Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Muslimah News, RISALAH KEPEMUDAAN — Tren keluarga muslim menyekolahkan putra-putrinya ke pesantren atau sekolah Islam, ibarat gelombang masif. Tidak heran, hal itu sebagai respons terhadap makin pekatnya sekularisme dan penyesatan profil pemuda muslim. Bagaimanapun, mereka berpikir bahwa Islam adalah jalan keselamatan dunia dan akhirat.
Langkah para orang tua ini tentu tidak salah, malah sangat perlu kita dukung dan apresiasi. Terlebih ketika bicara data. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, pada Juni 2021, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 272,23 juta jiwa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 236,53 juta jiwa (86,88%) beragama Islam. Sementara itu, per 30 Juni 2022, Indonesia didominasi oleh penduduk kategori produktif (usia 15—64 tahun) sebanyak 190.827.224 jiwa (69,30%) dan penduduk kategori usia muda/remaja (0—14 tahun) sebanyak 67.155.629 jiwa (24,39%).
Namun demikian, jumlah besar remaja muslim itu di sistem sekuler tidak ubahnya pisau bermata dua. Jika salah arah, mereka akan menjadi generasi sampah. Sekularisme yang tumbuh subur di negeri ini menjadi ancaman setiap saat bagi para remaja. Mereka makin sekuler, menjadi jauh, bahkan tidak kenal agama.
Lihat saja, betapa buram dan suramnya kondisi remaja di luar tembok pesantren maupun sekolah Islam. Kita tidak bisa menampik realitas rusaknya remaja muslim. Bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia (1-12-2022), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merilis data kasus HIV pada anak di bawah 14 tahun di Indonesia sebanyak 12.553 kasus. Kemenkes juga menyatakan, jika dahulu kasus HIV/AIDS pada anak muda adalah akibat pemakaian jarum suntik yang bergantian, tetapi sekarang cenderung akibat hubungan seksual.
Belum lagi maraknya penggunaan narkoba, tingginya angka kenakalan remaja dan pemuda pelaku L687, meningkatnya konsumerisme dan hedonisme mereka, serta menjamurnya transaksi keuangan digital (e-commerce, pinjol) berbasis riba di kalangan anak muda, merupakan secuil bukti rusaknya generasi muda akibat tidak paham Islam sebagai aturan kehidupan.
Sungguh miris, Islam hanya menjadi pengisi kolom agama di KTP. Ini benar-benar bencana! Padahal, mereka semestinya memanfaatkan masa mudanya sebagai waktu terbaik membina diri mengemban misi di dunia dalam rangka meraih visi akhirat. Pada titik ini, jelas sangat urgen untuk kita terus berupaya mengenalkan Islam pada para remaja. Kita tidak boleh berhenti membina mereka.
Hendaklah kita ingat pesan Rasulullah saw., dari Ibnu Abbas beliau saw. bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim). [MNews/Gz]

Miris, akibat hidup dalam sistem kapitalisme