Muslimah News, INTERNASIONAL — Komisaris Hak Asasi Manusia PBB menerbitkan laporan OHCHR Assessment of human rights concerns in the Xinjiang Uyghur Autonomous Region, People’s Republic of Cina pada Rabu (31/08/2022). Dalam laporan tersebut diungkap adanya pelanggaran serius hak asasi manusia yang dilakukan Cina terhadap Uighur.
“Perlakuan Cina terhadap Uighur mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata Kepala HAM PBB, Michelle Bachelet, yang telah mengunjungi Xinjiang, Mei lalu.
Dalam laporan tersebut, diuraikan lima poin kunci perlakuan Cina yang dinilai menjadi kejahatan, yaitu pertama kejahatan terhadap kemanusiaan yang menggambarkan orang-orang diikat dengan tangan dan kaki mereka ke “kursi harimau” dan dipukuli, perempuan diperkosa, serta yang lainnya ditahan di sel isolasi dan diinterogasi dengan air yang disiramkan ke wajah mereka.
Kedua, anti-ekstremisme. Laporan ini sangat kritis terhadap doktrin anti-ekstremisme pemerintah Cina, yang mendasari tindakan keras tersebut.
Ketiga, penahanan sewenang-wenang. Skala besar penahanan ini terjadi di fasilitas (pusat pendidikan dan pelatihan kejuruan), setidaknya selama 2017 hingga 2019. Laporan tersebut mengatakan “penempatan” semacam itu merupakan bentuk perampasan kebebasan.
Laporan konsisten yang diperoleh OHCHR menunjukkan kurangnya persetujuan bebas dan terinformasi untuk ditempatkan di pusat-pusat fasilitas; bahwa tidak mungkin bagi seseorang yang ditahan di pusat yang dijaga ketat seperti itu untuk pergi atas kehendak bebas mereka sendiri. Bahkan, mereka mengalami perlakuan yang dapat disamakan dengan penyiksaan atau bentuk-bentuk perlakuan sewenang-wenang lainnya.
Keempat, kerja paksa. Dikatakan skema perburuhan terkait erat dengan kerangka anti-ekstremisme dan penahanan sewenang-wenang yang menimbulkan kekhawatiran sejauh mana program semacam itu dapat sepenuhnya sukarela.
Kelima, obat paksa dan pelecehan seksual. Tahanan juga dipaksa minum obat atau suntikan tanpa penjelasan apa itu. Ini mencatat klaim terus-menerus terjadinya elecehan seksual dan kekerasan di fasilitas.
Bantahan
Namun, Beijing membantah laporan PBB tersebut dengan menyatakan laporan PBB adalah bagian dari kampanye hitam Barat terhadap reputasi Cina.
“Kita belum melihat laporannya, tetapi kita secara penuh menentang laporan semacam itu. Kita tidak berpikir itu akan berakibat baik bagi semuanya. Kita semua tahu bahwa isu soal Xinjiang adalah isu bohong yang dibikin-bikin dari motivasi politis, bertujuan untuk menghancurkan stabilitas Cina dan mengganggu perkembangan Cina,” kata diplomat Cina untuk PBB, ZHang Jun, beberapa jam sebelum laporan PBB terbit.
Diketahui, Beijing telah menutup banyak kamp-kamp di Xinjiang, tetapi ratusan ribu orang masih merana tanpa kejelasan di penjara dan dikenai hukuman yang rahasia.
Bukan karena Cinta Muslim
Media dakwah ideologis di Inggris menyatakan sebagian besar tekanan yang diterapkan dalam kebijakan Cina terhadap Uighur adalah oleh AS. “Siapa yang mengangkat masalah ini sebagai “tongkat” untuk mengalahkan Cina? Ini bukan karena AS memiliki cinta kepada muslim. Mereka telah membunuh jutaan muslim tidak berdosa dalam istilah yang disebut war on terrorism,” cetusnya.
Memang, tulisnya, komunis telah lama dikenal karena kebrutalan dan kekejamannya. “Dilaporkan bahwa di bawah Josef Stalin 20 juta orang menemui ajalnya di bawah aparat komunis yang represif. Ini menunjukkan, lebih dari 40 juta orang tewas sebagai akibat dari reformasi yang dibawa oleh ketua Partai Komunis Cina Mao Zedong. Kematian tersebut antara lain disebabkan oleh dogma ekonomi komunis yang menyebabkan kelaparan,” ungkapnya.
Senada hal itu, aktivis muslimah Fatima Musab mengungkapkan laporan itu memuakkan dan mengisi hati kita dengan kemarahan. “Namun, kita tidak perlu terkejut. Rezim komunis Cina sangat vulgar dalam membenci Islam, bahkan begitu juga dunia,” ujarnya.
Tidak Dihentikan Penguasa Muslim
Kemudian, tuturnya, yang menjadi pertanyaan bukan mengapa rezim nonmuslim membenci kita. “Namun, mengapa penguasa muslim tidak melakukan upaya untuk menghentikan kebiadaban Cina?” tanyanya lugas.
Ia mengulas, ada kritik internasional terhadap keputusan Cina untuk menargetkan minoritas muslim Uighur. “Namun, tidak ada yang mengambil langkah untuk menghentikannya,” tukasnya.
Ia mengutarakan, analis politik percaya bahwa alasan negara-negara muslim tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya adalah karena masalah keuangan.
“Mereka takut, berbicara akan membahayakan hubungan ekonomi mereka dengan Cina. Hubungan ekonomi itu meliputi Sabuk dan Inisiatif Cina (Belt dan Road Initiative Cina – BRI) karena banyak negara di Asia Tengah dan Timur Tengah menjadi bagian darinya. Hubungan ekonomi ini mencakup pinjaman dari Cina, yang di antaranya diterima oleh negara-negara seperti Pakistan, Indonesia, dan lainnya,” paparnya.
Yang lebih buruk, lanjutnya, dunia muslim tidak hanya diam, tetapi malah membantu orang-orang Cina menindas muslim Uighur. “Mesir, misalnya, negara yang mendapat manfaat dari BRI, pernah menahan puluhan mahasiswa Uighur tanpa menyatakan alasan. Pada dasarnya, sekali lagi, uang dianggap lebih berharga daripada kehidupan saudara-saudari muslim kita,” tegasnya.
Keadilan dalam Khilafah
Oleh karena itu, ia mengingatkan, tidak dapat berharap perlindungan atas saudara-saudari muslim kita di bawah sistem saat ini.
“Umat muslim perlu menyadari bahwa kita tidak dapat bergantung pada sistem saat ini untuk keselamatan dan keamanan. Kita perlu membangun kembali Khilafah, melalui metode Nabi saw.. Hanya dengan Khilafah saudara-saudari muslim kita akan menerima keadilan dan keselamatan yang pantas mereka terima,” pungkasnya. [MNews/Ruh]
Foto sampul: The New York Times
