Politik Luar Negeri Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Politik Luar Negeri Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sejarah mencatat begitu luar biasanya politik dalam negeri Khalifah Umar bin Abdul Aziz karena mampu menyejahterakan seluruh warga negara, muslim maupun nonmuslim. Hal ini karena Umar bin Abdul Aziz berhasil mereformasi administrasi dan keuangan negara dengan sangat baik sesuai dengan tuntunan syariat. Bahkan, untuk politik luar negeri, ternyata Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun memiliki strategi yang sangat ideal.

Strategi di Wilayah yang Baru Ditaklukkan

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mempertimbangkan wilayah negara yang makin luas dan bisa jadi muncul problematik baru akibat luasnya wilayah negara. Dari persoalan di dalam daerah yang baru bergabung hingga masalah perbatasan atau titik terluar wilayah negara.

Terhadap daerah yang baru bergabung dengan Daulah Islam, Khalifah membuat strategi memperkenalkan Islam kepada warganya secara bijak dan rinci serta memberikan keteladanan yang baik dari pasukan muslim yang berdiam di sana.

Penduduk setempat pun mudah menerima Islam karena di dalam Islam mereka mendapatkan segala hal yang mereka butuhkan, baik yang bersifat spiritual maupun materiel. Bahkan, memperoleh kebahagiaan di kehidupan dunia dan nanti di akhirat.

Strategi khalifah ini terbukti membuat pergerakan masyarakat untuk masuk Islam makin besar. Bahkan, menjadi magnet bagi penduduk yang tinggal di dekat daerah-daerah yang baru ditaklukkan. Mereka datang berbondong-bondong ke Daulah Islam untuk memeluk agama Islam.

Menyikapi situasi dan kondisi yang menggembiarakan ini, Amirulmukminin mengirimkan para juru dakwah dan ulama terbaik ke daerah-daerah perbatasan. Para ulama tersebut mengajarkan Islam kepada orang-orang yang baru memeluk Islam.

Mengirim Surat kepada para Amir Negeri Tetangga

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga berkorespondensi dengan para raja atau amir berbagai negeri untuk mengajak mereka masuk Islam. Ia mengirimkan surat kepada para Amir Tranxosiana dan para Raja Sindh. Mereka tetap dipersilakan berkuasa di negeri mereka dan memperoleh hak dan kewajiban yang sama seperti halnya umat Islam.

Surat-surat itu sampai kepada mereka ketika mereka sudah banyak mendengar tentang kepribadian dan keadilan sang khalifah sehingga mereka dengan mudah menerima dakwah tersebut dan mau masuk Islam, bahkan mengganti nama mereka dengan nama-nama Arab.

Allah Swt. berfirman, “Ketika kemenangan Allah telah datang dan penaklukan. Dan kamu melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah dalam jumlah banyak. Maka muliakanlah (Dia) dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampunan kepada-Nya.” (QS An–Nashr: 1—3)

Musuh Mengakui Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz

Reputasi Umar bin Abdul Aziz sebagai kepala negara melampaui batas-batas Daulah Islam. Sumber-sumber sejarah meriwayatkan ketika delegasi yang dikirim Khalifah Umar bin Abdul Aziz tiba di hadapan Kaisar Romawi, datanglah berita wafatnya Umar melalui mata-mata Kaisar Romawi.

Kaisar Romawi mengundang pemimpin delegasi tersebut. Kepadanya sang Kaisar bertanya, “Tahukah engkau, mengapa kuundang kemari?”

“Tidak,” jawabnya.

Sang Kaisar berkata, “Orang kepercayaanku mengirim surat kepadaku bahwa lelaki saleh Umar bin Abdul Aziz telah wafat.”

Pemimpin delegasi pun menangis mendengarnya. Kaisar kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis? Apakah engkau menangisi dirimu sendiri ataukah menangisi kepergiannya ataukah menangisi pemeluk agamamu?”

“Aku menangisi semuanya,” jawabnya

Kemudian kaisar Romawi berkata kembali, “Tangisilah dirimu sendiri dan pemeluk agamamu. Sedangkan Umar tidak perlu kau tangisi karena Allah tidak akan mengumpulkan padanya ketakutan dunia dan ketakutan akhirat. Aku tidak kagum pada ahli ibadah yang sembahyang di dalam mihrabnya dan meninggalkan dunia. Namun, aku kagum pada orang yang dunia berada dalam genggamannya, lantas ia meninggalkannya.”

Lalu sang Kaisar menambahkan, “Aku mendapatkan informasi tentang kebajikan, keutamaan, dan kejujurannya. Andaikan setelah Isa ada orang yang mampu menghidupkan orang mati, aku yakin ialah orangnya. Aku telah mendapatkan informasi tentang dirinya, baik lahir maupun batin. Akupun menilai antara ia dan Tuhannya satu, bahkan batinnya jauh lebih satu lagi ketika sedang berduaan dengan Tuhannya.”

Selama dua tahun sekian bulan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, berbagai strategi beliau canangkan dan jalankan. Baik dalam politik dalam negeri maupun luar negeri sehingga sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz berhasil meluruskan arah perjalanan negara Islam.

Umar bin Abdul Aziz begitu disenangi dan dihormati oleh siapa pun, bahkan oleh kelompok semisal Khawarij dan Syiah. Bahkan, para pemimpin negara musuh pun menaruh hormat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan mengakui kepemimpinannya. [MNews/Rgl]

Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, Pustaka Al-Kautsar

Foto sampul: Istimewa

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *