Muslimah News, NASIONAL— Viral video yang menggambarkan ibu Asmia (33) yang sedang hamil ditandu sejauh 7 kilometer menggunakan sarung dengan sebilah bambu di Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.
Setelah ditandu, barulah ibu Asmia dinaikkan mobil menuju puskesmas yang berjarak tempuh 1 jam. Namun, setelah menempuh perjalanan panjang dan sulit tersebut, ibu dan bayi tidak bisa diselamatkan, keduanya meninggal dunia.
Zalim
Aktivis muslimah Ir. Retno Sukmaningrum, M.T. menyesalkan terjadinya peristiwa ini dan mengkritisi bahwa tampaklah kezaliman penguasa dalam hal ini.
“Sungguh pilu mengetahui Ibu dan anak meninggal di jalan dalam proses persalinan. Ini membuka dan menunjukkan borok kezaliman penguasa,” ujarnya kepada MNews, Senin (09-12-2022).
Ia memandang, terlepas dari adanya tinjauan medis sehingga ibu dan bayinya meninggal, yang jelas tampak adalah begitu sulitnya akses masyarakat dalam memenuhi hajatnya dengan keterbatasan fasilitas jalan.
“Kejadian seperti Asmia sudah acap kali terjadi. Setiap warga yang sakit harus ditandu karena harus menyeberangi sungai besar dengan akses jembatan sempit yang hanya mampu dilewati satu sepeda motor,” tuturnya.
Memang, lanjutnya, kurangnya fasilitas infrastruktur di berbagai wilayah di Indonesia bukanlah berita baru lagi.
“Baik berupa jalan, jembatan, gedung sekolah ataupun fasilitas kesehatan, semua serba minim. Masih sering tampak di berita, anak-anak di pedalaman harus menempuh puluhan kilometer untuk berangkat sekolah. Belum lagi, mereka kadang harus menceburkan diri ke sungai karena akses jembatan yang putus atau rusak,” ungkapnya prihatin.
Namun, Retno mengkritisi, fakta miris tersebut nyatanya tak membuat mata rezim terbuka. “Justru mereka sibuk membangun berbagai proyek infrastruktur di Jawa. Akan tetapi, hasilnya hanyalah proyek mangkrak dan tidak memberi kemanfaatan besar, jika tidak bisa dikatakan kesia-siaan,” urainya seraya mencontohkan pembangunan Bandara Kertajati di Bandung.
Bahkan, ia mengatakan, bandara yang sepi bak kuburan tersebut, kini sudah siap ditawarkan ke investor asing. “Lalu mengapa dulu dibangun?” tanyanya.
Begitu pula, imbuhnya, dengan pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). “Jarak Jakarta Bandung mampu ditempuh dalam waktu singkat dengan kereta yang ada selama ini, tidak membutuhkan kereta cepat. Dengan dana yang membengkak, tampaknya proyek ini pun bakal mangkrak,” ulasnya.
Fatal
Retno menegaskan, lebih fatal lagi ketika rezim berpikir memeratakan pembangunan agar tidak “Jawa centris”, justru yang digadang-gadang menjadi jalan pemerataan adalah dengan pemindahan ibu kota.
“Kalau memang berniat memeratakan kesejahteraan, mengapa harus memusatkan dana hanya pada pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara?” tanyanya lugas.
Ia menerangkan kebutuhan anggaran untuk pembangunan ini hingga 2045 diperkirakan mencapai Rp466 triliun.
“Menkeu SriMulyani sendiri yang menyampaikan bahwa dengan jumlah dana tersebut, pemerintah dapat membangun sekitar 3.107 rumah sakit, 212.785 sekolah dasar, 3.263 ruas tol baru, dan 38.833 puskesmas yang jelas-jelas ini tengah dibutuhkan oleh masyarakat. Tidak perlu menunggu 15-20 tahun lagi. Pembangunan tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat yang merasakan subsidi dan kompensasi Rp502 triliun, terutama di daerah terluar. Kembali lagi pertanyaanya. Untuk siapa proyek tersebut dibuat?” tegasnya.
Tidak Bervisi
Retno menggambarkan, inilah wujud negara yang punya ambisi, tetapi tidak bervisi. “Semua yang dilakukan tidak mempunyai tujuan yang jelas. Hanya sekadar membangun pencitraan dan menutup mata dengan fakta yang ada di depan mata,” cetusnya.
Padahal, ia mengingatkan, penguasa adalah pe-riayah, pengurus urusan rakyat. “Ia akan dihisab akan setiap urusan rakyat yang dilalaikannya. Sungguh, pelalaian penguasa akan urusan rakyatnya adalah bentuk kezaliman. Seharusnya setiap penguasa takut tatkala rakyat yang dizaliminya menengadahkan tangan pada Rabb-Nya,” tukasnya sekaligus menutup dengan sabda Nabi saw. dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim,
“Takutlah kamu akan doa seorang yang terdzalimi (teraniaya), karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara ia dengan Allah.” [MNews/Ruh]
