Muslimah News, NASIONAL — Ramai pemberitaan seorang ibu hamil (39) asal Kabupaten Subang, Jawa Barat meninggal dunia setelah ditolak RSUD Ciereng Subang pada Rabu malam (16-2-2023).
Suami korban menuturkan kronologi kejadian yang menimpa istrinya. Ia mengatakan jika kondisi sang istri yang makin drop membuat keluarga membawanya ke Puskesmas Tanjungsiang. Namun, menurutnya, karena kondisi tidak membaik, mereka membawanya ke RSUD Ciereng. Kemudian, lanjutnya, pihak RSUD menolak dengan alasan tidak ada surat rujukan dari Puskesmas Tanjungsiang.
“Tidak ada tindakan sama sekali dari RSUD Cierengnya langsung ada saya bawa ke Bandung sama ibu bidan puskesmas pakai ambulans di Puskesmas Tanjungsiang. Istri saya sudah tidak kuat dan meninggal duluan waktu mau ke rumah Sakit di Bandung,” ungkap suaminya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang dr. Maxi menuturkan akan meminta klarifikasi dan menyesalkan kejadian itu bisa terjadi. Maxi berharap peristiwa seperti ini tidak akan terulang lagi.
Gunung Es
Pemerhati kemaslahatan publik, Dr. Rini Syafri memberikan tanggapan atas masalah ini. Rini, begitu ia disapa, menyatakan bahwa kasus Ibu hamil meninggal bagaikan fenomena gunung es.
“Ini adalah fenomena gunung es, satu kejadian adalah petunjuk kejadian sesungguhnya ada puluhan, bahkan ratusan kali lebih banyak,” ujarnya kepada MNews, Rabu (8-2-2023).
Rini membuktikan pernyataannya dengan laporan PBB yang menyatakan satu Ibu meninggal dalam dua menit saat mengandung dan melahirkan.
“Selain itu, data dari Sampling Registration System (SRS) 2018, yakni sekitar 76% kematian ibu terjadi di fase persalinan dan pasca persalinan dengan proporsi 24% terjadi saat hamil, 36% saat persalinan, dan 40% pasca persalinan dengan lebih dari 62% kematian ibu dan bayi terjadi di rumah sakit,” jelasnya.
Abainya Negara
Rini menyampaikan dengan kecewa, jika fenomena menyakitkan ini adalah buah pahit abainya negara dalam merawat kesehatan masyarakat, khususnya Ibu dan anak. “Hal ini sebagai konsekuensi logis dari penerapan politik kesehatan dan peradaban kapitalisme yang berkarakter negatif terhadap kesehatan, termasuk sistem kesehatannya,” tuturnya.
Rini melanjutkan, merawat kesehatan yang dimaksud adalah merawat masyarakat agar tetap sehat dan tidak jatuh sakit. “Melalui pemenuhan kebutuhan dasar mereka, baik yang bersifat fisik dan non fisik yang mucul dari keberadaan naluri. Ketika jatuh sakit segera diobati hingga benar-benar sembuh,” jelasnya.
Rini mengungkapkan bahwa karakter negatif tersebut terbentuk oleh buruknya kemampuan peradaban kapitalisme dalam pemenuhan kebutuhan hidup insan. “Yakni, ketika dunia berputar di sekitar perwujudan nilai materi, menjadi buah pahit kerusakan ideologi sekularisme sehingga kehidupan masyarakat diselimuti berbagai faktor pemicu dan risiko terjadinya penyakit dan kerusakan kesehatan,” jelasnya.
Penderitaan dan Kesengsaraan
Rini memberikan contoh khusus pada ibu hamil. “Buruknya pemenuhan kebutuhan dasar ibu hamil menyebabkan kehidupan mereka diselimuti penderitaan dan kesengsaraan. Hal ini menjadi pemicu sekaligus faktor risiko kesakitan dan kematian yang hadir dalam keseharian hidup mereka. Tecermin dari tingginya pengidap berbagai persoalan kesehatan serius,” urainya.
Ia juga mencontohkan anemia, kurang energi kalori, penyakit penyerta, seperti TBC. “Ini pada usia subur, di saat hamil kondisinya tentu lebih parah lagi. Seiring peningkatan kebutuhan hidup, ketika terjadi perubahan fisiologis dan psikologis normal atas reaksi kehamilan dan kelahiran. Ini karenanya, tidak sedikit di antara mereka pengidap hipertensi, anemia, diabetes, penyakit jantung dan berbagai penyakit infeksi kuman,” tambahnya dengan mengambil data data dari Institut Evaluasi Metrik Kesehatan, Kemenkes (2019).
Rini menegaskan, meski data ini sekitar 4 tahun yang lalu (2019), artinya berbagai program sudah dijalankan pemerintah termasuk agenda transformasi kesehatan khususnya pilar pertama di tiga tahun terakhir, tetapi tersebab pembangunan kapitalistik yang bersifat perusak terhadap kesehatan, termasuk pembangunan di sektor kesehatan dan sistem kesehatannya sendiri juga demikian/perusak kesehatan, maka data itu tidak akan banyak perubahan, bahkan bisa lebih tinggi lagi. “Ini kelalaian negara merawat kesehatan pada aspek upaya preventif dan promotif,” tukasnya.
Tragisnya, sindir Rini, ketika jatuh sakit, ini kelalaian negara merawat kesehatan pada aspek upaya kuratif, alih-alih sembuh, tidak sedikit penyakit bertambah parah bahkan tak jarang berujung kematian, seperti yang terjadi pada kasus ini.
“Ini disebabkan sistem kesehatan kapitalisme begitu rapuh. Tanda-tandanya, seperti harga yang melangit, diskriminatif, administrasi berbelit, buruknya ketersediaan dan distribusi dokter khususnya dokter spesialis. Menurut Rini kondisi ini diperparah oleh buruknya ketersediaan fasilitas kesehatan berikut kelengkapan medis dan nonmedis,” ucapnya.
Rini menegaskan kembali mengenai karakter negatif politik kesehatan. “Karakter negatif politik kesehatan kapitalisme yang merupakan bagian integral dari peradaban kapitalisme dan juga sistem kesehatannya karena bersifat cacat bawaan dari ideologi sekularisme, maka upaya apapun termasuk transformasi kesehatan dan Health in All Policies -HiAP-/kesehatan dalam semua kebijakan, hanya akan memperpanjang penderitaan dan kesengsaraan masyarakat.”
Puncak Kepentingan dan Kenikmatan
Bagi Rini, kesehatan adalah puncak kepentingan dan kenikmatan. “Yaitu, sebaik-baiknya nikmat setelah nikmat iman. Oleh karenanya, dengan perspektif syariat, kesehatan adalah anugerah yang selaras dengan tugas mulia yang diamanahkan Allah Taala di pundak bani insan, khususnya kaum ibu sebagai pilar pencetak generasi berkualitas bagi khalifatul fil ardhi/pemakmur bumi. Tanpa kesehatan fisik, mental yang sosial, yang prima, insan tidak akan mampu menjalankan amanah penting ini,” paparnya.
Sementara itu, terangnya, sejumlah riset membuktikan bahwa hampir setiap insan yang lahir dianugerahi nikmat sehat. “Oleh karenanya, kendati saat hamil terjadi perubahan kondisi fisiologis dan psikologis, tetapi ini adalah reaksi normal, bukan penyakit. Artinya, ketika negara hadir dengan politik kesehatan dan peradabannya bersifat positif terhadap kesehatan, dalam hal ini kesehatan ibu dan anak, maka tidaklah kehamilan dan peristiwa kelahiran berbahaya terhadap kesehatan apa lagi sampai berujung kematian,” jelasnya.
Rini menekankan bahwa karakter positif terhadap kesehatan hanya ada pada politik kesehatan Islam dan peradaban Islam itu sendiri. “Sehubungan potensi dan kemampuan merawat kesehatan setiap insan setidaknya melalui mekanisme. Pertama, berkemampuan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup setiap insan secara benar melalui penerapan Islam secara kafah dan keberadaan masyarakat Islam dengan pola hidup atau life style yang sehat,” ungkapnya.
Baik pemenuhan kebutuhan fisik yang muncul karena berlangsungnya proses fisiologis normal pada setiap manusia, ujarnya, maupun kebutuhan non fisik yang mucul karena keberadaan naluri. “Terpenuhi kebutuhan fisik dan naluri secara benar adalah kunci rahasia terawatnya kesehatan setiap insan sepanjang hayatnya, termasuk Ibu hamil dan melahirkan,” paparnya.
Ia menyebutlan, kedua, politik kesehatan Islam berikut keseluruhan peradaban Islam berkemampuan mumpuni dalam menjamin akses mudah setiap individu masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang menyembuhkan penyakit.
“Artinya, apabila kehamilan dan kelahiran disertai gangguan kesehatan dan hingga jatuh sakit, maka sistem kesehatan Islam akan bekerja menyehatkan, dengan memberikan pelayanan kesehatan gratis, berkualitas, terbaik, yang mudah diakses hingga ke pelosok negeri sekalipun, dan tanpa administrasi yang berbelit. Sebaliknya, pelayanan cepat, tepat akan dilakukan oleh para ahli dan pakarnya pada fasilitas kesehatan dengan kelengkapan medis dan non medis dengan terknologi terbaik bagi kesehatan dan kesembuhan pasien,” jelasnya.
Rini menegaskan, jika pemerintah benar-benar tulus, maka kehadirannya harus menerapkan politik kesehatan, berikut peradaban dan juga sistem kesehatan yang bersifat positif terhadap kesehatan dan kehidupan insan, khususnya Ibu dan anak. “Pada tataran ini, kehadiran peradaban Islam menjadi urgen dan kebutuhan mutlak negeri ini,” tukasnya. [MNews/Hen]
