[Fikrul Islam] Menjadikan Hidup Punya Makna (Bagian 2/3)

[Fikrul Islam] Menjadikan Hidup Punya Makna (Bagian 2/3)

Penulis: M. R. Kurnia

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Manusia yang ketika disodorkan ayat-ayat Allah, tetapi tidak mau memahami, mengerti, menghayati, dan mengamalkannya, Allah mengibaratkannya seperti hewan. Bahkan, disebutkan lebih sesat daripada hewan! Sungguh merupakan ejekan yang luar biasa!

Andai saja ada orang yang mengatakan kepada kita bahwa kita seperti babi, apa perasaan kita? Pasti marah! Sekarang, Allah Swt. menyatakan bahwa orang yang tidak memahami, tidak tunduk, dan tidak patuh kepada wahyu-Nya disebut hewan, bahkan lebih sesat dari hewan.

Padahal, sebinal-binalnya hewan tidak ada yang homo atau lesbian sesama hewan! Sejahat-jahatnya hewan tidak ada yang mencincang dan merobek-robek tubuh anaknya sendiri! Ini berarti orang yang tidak taat kepada Allah Swt. sama atau bahkan lebih jahat dari hewan tersebut.

Astaghfirullah al-‘Azhim! Allahu Akbar! Betapa lunglai jiwa ini. Bila demikian, sungguh adanya akal, hati, penglihatan dan pendengaran pada diri orang seperti tadi sama dengan tidak adanya. Allah menegaskan dalam firman-Nya,

وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ سَمۡعًا وَّاَبۡصَارًا وَّاَفۡـِٕدَةً  ۖ فَمَاۤ اَغۡنٰى عَنۡهُمۡ سَمۡعُهُمۡ وَلَاۤ اَبۡصَارُهُمۡ وَلَاۤ اَفۡـِٕدَتُهُمۡ مِّنۡ شَىۡءٍ اِذۡ كَانُوۡا يَجۡحَدُوۡنَۙ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ

“Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS Al-Ahqaf: 26).

Untuk itu, tidak ada jalan lain kecuali berupaya menjadikan akal dan hati untuk memahami kebenaran, mata untuk mencari dan melihat kebenaran, dan telinga untuk senantiasa mendengarkan kebenaran. Kebenaran itu adalah apa-apa yang datang dari Allah Yang Maha Gagah, Lagi Maha Bijaksana.

اَلۡحَـقُّ مِنۡ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡمُمۡتَرِيۡنَ

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”(QS Al-Baqarah: 147).

Kebenaran, adalah apa yang terdapat di daIam IsIam!

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Siapa saja yang menjadikan selain Islam sebagai din (agama, sistem hidup), niscaya ditolaklah apa pun darinya dan ia di akhirat termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Dengan kata lain, segenap potensi yang dimilikinya itu harus digunakan untuk memahami dan menghayati Islam untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari.

Berkaitan dengan hal tersebut, Allah Swt. menyatakan,

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56).

Jelas sekali, Allah Al-Khaliq, Sang Pencipta manusia menetapkan bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Padahal, ibadah itu maknanya thaatullah wa khudhu’un lahu waltizamu ma syara’ahu minad din. Yaitu, taat kepada Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya, serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkan-Nya.

Jadi, manusia itu ada di dunia ini semata-mata untuk tunduk, taat, dan patuh kepada aturan dan hukum-hukum Allah azza wa jalla dalam semua perkara: akidah, ibadah mahdhah, sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Untuk manusia setelah diutusnya Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul terakhir, berarti hidupnya itu untuk tunduk, patuh, dan taat kepada syariat Islam yang diturunkan Allah kepada beliau saw..

Melalui ibadah seperti inilah manusia akan berbeda dengan hewan, bahkan melambung jauh lebih tinggi derajatnya ketimbang hewan. Hewan makan, manusia juga makan. Namun, manusia tidak sembarang makan, makan hanya makanan yang halal dan baik, memperolehnya dengan cara yang diperbolehkan Allah Swt., cara makannya pun tidak serampangan.

Hewan melampiaskan birahi, demikian pula manusia. Namun, manusia (laki-laki) melampiaskan birahinya hanya kepada perempuan, itu pun yang sudah dinikahinya terlebih dahulu sesuai dengan hukum Islam. Setelah pernikahan pun dipeliharanya istrinya tersebut, dididiknya, tujuannya pun bukan bersifat seksual semata, melainkan untuk mendapatkan keturunan yang saIeh.

Hewan hidup bersama dengan sesamanya. Demikian pula halnya manusia. Bedanya, dalam kehidupannya hewan tidak diatur secara formal, yang kuat itulah yang menang dan berkuasa. Sebaliknya, manusia diatur oleh aturan-aturan Allah Swt.. Kedaulatan sepenuhnya berada di tangan syarak sehingga yang menentukan halal/haram, baik/buruk, terpuji/tercela, serta mana yang boleh ada di tengah masyarakat dan mana yang tidak boleh hanyalah Allah Swt. semata, yang diketahui lewat hukum-Nya dalam Al-Qur’an, ijmak sahabat, dan qiyas. [MNews/Rgl]

Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *