Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Ketika Hisyam bin Abdul Malik wafat di Ar-Rashafah pada Rabiulakhir 125 H, Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik bin Marwan (Al-Walid II) menyalatinya, kemudian ia dibaiat sebagai khalifah sepeninggal pamannya pada hari itu juga. Kepemimpinannya hanya berlangsung selama satu tahun. Al-Walid II dibunuh di istananya yang berada di sebuah perkampungan bernama Al-Bukhra pada Kamis 28 Jumadilakhir 126 H dalam sebuah kudeta berdarah yang dipimpin saudara sepupunya Yazid bin Al-Walid bin Abdul Malik.
Melanjutkan Proyek Kesejahteraan Rakyat
Al-Walid II mengawali pemerintahannya dengan menambah gaji angkatan bersenjata. Hal ini dilakukannya karena banyaknya keuangan Baitulmal yang ditinggalkan Hisyam bin Abdul Malik, khalifah sebelumnya. Al Walid II pun memanfaatkan harta Baitulmal untuk proyek-proyek kesejahteraan masyarakat.
Ibnu Katsir menuturkan, “Kemudian Al Walid II memperlihatkan sikap dan perilaku yang baik di masyarakat pada awal pemerintahannya. Ia memerintahkan pemberian fasilitas kepada orang-orang yang menderita penyakit kronis, cacat, dan buta. Masing-masing berhak mendapatkan pembantu yang melayaninya. Ia juga mengeluarkan dana dari Baitulmal untuk aktivitas sosial dan umat Islam yang membutuhkan. Ia juga menambahkan gaji warganya, terutama penduduk negeri Syam dan para pendatang. Al-Walid bin Yazid adalah seorang dermawan, layak mendapat apresiasi dan seorang penyair agung. Setiap kali ia dimintai sesuatu, pastilah jawabannya ‘Ya.’.”
Kudeta dan Pembunuhan terhadap Al–Walid II
Pemberontakan terhadap Al-Walid II tidak berasal dari kaum Khawarij, kelompok Syiah, ataupun musuh-musuh Bani Umayyah lainnya, melainkan dari kalangan saudara sepupunya sendiri yang dipimpin Yazid bin Al Walid bin Abdul Malik.
Di samping itu, fanatisme kesukuan juga memainkan peran penting dalam kudeta ini. Suku Yaman berdiri di belakang Yazid bin Al-Walid.
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa salah satu yang menjadi bumerang terhadap Al-Walid II sehingga menyebabkan kematiannya adalah tindakannya merusak hubungan dengan saudara-saudara sepupunya, yakni anak-anak Hisyam dan Al-Walid yang keduanya adalah putra Abdul Malik.
Ditambah lagi dengan tindakannya merusak hubungan dengan kelompok Yaman, padahal mereka adalah prajurit terkuat di Khurasan, yakni ketika Al-Walid II menyerahkan Khalid bin Abdullah Al-Qusari kepada rivalnya, Yusuf bin Umar ats-Tsaqafi, Gubernur Irak yang kemudian terus menerus menghukum Khalid hingga tewas. Oleh karena itu, kelompok Yaman berbalik melawannya, menyatakan pembangkangan terhadapnya, dan berakhir dengan pembunuhan Al-Walid II.
Ibnu Jarir juga meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Al-Walid II menjatuhi Sulaiman bin Hisyam saudara sepupunya hukuman cambuk seratus kali, mencukur rambut dan jenggotnya, kemudian mengasingkannya ke Oman, dan memasukkannya ke penjara di sana. Ia juga memenjarakan Yazid bin Hisyam.
Terbunuhnya Al-Walid II dan Terpecahnya Bani Umayyah
Pembunuhan Khalifah Al-Walid II merupakan awal kebinasaan negara Bani Umayyah. Sebagian anggota Bani Umayyah menyadari bahaya akibat kudeta terhadap khalifah bagi seluruh Bani Umayyah. Salah seorang di antara mereka adalah Abbas bin Al-Walid, adik Yazid si pemimpin kudeta. Abbas sudah berusaha mencegah kakaknya agar tidak melakukan kudeta dan mengingatkan dampak buruknya.
Abbas bin Al-Walid saat itu menjadi Wali Kota Armenia. Ia mengirim surat kepada Sa’id bin Abdul Malik bin Marwan saudara sepupunya. Ia meminta Sa’id untuk mencegah masyarakat mencabut baiat mereka bagi Khalifah Al-Walid II. Abbas juga menjelaskan kepada Sa’id berbagai dampak negatif kudeta.
Di antara nasihat yang disampaikan Abbas bin Al-Walid, “Aku benar-benar takut kepada Allah jika aku tidak mencegah mereka karena aku tahu betul perpecahan berdampak kerusakan agama dan dunia. Aku juga tahu kekuasaan suatu kaum hanya akan pindah ketika mereka tercerai-berai. Apabila persatuan mereka telah terkoyak, maka musuh-musuh mereka rakus melahapnya.”
Namun, upaya Sa’id bin Abdul Malik gagal, sebagaimana gagalnya usaha Abbas bin Al-Walid dalam menghentikan pemberontakan terhadap Khalifah Al-Walid II. Akibatnya Khalifah Al-Walid II dibunuh dan mulailah negara berjalan menuju kehancurannya.
Dampak langsung pembunuhan sang khalifah itu adalah terpecahnya Bani Umayyah sendiri, mereka saling menyerang satu sama lain. Perpecahan Bani Umayyah ini mengharuskan mereka kehilangan kubu Arab terbesar yang selama ini memiliki andil besar dalam pendirian Dinasti Umayyah dan menjadi salah satu pilar terpentingnya, yaitu kelompok Arab Yaman di negeri Syam dan Khurasan. Kelompok Yaman ini tidak hanya menarik dukungan mereka terhadap Bani Umayyah, tetapi juga berubah memusuhi mereka. [MNews/Rgl]
Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, Pustaka Al-Kautsar
Foto sampul: Audley Travel
