Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA — Dalam Islam, pernikahan tidak sekadar menyatukan dua orang yang saling mencintai karena Allah, tetapi merupakan bagian dalam menjalankan perintah agama dan mengikuti sunah yang sudah dicontohkan oleh Rasululllah saw..
Ini karena seluruh aktivitas terkait pernikahan, baik sebelum, ketika terjadinya akad, ataupun sesudah pernikahan seluruhnya harus mengikuti tuntunan syariat Islam. Selain itu, Islam menuntun kita untuk menjaga adab terhadap pasangan. Jika semua ini dijaga, maka biidznillah kehidupan pernikahan akan diliputi dengan kebahagiaan dan ketenteraman.
Adab merupakan bagian dari akhlak Islam yang diperintahkan Allah dan Rasulullah saw.. Setiap muslim hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah maupun bermuamalah, termasuk berinteraksi dengan pasangan kita, bahkan dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun.
Sebaliknya, syariat telah melarang kaum muslimin dari akhlak tercela. Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa Rasulullah saw.?pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).
Lalu, seperti apa adab terhadap pasangan? Dalam kesempatan ini, kita akan membahas seperti apa Islam mengajarkan adab seorang suami terhadap istrinya.
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 442) menjelaskan tentang adab seorang suami terhadap istri sebagai berikut, “Adab suami kepada istrinya yaitu bergaul dengan baik, bertutur kata yang lembut, menunjukan cinta kasih (suami kepada Istri), bersikap lapang (sabar) ketika sendirian, tidak selalu menjadikan Istri sebagai tertuduh, memaafkan Istri, menjaga harta Istri, tidak sering berdebat dengan istri, memberi nafkah yang pantas, memuliakan keluarga Istri, berjanji dengan baik dan menepatinya, menunjukan semangat kepada istri.”
1. Bergaul dengan baik.
Bagaimanapun, suami adalah pemimpin keluarga, pelindung bagi istri dan anak-anaknya, sudah seharusnya ia bergaul secara makruf dengan anggota keluarganya. Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik dalam mempergauli istri dan keluarganya. Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau, dan bercumbu rayu dengan istri beliau.
Beliau setelah selesai salat Isya, misalnya, biasa mengobrol sebentar dengan keluarganya sebelum beranjak ke peraduan. Nabi saw. memosisikan diri sebagai seorang suami yang memperlakukan istri dengan baik, sebagai orang yang sempurna imannya, sebagaimana sabdanya, “Paling sempurnanya orang-orang beriman yakni orang yang baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik pada istrinya.” (HR Tirmidzi).
Aisyah ra. bertutur bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluarganya. Aku adalah yang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku.” (HR at-Tirmidzi)
2. Bertutur kata yang lembut.
Adab suami terhadap istri, hendaknya suami berbicara dengan bahasa yang lembut dan menghindari kata-kata kasar serta caci maki yang bisa menyakiti istri. Nabi Muhammad saw. pun berpesan kepada para suami, agar mereka memperlakukan istrinya dengan baik, termasuk di dalamnya bersabar dalam menasihatinya, serta tidak menyakitinya.
Sabdanya, “Ketahuilah, berwasiatlah tentang kebaikan terhadap para wanita (para istri) karena mereka hanyalah tawanan di sisi (di tangan) kalian, kalian tidak menguasai dari mereka sedikit pun kecuali hanya itu, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Bila mereka melakukan hal itu, kurunglah mereka di tempat tidurnya dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Namun, bila mereka menaati kalian, tidak ada jalan bagi kalian untuk menyakitinya.“ (HR Tarmizi)
Dalam kitab Raudhatul Muttaqin, Syekh Hasan Al Basri mengatakan, hakikat ahsanul khuluq adalah betul-betul mencurahkan kebaikannya pada istri dan tidak pernah menyakiti istri, baik melalui ucapan, muka, atau dengan gerak-geriknya.
3. Menunjukkan cinta kasih.
Pertautan hati antara dua insan, pasangan berbeda jenis kelamin yang dilandasi cinta karena Allah dan diikat dengan pernikahan merupakan ikatan sangat kuat. Tidak ada keindahan melebihi indahnya kedua pasangan suami istri yang menjalani kehidupan berumah tangga karena Allah dan sesuai dengan syariat Islam. Oleh karenanya, sudah seharusnya pasutri selalu merawat pernikahan dengan baik.
Untuk itu, hendaknya seorang suami tidak segan-segan untuk selalu menunjukkan cinta dan kasih sayangnya kepada istri. Hal ini akan memupuk rasa cinta dan sayang di antara keduanya, meniti jalan menuju surga Allah bersama-sama, sebagaimana firman Allah Swt.,
ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ أَنتُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ تُحۡبَرُونَ
“Masuklah kamu dan istri-istrimu ke dalam surga, kamu sekalian akan diberikan nikmat yang banyak (digembirakan).” (QS Az-Zukhruf: 70)
4. Bersikap lapang ketika sendiri.
Pada faktanya, pasutri tidak selalu bersama-sama selamanya, ada kondisi suami harus bepergian karena tuntutan dakwah atau pekerjaan. Demikian halnya ada kondisi yang mengharuskan istri menjenguk orang tuanya atau ada kepentingan dakwah, misalnya sehingga sementara berpisah dengan suaminya. Tentu saja kepergian istri atas izin suami. Ketika situasi seperti ini harus dijalani, suami hendaknya bisa mandiri sehingga jika harus sendirian di rumah, dapat mengurus diri tanpa mengeluh, apalagi menyalahkan istri.
5. Tidak terlalu mempersoalkan kesalahan istri.
Manusia mana pun tidak luput dari kesalahan, meskipun mungkin sudah berusaha bersikap hati-hati. Tidak setiap kesalahan harus dipersoalkan sampai berlarut-larut karena dapat memperburuk hubungan. Persahabatan suami istri akan mengantarkan kepada ketidakrelaan pasangannya melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak.
Saling memberi nasihat merupakan wujud suatu hubungan yang saling mencintai karena Allah Swt. Sebab, tujuannya adalah untuk menjaga ketaatan kepada Allah Swt. dan menjauhkan pasangannya dari bermaksiat kepada-Nya. Nasihat yang disertai komunikasi yang tepat (lemah-lembut dan tidak menjustifikasi kesalahan) akan membuat pasangan yang dinasihati merasakan kesejukan dan ketenteraman dalam menerima masukan.
6. Memaafkan jika istri salah.
Kehidupan suami istri tidak ada yang sempurna, terkadang didera berbagai kelemahan, kesalahpahaman, dan pertengkaran kecil. Hal-hal ini akan dapat merenggangkan hubungan persahabatan satu sama lain. Pada saat istri melakukan sesuatu hal yang menimbulkan kemarahan, maka langkah yang perlu dilakukan oleh para suami adalah menahan marah dan memaafkan.
Saling memaafkan satu sama lainnya adalah kunci untuk memelihara pergaulan yang makruf di antara suami istri. Terlebih, dalam Islam, memaafkan sangatlah dianjurkan, karenanya suami, baik diminta atau tidak hendaknya bisa memaafkan kesalahan istri. Memaafkan adalah akhlak yang sangat terpuji dan menunjukkan jiwa besar.
7. Menjaga harta istri.
Harta yang diperoleh istri dari warisan, pemberian orangtuanya, ataupun bekerja adalah murni menjadi miliknya. Tidak ada seorang pun yang boleh mengambilnya, kecuali dengan kerelaan istri. Oleh karena itu, seorang suami hendaknya menjaga harta itu dengan baik dengan tidak mengeklaim sebagai harta miliknya dan tidak menggunakannya kecuali dengan izin istrinya.
Hal ini dapat dipahami dari ayat Al-Qur’an tentang mahar, dalam QS An-Nisaa ayat 4, yang artinya “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”
Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya, kecuali atas kerelaan istri juga. Khusus masalah gaji istri yang bekerja, semuanya menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta itu sedikit pun, kecuali dengan kerelaan hati istrinya.
8. Tidak banyak mendebat.
Kehidupan rumah tangga memang tidak selalu berjalan mulus, kadang muncul permasalahan sehingga membutuhkan adanya diskusi dengan pasangan. Terkadang terjadi perdebatan di antara pasutri untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut. Tentu saja ini semua harus dihadapi bersama dengan kematangan berpikir, berlapang dada, berprasangka baik, dan tidak saling menyalahkan dan berdebat terus menerus satu sama lain.
Komunikasi menjadi kunci utama dalam pernikahan yang akan membebaskan pasangan dan anggota keluarga lainnya dari kecurigaan, pikiran negatif, dan kecemasan. Tanpa komunikasi, cinta kita akan layu, kering, dan akhirnya matilah romantisme kehidupan keluarga. Komunikasi yang baik dengan pasangan dan keluarga memiliki peranan yang penting untuk merawat naluri kasih sayang dalam kehidupan rumah tangga.
9. Mengeluarkan biaya untuk mencukupi kebutuhan istri secara tidak bakhil.
Islam telah memberikan tanggung jawab kepada seorang laki-laki untuk menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya, termasuk istri dan anak-anaknya (QS Al-Baqarah : 233). Sudah seharusnya seorang suami memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga secara makruf. Banyak hadis yang menjelaskan tentang pahala dan pujian yang diberikan oleh Allah kepada laki-laki yang bersungguh-sungguh mencari rezeki halal untuk menafkahi anggota keluarganya.
Nabi saw. bersabda, “Sungguh tidaklah kamu menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti), kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), termasuk makanan yang kamu berikan kepada istrimu.”(HR Bukhari)
Sabda lainnya, “Makanan yang kamu berikan untuk anakmu, dinilai sebagai sedekah. Begitu juga, makanan yang kamu berikan bagi istrimu, bernilai sedekah untukmu. Termasuk, makanan yang kamu beri untuk pembantumu, adalah juga sedekah.” (HR Ahmad)
10. Memuliakan keluarga istri.
Secara naluri, istri umumnya memiliki hubungan emosional yang kuat dengan keluarganya. Demikian pula sebaliknya. Karena itu, adab seorang suami kepada istri dalam hal ini, suami hendaknya dapat bersikap baik terhadap keluarga istri dengan menghormati mereka. Sikap sebaliknya akan melukai perasaan istri.
Bagi seorang perempuan, setelah menikah, kewajiban utamanya berubah. Dari yang semula berbakti kepada orang tua, setelah menikah kewajiban utamanya berbakti kepada suaminya. Dalam hal ini keduanya harus saling memahami.
Suami tidak boleh semena-mena pada istrinya, tetap memberi kesempatan dan mendorong istrinya untuk berbakti pada orang tuanya. Dari Abdullah bin ’Amru ra, Rasulullah saw bersabda, “Rida Allah tergantung pada rida orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
11. Senantiasa memberi janji yang baik.
Menjanjikan sesuatu yang baik kepada istri adalah baik, terutama untuk mendorong kebiasaan yang baik dalam keluarga. Hanya saja jangan sampai sekadar mengumbar janji, karena hal ini akan memicu ketidaktenteraman dalam keluarga.
Mengingkari janji adalah haram, selain itu, tidak dimungkiri bahwa hal ini akan menimbulkan ketidakpercayaan istri kepada suami. Apalagi jika tidak satu dua kali dilakukan. Oleh karena itu, janganlah seorang suami mudah mengobral janji hanya demi untuk menyenangkan istri, tetapi kemudian melupakan dan menyelisihi janjinya sendiri.
12. Selalu menunjukan semangat terhadap istri.
Gairah hidup berumah tangga harus selalu dirawat. Suami dapat menunjukkan semangatnya dalam berinteraksi dengan istri, termasuk dalam memenuhi nafkah lahir dan batin. Memanggil istri dengan panggilan sayang sebagaimana yang Rasulullah contohkan serta tidak menampakkan kecenderungannya kepada perempuan lain di hadapan istrinya.
Di sisi lain seorang suami harus menunjukan semangatnya dalam memenuhi kewajibannya, termasuk mencari nafkah. Ini semua akan semakin menguatkan ikatan di antara keduanya.
Demikianlah, betapa indahnya kehidupan pernikahan jika syariat Islam senantiasa diterapkan di dalamnya dan adab terhadap pasangan selalu ditegakkan. Jika ini semua terjadi, maka sungguh kebahagiaan rumah tangga akan semakin sempurna. Pahala dan keberkahan akan terus tercurah kepada keluarga kita, semoga. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]
