Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA — Ramadan sebentar lagi menghampiri kita. Sudah seharusnya seluruh keluarga muslim menyambutnya dengan penuh rasa syukur dan gembira karena bulan penuh rahmat dan ampunan telah tiba.
Sudah seharusnya kita menyambutnya dengan suka cita dan penuh dengan keimanan yang tinggi, juga selalu berusaha lebih baik dalam melalui Ramadan tahun ini.
Sudah seharusnya, pada bulan penuh berkah ini, kita tingkatkan takarub kita kepada Allah Swt.. Kita tingkatkan keyakinan dan keimanan kita agar bisa menjalani bulan Ramadan dengan baik dan mendapatkan derajat takwa. Amin.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak memperoleh kebajikan di malam itu, maka ia tidak memperoleh kebajikan apa pun.” (HR Nasa‘i dan Ahmad)
Ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadan. Syekh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “Hadis ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yang saleh dengan datangnya Ramadan karena Nabi saw. memberi kabar kepada para sahabatnya ra. mengenai datangnya Ramadan. Ini bukan sekadar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.“
Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitabnya, Ahaditsush Shiyam hlm. 13 menjelaskan, “Bagaimana tidak gembira, seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga dan tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadan).” (Ahaditsus Shiyam hlm. 13)
Dari penjelasan hadis ini sangat jelas menunjukkan bahwa kaum muslim sudah seharusnya bersyukur dan bergembira dengan hadirnya Ramadan, bulan berlimpahnya pahala yang akan Allah berikan kepada hamba-Nya. Pintu-pintu surga dibuka, sebaliknya pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.
Dalam hadis Rasulullah yang lainnya dijelaskan bahwa pahala yang Allah berikan dilipatgandakan, sedangkan pahala melakukan aktivitas sunah bernilai pahala melaksanakan kewajiban. Masya Allah. Sudah seharusnya umat Islam bergembira dengan hadirnya bulan suci Ramadan.
Ramadan Bersama Keluarga
Allah Swt. telah memilih Ramadan dengan keutamaan dan kekhususan dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Harus kita pahami dengan sepenuh iman dan ketakwaan kita kepada Allah bahwa ini semua adalah sebagai bentuk nikmat dan karunia Allah kepada para hamba-Nya agar senantiasa bersemangat mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan perbuatan yang dimurkai-Nya.
Pada Ramadan ini, kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah sekaligus makin menguatkan tali kekeluargaan dengan anggota keluarga. Kita bisa lebih mengintensifkan salat berjemaah pada setiap waktu salat fardu, memperbanyak salat sunah, termasuk salat tahajud menjelang sahur, ditambah lagi dengan tarawih bersama.
Tadarus bisa kita lakukan di rumah bersama suami dan anak-anak. Di samping itu, kita bisa lebih intens mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama saling bantu menyiapkan hidangan berbuka dan sebagainya.
Dapat dibayangkan, dengan kebersamaan kita dalam keluarga akan menguatkan sikap saling sayang dan menghormati di antara anggota keluarga. Hanya saja, bukan aktivitas ibadah mahdhah saja yang harus kita perbanyak pada bulan Ramadan ini, tetapi semua amal kebaikan. Mulai dari menuntut ilmu, memenuhi akad atau muamalah lainnya, menghiasi diri kita dengan akhlak yang terpuji, hingga aktivitas dakwah dan menyeru diterapkannya syariat Islam.
Selama Ramadan, kita punya kesempatan berdakwah yang luas karena siapa pun pada bulan ini kondisi ruhiyah-nya sedang baik sehingga siap menerima nasihat. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini.
Banyak yang bisa kita lakukan, di samping melaksanakan ibadah mahdhah. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menunjuki kebaikan, baginya pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikit pun.”
Selain itu, kita sebagai perempuan, terutama sebagai ibu, memiliki peran yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan ibu adalah “bintangnya” dalam keluarga pada Ramadan. Ada ladang pahala yang sangat luas bagi seorang ibu, karenanya kita bisa maksimalkan peran ini ketika bulan Ramadan tiba.
Ramadan, Maksimalkan Peran Ibu
Ramadan adalah sebuah kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita untuk memperbanyak amal kebaikan. Semua amal kebaikan apa pun bernilai pahala sehingga tidak boleh kita lewatkan.
Keluarga muslim harus berfungsi sebagai benteng umat yang kukuh yang siap melahirkan generasi terbaik dan individu-individu yang bertakwa, dengan visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah yang mengemban misi kekhalifahan di muka bumi dengan penggemblengan selama Ramadan. Di sinilah sesungguhnya peran perempuan sebagai ummun wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah suaminya) menjadi sangat penting.
Islam, sebagai din yang lengkap dan sempurna, telah menempatkan sosok Ibu dalam posisi yang sangat tinggi dan tidak kalah penting dari peran kaum bapak. Bahkan fungsi ibu bukan hanya bersifat biologis, melainkan juga bersifat strategis dan politis. Oleh karenanya, Islam juga menuntut agar para perempuan benar-benar menjalankan fungsi keibuan ini dengan sebaik-baiknya dan optimal.
Banyak nas yang bisa kita renungkan mengenai hal ini, antara lain: Tatkala Asma’ ra. bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mengutamakan laki-laki dari perempuan, maka kami mengimanimu dan mengikutimu. Dan kami para perempuan serba terbatas dan kurang (dalam amaliah). Tugas kami hanyalah menjaga rumah dan melayani laki-laki. Kami mengandung anak-anak mereka, sedangkan kaum laki-laki memiliki keutamaan dengan berjemaah, menyaksikan mayat, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kami menjaga harta mereka dan memelihara anak mereka. Apakah kami dapat menyamai mereka dalam pahala, wahai Rasulullah?” Lalu Rasul saw. bersabda, “Pernahkah kalian mendengar dari perempuan pertanyaan yang lebih baik dari pertanyaan ini? Kalau semua itu kalian lakukan dengan sebaik-baiknya, niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang didapatkan suami-suami kalian.”
Kemudian diterima dari Aisyah ra., ia berkata, “Seorang perempuan menemuiku. Ia membawa dua anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Lalu perempuan itu memberikan dua butir kurma kepada anaknya, dan bermaksud untuk memakan sisanya. Akan tetapi kedua anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma tadi jatuh dari tangannya. Akhirnya perempuan itu tidak makan satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu, dan menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.’” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)
Di samping itu, seorang ibu pun bisa mendapatkan pahala yang lebih banyak lagi dengan menyediakan makanan yang halal dan tayib untuk keluarganya ketika sahur dan berbuka sehingga insyaallah keluarganya tetap sehat dan fit menjalankan ibadah puasa. Karena semua amal kebaikan apa pun bernilai pahala, bahkan memberi seteguk air kepada orang berpuasa, pahalanya sama seperti orang berpuasa.
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Tidak hanya itu, orang yang memberi makan saat berbuka puasa juga dijanjikan untuk masuk ke surga. Nabi saw. pernah berkata kepada seorang sahabat, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Nabi Muhammad saw. pun ditanya, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan salat pada malam hari pada waktu manusia tidur.” (HR Tirmidzi)
“Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa pada bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.“
Sahabat-sahabat lain bertanya, “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan, “Jagalah dirimu dari api neraka, walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”
“Barang siapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR Ibnu Huzaimah)
Demikianlah, Ramadan adalah momentum ketika individu, keluarga, dan masyarakat terkondisi untuk dekat dengan Islam. Sumber tuntunan hidup muslim dan rahasia kesuksesan hidup mereka, yaitu Al-Qur’an dan hadis Nabi saw., sedang menjadi sumber bacaan yang diutamakan, media massa masif menebar acara bernuansa kebaikan, interaksi antarindividu dalam keluarga sedang tersuasana untuk saling mendekat dan menguatkan.
Kita berupaya maksimal untuk menjalani Ramadan dengan penuh semangat dan optimis, mengoptimalkan seluruh kemampuan kita untuk bisa melaksanakan semua peran yang telah ditetapkan Allah untuk kita, terutama sebagai ibu.
Semoga Allah memberi kelapangan dan kemudahan kepada kita sehingga kita dan keluarga bisa menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Amin. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]
