Kepedulian Atas Anak Palestina Sekadar Lip Service, di Mana Posisi PBB Sebenarnya?

Kepedulian Atas Anak Palestina Sekadar Lip Service, di Mana Posisi PBB Sebenarnya?

Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq

Muslimah News, OPINI — Konflik Israel dan Palestina bukanlah konflik sederhana. Sejak 1947, ketika PBB memberikan keputusannya, Palestina terbagi menjadi dua, rakyat Palestina dan untuk entitas Yahudi sebagian lainnya. Hingga kini, Yahudi dengan “Negara Israel”-nya terus saja melakukan pembantaian atas bumi para Nabi ini.

Sepanjang 2022, sebanyak 97 rakyat Palestina ditembak oleh tentara Zionis. Tahun lalu, 78 anak-anak Palestina menjadi korban dan 637 ditahan. Jumlah ini hanya dalam kurun setahun, belum jumlah anak Palestina keseluruhan sejak penyerangan Israel pertama kali.

Berdasarkan data itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres merasa prihatin. Ia mengaku kaget dengan kezaliman negara Zionis itu. Ia menyoroti kebiadaban Israel dan akan memberinya sanksi jika tahun ini tidak menunjukkan perbaikan. Ia pun memberi solusi bahwa konflik Israel dan Palestina bisa terselesaikan dengan solusi dua negara. (Republika, 29/09/2022).

Pertanyaannya, apakah benar proaktifnya PBB sebagai lembaga penjaga perdamaian dunia adalah untuk memihak rakyat Palestina?

Lembaga Bentukan Barat

Jika kita berkaca pada sejarah, PBB merupakan organisasi internasional yang didirikan pada 24 Oktober 1945. Lembaga perdamaian dunia ini terwujud setelah Perang Dunia II. Negara yang tergabung dalam Liga Bangsa-Bangsa (LBB) kala itu yang membentuk PBB adalah AS, India, Inggris, Prancis, Uni Soviet, dan negara lain yang mengikuti jejak Barat.

Dari sini, dapat kita ketahui bahwa negara-negara pendiri PBB tidak lain adalah negara penjajah yang menduduki negara lain. Mereka merupakan negara berideologi kapitalisme. Meski ada Uni Soviet—saat ini menjadi Rusia—yang ikut dalam organisasi tersebut, itu karena sekadar mengikuti titah pemenang peperangan, yaitu Blok Barat.

Sengaja Dibentuk

Barat sendiri merupakan negara yang “menghancurkan” Khilafah yang ada di Turki dengan strateginya. Dengan begitu, Barat menjadi satu-satunya negara adidaya. Untuk melanggengkan kekuasaannya, melalui lembaga perdamaian bentukannya, didirikanlah “Israel” di tanah Palestina. Sejak kedudukan itu, Israel secara nyata terus menyerang Palestina.

Dari sini, tidak salah jika kaum muslim menganggap Israel sebagai “negara” yang sengaja ditanam Barat melalui organisasi perpanjangan tangannya untuk mengobok-obok kaum muslim di Timur Tengah.

Jadi, jika PBB—setelah sekian lama penyerangan atas Palestina—baru kaget mengetahui banyaknya korban berjatuhan di pihak Palestina, kita patut mempertanyakan, jangan-jangan itu “lip service” semata sebagai upaya mengetuk hati kaum muslim agar percaya keberadaan PBB.

Selamanya Membenci Islam

Allah Swt. mengabadikan dalam Al-Qur’an, “Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS Ali Imran: 118)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir sangat membenci Islam. Dalam ayat lain dijelaskan bahwa mereka tidak akan diam hingga mengajak kaum muslim ke dalam agama mereka.

Allah Swt. berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah: 120)

Dengan demikian, meskipun Barat dengan PBB-nya memberikan perhatian khusus pada anak-anak Palestina, jika disandarkan pada ayat di atas, itu semua tidak lebih sebatas pembelaan atas kesalahannya.

Jika mereka benar-benar memihak pada Palestina, tentu mereka tidak akan memberikan sebagian wilayah Negeri yang Diberkati itu kepada Israel. Jelas, Israel maupun organisasi perdamaian dunia itu adalah sama saja.

Palestina Bebas dengan Khilafah

Palestina tidak akan pernah bebas dari Israel selama tidak ada negara Islam yang bisa melindunginya. Tentu negara itu bukan seperti negeri-negeri muslim saat ini yang hanya bisa mengikuti titah Barat atau tunduk pada resolusi PBB. Negara tersebut adalah negara adidaya yang dapat menyaingi AS, yakni Khilafah.

Khilafah, dengan ideologi Islamnya, akan mampu menyatukan seluruh negeri Islam dalam satu kepemimpinan. Dengan gabungan pasukan kaum muslim itulah, Khilafah akan mampu mengalahkan Israel, termasuk Barat dan sekutunya.

Khilafah kemudian akan menjadi negara adidaya yang sebenarnya. Meskipun banyak pihak yang sangsi kelahiran kembali Khilafah atas, Rasulullah saw. telah memberikan berita gembira pada kita, umatnya.

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thayalisi, dan Al-Bazzar)

Dengan demikian, kembalinya Khilafah merupakan kepastian. Keselamatan Palestina bukan ada di tangan PBB, melainkan tanggung jawab seluruh kaum muslim. Jika hanya Khilafah yang bisa membebaskan Palestina, mengapa masih berpikir dua kali untuk mewujudkannya? [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *