[Kabar] Apri Hardiyanti: Sistem Saat Ini Tidak Memberikan Ruang bagi Perubahan Sistemis

[Kabar] Apri Hardiyanti: Sistem Saat Ini Tidak Memberikan Ruang bagi Perubahan Sistemis

Muslimah News, NASIONAL — Menyoroti peran pemuda saat ini, aktivis muslimah sekaligus Ketua Kornas Kohati periode 2018—2020 Apri Hardiyanti S.H. menilai, sistem saat ini tidak memberikan ruang bagi pemuda untuk melakukan perubahan sistemis.

“Kita harus menyadari sistem saat ini tidak memberikan ruang sedikit pun bagi kita untuk melakukan perubahan sistemis karena kita sudah dikepung dengan berbagai regulasi yang melemahkan potensi pemuda,” tuturnya.

Ia lalu mengkritisi UU No 40/2009 tentang Kepemudaan yang menyebutkan tujuan pembangunan pemuda adalah membentuk pemuda beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki akhlak mulia, kreatif, memiliki jiwa kepemimpinan, dan kewirausahaan berdasarkan UUD 1945.

“Terwujudnya pemuda yang beriman dan bertakwa itu hanya bayangan ideal yang tidak mungkin terealisasi di sistem saat ini karena setiap generasi muda yang belajar Islam, yang menunjukkan identitas keislamannya itu dilabeli radikal, ekstrem,” kritiknya.

Pada implementasinya, lanjut Apri, narasi sekuler kapitalisme juga sangat mendominasi serta melarang beragama terlalu ekstrem.

“Negara melalui instrumen lembaga dan kementeriannya sibuk membentuk duta-duta moderasi dan duta-duta melawan ekstremisme. Pemuda-pemuda saat ini justru bangga melawan syariat Islam, melawan ekstremisme,” ungakpnya miris.

Kritik berikutnya yang disampaikan Apri terkait akhlak mulia. Menurutnya, saat ini terjadi krisis akhlak, degradasi moral karena nilai agama tidak lagi menjadi standar akhlak.

“Yang dijadikan standar adalah nilai-nilai Hak Asasi Manusia, kesetaraan gender, nilai-nilai liberal. Seperti yang tertuang dalam Permendikbudristek no 30 tahun 2021 yang kontroversi dimana itu legalisasi zina dikampus, legalisasi di kalangan pemuda,” ucapnya memberikan contoh.

Pemberdayaan tentang kepemimpinan dan kewirausahaan pun, kata Apri, tidak bisa mencetak pemimpin umat karena pemuda hanya dicukupkan untuk mandiri, bekerja, memenuhi tuntutan industri agar tidak menjadi beban negara.

“Demikian pula dengan peran politik generasi muda sebatas untuk pemilu, sedangkan peran politik pemuda atau mahasiswa yang kritis, tidak dianggap peran, justru teman-teman mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan zalim itu dipersekusi, dikriminalisasi, dan ditangkap,” sesalnya.

Ia lalu menyimpulkan, potensi pemuda sebagai agen perubahan benar-benar terbajak. “Kekritisannya hanya pada hal-hal yang remeh pada sektor hilir tanpa mereka tahu penyebab dari problematik yang terjadi,” urainya.

Butuh Dukungan

Menurut pengamatan Apri sudah tampak geliat kebangkitan pemuda, tetapi butuh dukungan dari semua pihak dengan memiliki pemahaman yang benar tentang peran pemuda dalam membela Islam kafah.

“Jangan sampai terpedaya dengan model pemberdayaan pemuda ala kapitalis yang justru menghalangi kebangkitan Islam. Kita butuh dukungan dari semua pihak untuk menyatukan visi agar pemuda memiliki kekuatan karena dukungan itu,” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar pemuda ikut kajian intensif sebagai bekal dan modal untuk melakukan perjuangan supaya tidak mudah tergiur dengan tawaran dunia ataupun lemah karena ancaman yang ada.

“Pemuda harus berani dan bangga menyuarakan Islam, jangan takut disebut ekstrem, jangan takut disebut radikal. Mari kita bongkar narasi-narasi busuk yang selalu menjadikan syariat Islam sebagai tertuduh di negeri ini, serta mencerdaskan umat dengan Islam kafah,”pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *