Suami Membantu Istri, Mengapa Tidak?

Suami Membantu Istri, Mengapa Tidak?

Penulis: Najmah Saiidah

Muslimah News, KELUARGA — Islam telah memberikan aturan yang khusus kepada suami dan istri untuk mengemban tanggung jawab masing-masing dalam kepemimpinan rumah tangga. Suami sebagai kepala dan pemimpin keluarga, sedangkan istri sebagai pemimpin rumah suaminya, sekaligus menjadi pemimpin bagi anak-anaknya.

Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir (kepala pemerintahan) adalah pemimpin rakyatnya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin rumah tangga yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari Muslim).

Peran kepemimpinan dalam hadis ini sama sekali tidak menunjukkan adanya legitimasi atau superioritas derajat yang satu atas yang lain. Pemimpin negara tidak dianggap lebih mulia dari rakyatnya. Seorang laki-laki sebagai suami tidak pula dianggap lebih mulia dibandingkan dengan istri dan anak-anaknya. Kepemimpinan adalah tanggung jawab dan amanat yang dibebankan oleh Allah Swt. untuk dilaksanakan, selanjutnya dipertanggungjawabkan sebagai sebuah amal ibadah.

Ini berkaitan dengan peran dan fungsi suami istri dalam rumah tangga, lalu bagaimana dengan pelaksanaan berbagai pekerjaan rumah tangga?

Pembagian Peran dalam Pekerjaan Rumah Tangga, Bagaimana Pandangan Islam?

Sesungguhnya Islam telah mengatur pembagiannya dengan sangat detail. Syekh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitab An-Nizhamul Ijtima’iy menjelaskan bahwa seorang istri wajib melayani suaminya, seperti menanak nasi, memasak, membersihkan rumah, menyediakan minuman jika suami memintanya, menyiapkan makanan untuk dimakan, serta melayani suaminya dalam seluruh perkara yang harus dilakukannya di dalam rumah. Sebaliknya, suami wajib menyediakan apa saja yang dibutuhkan oleh istrinya yang berasal dari luar rumah, seperti menyediakan air dan apa saja yang diperlukan untuk membersihkan kotoran dan keperluan-keperluan lainnya.

Ringkasnya, semua aktivitas yang harus dilakukan di dalam rumah menjadi kewajiban istri untuk melakukannya. Sebaliknya, semua aktivitas yang harus dilakukan di luar rumah menjadi tanggung jawab suami untuk mengerjakannya. Sebagaimana hadis berkaitan dengan kisah ‘Ali dan Fathimah ra., “Rasulullah saw. telah memutuskan atas putri beliau, Fathimah, wajib mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah dan atas ‘Ali wajib mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah.”

Faktanya, memang tidak sedikit para suami yang enggan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan rumah istri, padahal tidak bisa dimungkiri bahwa pekerjaan di dalam rumah sangatlah banyak dan tidak semuanya ringan atau mudah untuk dilakukan. Dengan demikian, kadang seorang istri agak kewalahan menjalaninya dan semua itu harus dilakukan setiap hari, selama hidupnya, sampai akhir hayatnya. Setiap hari istri harus bangun lebih pagi untuk menanak nasi, menyiapkan sarapan, menyiapkan kebutuhan sekolah anak, dan lain sebagainya.

Benar bahwa ini semua adalah kewajiban seorang perempuan sebagai istri dan ibu. Akan tetapi, ketika seorang istri merasa berat, maka sesungguhnya Islam tidak melarang ketika ia meminta bantuan orang lain atau menggaji seseorang, tentu saja dengan izin suaminya. Hanya saja jika suaminya tidak menghendakinya, sang istri tidak boleh memaksanya.

Akan tetapi, tidak lantas suami membiarkan istrinya menanggung beban itu terus-menerus sendirian, sudah seharusnya seorang suami membantu meringankannya. Di sinilah sesungguhnya ada ladang pahala bagi para suami untuk membantu istrinya terkait pekerjaan di dalam rumah. Inilah kesempatan para suami untuk membantu istrinya sekaligus menapak tilas apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. terhadap istri beliau. Tentu saja ini semua akan berbuah pahala.

Hal ini pernah dicontohkan oleh keluarga Ali bin Abu Thalib dan istrinya Fatimah binti Muhamad. Keduanya selalu bekerja sama dan saling bantu dalam mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Fatimah membuat tepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sendiri. Ia membuat roti, menyapu lantai, dan mencuci. Hampir tidak ada pekerjaan rumah tangga yang tidak ditanganinya sendiri.

Pada suatu hari Rasulullah datang menjenguk Fatimah ra., tepat pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung. Beliau terus bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?” “Fatimah!” jawab Ali. Fatimah lalu berhenti, diganti oleh ayahandanya menggiling tepung bersama Ali ra..

Rasulullah saw. Adalah Contoh Terbaik

Kehidupan rumah tangga Rasulullah saw. dengan istri-istrinya merupakan teladan bagi setiap muslim dan muslimah. Terhadap teladan ini kita berkewajiban mengambil hikmah dan pelajaran dalam mengelola rumah tangganya sehingga benar-benar menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah dalam lindungan sistem Islam.

Merupakan kebiasaan Nabi saw. membantu pekerjaan istrinya di rumah, ‘Aisyah ra. berkata, “Rasulullah saw. dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu salat, maka beliau pun pergi salat.” (HR Bukhari).

Itulah jawaban Aisyah ra, ketika mendapat pertanyaan dari Al-Aswad. Kala itu Al-Aswad menanyakan tentang apa yang dikerjakan oleh Rasulullah saat sedang bersama dengan keluarga beliau.

Dalam hadis lainnya, ‘Aisyah ra. menceritakan bahwa Nabi saw. kerap mengerjakan hal-hal sederhana untuk membantu istri-istri beliau. Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah saw. jika ia bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (HR Ibnu Hibban)

Aisyah binti Abu Bakar pernah ditanya oleh salah seorang sahabat, “Apakah yang Nabi lakukan ketika berada di rumah bersama istrinya?”  Kemudian Aisyah menjawab, “Dahulu Nabi biasa membantu pekerjaan rumah keluarganya.” (HR Bukhari)

Akhlak beliau dalam berumah tangga memang sangat istimewa. Bahkan sebagai laki-laki pilihan Allah Swt., beliau masih sangat menghargai pendamping hidupnya. Salah satunya adalah dengan membantu pekerjaan rumah istri beliau.

Wahai para Suami, Membantu Istri Merupakan Amalan Terpuji

Sudah selayaknya kita mensuriteladani apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw., agar kita menjadi orang yang mulia di hadapan Allah Swt.. Berbuat baik pada istri, dengan membantu pekerjaan rumahnya merupakan bentuk akhlak terpuji dari seorang suami. Dalam beberapa hadis Rasulullah saw. telah dijelaskan bahwa sebaik-baik akhlak seseorang adalah yang paling baik terhadap istrinya. Rasulullah saw. bersabda,

لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya.” (HR At-Tirmidzi)

Seorang suami di rumah bersama istri dan keluarganya sudah seharusnya tidak bersikap kaku, gengsi, bahkan kasar. Namun, harus ramah dan berlapang-lapang dengan keluarga dan istrinya, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw..

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” 

Hadis ini menegaskan bahwa perlakuan dan perhatian beliau terhadap keluarga sangatlah besar. Penuh dengan cinta kasih dan akhlak terpuji hingga kebahagiaan menaungi keluarga Rasulullah.  

Dari banyak hadis Rasulullah saw. ini dan apa yang kerap dilakukan Rasulullah saw. di rumahnya dalam membantu istrinya, sudah seharusnya para suami membantu istrinya. Tidak saja karena hal ini bisa meringankan beban istrinya, tetapi karena membantu istri merupakan amalan terpuji dalam pandangan Islam.

Lebih dari itu, membantu pekerjaan yang sederhana saja akan membuat senang dan bahagia para istri, semisal menyapu teras saja, mengepelnya, mencuci piring dan lainnya. Tentu saja hal ini akan bisa menjaga keharmonisan keluarga.

Tidak dimungkiri bahwa tidak sedikit para suami menganggap ringan atau remeh pekerjaan istrinya sehingga mereka enggan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan rumah istri. Suami yang baik adalah lelaki yang tidak sungkan membantu istri menggarap pekerjaan rumah tangga.

Mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga sesungguhnya bukanlah sesuatu yang merendahkan derajat suami. Istri akan makin mencintai suaminya apabila senantiasa mendapat bantuan dari suami dalam mengerjakan kewajiban-kewajibannya di dalam rumah.

Demikianlah, sudah seharusnya seorang laki-laki menanamkan dalam dirinya bahwa ia adalah sosok suami yang terbaik bagi istri dan sosok ayah yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. Ini akan terwujud dengan senantiasa meneladan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw., termasuk dalam membantu pekerjaan istrinya di rumah.

Dengan demikian, biidznillah rumah tangga akan senantiasa terhindar dari hal-hal yang buruk, selalu dipenuhi keberkahan, dan akan makin bertambah harmonis. Akhirnya, konsep keluarga yang sakinah pun akan tercapai dengan sendirinya. Semoga. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]

Foto sampul: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *