Selain untuk aktivitas makan sahur yang disunahkan, tidak sedikit yang melaksanakan salat Tahajud dan berdoa sebagai tambahan saat sunah Tarawih yang sudah ditunaikan sebelum tidur.

Membuka Pintu Langit

Siapa pun yang berdoa, pasti berharap doa dan permohonannya itu dipenuhi oleh Allah Taala. Namun, kadang terlewat untuk kita perhatikan bahwa ada perkara yang menjadi prakondisi doa itu mendapat jawaban. Keadaan ini harus menyertai permohonan ketika dipanjatkan. Keberadaannya bisa membuka pintu langit untuk terkabulnya segala permintaan. 

Ini sebagaimana tersirat dalam anjuran Rasulullah ﷺ untuk memperbanyak doa khusus ketika malam Lailatulqadar, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Mulia. Engkau senang memberi maaf, maka maafkanlah aku.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, dari Aisyah).

Doa tersebut cukup pendek sehingga mudah untuk dilafalkan. Sebagian besar umat Islam sudah biasa mengamalkannya, terutama yang melaksanakan Tarawih berjemaah di mesjid, akan dipandu imam untuk membacanya. Namun, belum tentu mereka memahami bahwa di balik doa tersebut terkandung kesadaran akan kekurangan diri di hadapan Allah Swt. dan ketidaksempurnaan dalam melaksanakan ketaatan. Kesadaran inilah yang mendorongnya memohon pengampunan pada Zat yang Maha Pemaaf. 

Demikianlah syarah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab terkait hadis tersebut dalam Lathaif al-Ma’arif fii Maa Limawasimil ’Aam minal Wazhaif. Beliau menegaskan, “Sesungguhnya perintah memohon al-‘afwu pada malam Lailatulqadar setelah kita bersungguh-sungguh beramal di dalamnya, ini semua agar kita tahu bahwa orang bijak ketika sungguh-sungguh dalam beramal kemudian ia tidak melihat amalan yang ia lakukan itu sempurna dari sisi amalan, keadaan, maupun ucapan, Oleh karenanya, ia meminta kepada Allah al-‘afwu seperti keadaan seorang yang berbuat dosa dan merasa penuh kekurangan.”

Berdasarkan syarah hadis terebut, semestinya seorang muslim melakukan introspeksi akan setiap amalan yang sudah dilakukannya. Apakah sudah termasuk ketaatan sehingga membuka rida Rabb-nya? Atau masih banyak kekurangan dan bercampur dengan berbagai kemaksiatan yang mengharuskannya mengiringinya dengan istigfar dan permohonan maaf serta ampunan-Nya?

Pembiasaan doa ini saat Ramadan semestinya berdampak positif pada masa setelahnya. Akan lahir individu muslim yang senantiasa mawas diri untuk selalu terikat dengan syariat Tuhannya kapan pun dan di mana pun.

Menghilangkan Penghalang Dikabulkannya Doa

Sering kali orang hanya berfokus pada memanjatkan doa-doa dan berharap seluruh permintaannya tersebut terkabul. Namun, mereka luput untuk memperhatikan ada sesuatu yang bisa menyebabkan doa terhalang untuk dikabulkan. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Rasulullah ﷺ bersabda,

 وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Zat yang menggenggam jiwaku, perintahlah yang makruf oleh kalian dan cegahlah yang mungkar, atau Allah nyaris menurunkan siksaan kepada kalian karenanya (tidak amar makruf dan tidak nahi mungkar) sehingga kalian berdoa [tetapi] tidak dikabulkan.” (HR At-Tirmidzi).

Terkait hadis ini, Imam As-Suyuthi memberikan penjelasan, hadis di atas merupakan perintah untuk beramar makruf dan nahi mungkar sebelum turunnya bencana berupa tidak terkabulnya doa-doa dikarenakan tidak adanya aktivitas amar makruf dan membiarkan merajalelanya kemaksiatan (Lihat: As-Suyuthi, Syarh Sunan Ibnu Majah, jilid 1, hlm. 289).

Mengambil pelajaran dari hadis tersebut dan merefleksikannya pada kondisi umat saat ini, di satu sisi patut kita syukuri semangat sebagian umat yang bergelora untuk mengoptimalkan ibadah pada akhir Ramadan, di antaranya dengan aktivitas iktikaf. Berburu mendapatkan kemuliaan Lailatulqadar dan memanjatkan doa-doa dengan harapan besar dikabulkan oleh Allah Zat yang Mengabulkan doa.

Di sisi lain, kondisi sebagian umat lainnya cukup membuat kita miris dan prihatin. Masih banyak yang mengumbar kemaksiatan di tengah bulan yang diberkahi ini. Merupakan kemaksiatan terbesar adalah tidak diterapkannya syariat kafah karena tidak hadirnya pemimpin yang berwenang menerapkannya (Khilafah). 

Sejatinya, kewajiban dan urgensi Khilafah sudah menjadi perkara makruf di kalangan ulama. Seperti disampaikan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, “Mereka (para ulama) telah berijmak (bersepakat) bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan akal.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, XII/205).

Ironisnya, akhir-akhir ini, perjuangan penegakan syariat kafah justru dijegal dengan berbagai cara untuk menjauhkan umat dari perjuangan ini, salah satunya melalui penyebaran pemikiran Islam moderat dan monsterisasi Khilafah.

Oleh sebab itu, penghujung Ramadan merupakan saat yang tepat untuk menyadarkan umat tentang keterkaitan harapan dikabulkannya doa dengan upaya aktivitas amar makruf nahi mungkar, dan yang terpenting adalah perjuangan penegakan Khilafah.

Satu hal yang bisa disampaikan ke umat adalah pendapat Imam Al-Haitsami bahwa mengangkat seorang khalifah (pemimpin yang akan menerapkan Islam kafah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah kewajiban yang paling penting (lihat Al-Haitsami, Shawa’iq al-Muhriqah, 1/25). Dengan kata lain, mengabaikan kewajiban ini menjadi kemaksiatan yang besar.

Orang yang benar-benar memahami hakikat doa, tentu pada akhir Ramadan ini tidak akan mencukupkan diri hanya dengan memperbanyak doa dan permohonan, tetapi juga serius untuk menempuh sababiyah dijawabnya doa-doa tersebut. Juga berupaya menghilangkan penghalang dari terkabulkannya doa.

Pemahamannya tersebut akan menuntunnya untuk melakukan introspeksi, sejauh mana ia sudah ikut serta dalam aktivitas amar makruf nahi mungkar, baik secara individual maupun keterlibatannya dalam dakwah jemaah sebagaimana telah Allah wajibkan dalam QS Ali Imran ayat 104.

Dengan demikian, semangat berburu kebaikan Lailatulqadar meniscayakan peningkatan semangat berdakwah untuk menegakkan Islam kafah. Insyaallah Wallahualam. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *