Muslimah News, FOKUS — Fenomena curhat dengan chatbot AI sedang menjadi tren baru. Keberadaan AI yang praktis, selalu ada 24 jam, tidak pernah menghakimi, dan kata-katanya selalu menenangkan hati menjadi alasan mengapa chatbot ini disukai.
“Cerita dan tanyakan kepadaku apa saja ya, aku selalu ada kok di sini.” Kalimat itu bukan hanya bisa diucapkan oleh manusia, tetapi juga oleh teknologi kecerdasan buatan, khususnya Chatbot AI.
Kalimat itu bukan hanya bisa diucapkan oleh manusia, tetapi juga oleh teknologi kecerdasan buatan, khususnya Chatbot AI.
Di sisi lain, survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 16–19 Juni 2025 terhadap 512 responden menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 orang di Indonesia (19,97%) mengaku merasa kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. Sepertiga dari jumlah itu merasa kesepian hampir setiap hari.
Angka ini mirip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis Juni 2025. Laporan berjudul From Loneliness to Social Connection menyebut prevalensi kesepian di Asia Tenggara mencapai 18,3%. Krisis kesepian ini mendorong mereka menggunakan chatbot AI sebagai teman dalam mengatasi kesepian.
OpenAI merilis data terbaru pada akhir Oktober 2025, menggambarkan betapa banyak pengguna chatGPT yang berjuang dengan masalah kesehatan mental dan membicarakannya langsung dengan chatbot AI.
Dengan total lebih dari 800 juta pengguna aktif mingguan, maka diperkirakan lebih dari satu juta orang setiap pekan berbicara dengan ChatGPT tentang keinginan untuk mengakhiri hidup mereka, menurut laporan TechCrunch.
Dampak Ketergantungan Chatbot AI
Pada awalnya, teknologi chatbot AI digunakan sebagai sarana pencarian informasi dan bantuan ringan. Namun, seiring tekanan hidup, chatbot AI mulai dijadikan tempat bercerita, mencurahkan emosi, dan sumber dukungan psikologis yang menimbulkan rasa nyaman.
Individu dengan kerentanan psikologis cenderung memanfaatkan dunia virtual sebagai penenang diri dan pengalihan emosi. Padahal, penggunaan yang berlebihan justru berpotensi memperkuat isolasi sosial serta memperburuk kesehatan mental, serta menciptakan siklus ketergantungan yang sulit dihentikan.
Jika dibiarkan, pola keterikatan ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan kualitas relasi sosial individu. Dampaknya dapat berupa psikologis, sosial, dan kognitif, khususnya pada individu yang berada dalam fase perkembangan emosional yang rentan, seperti remaja. Ketergantungan emosional terhadap chatbot AI merupakan bentuk kecanduan digital yang berpotensi mengganggu regulasi emosi dan relasi sosial.
Interaksi sosial cenderung berkurang ketika dunia virtual dijadikan sumber utama bagi rasa aman dan kenyamanan. Hal ini dapat melemahkan kemampuan individu dalam membangun relasi interpersonal yang sehat, mengelola konflik, pemecahan masalah, bahkan kemampuan berpikir sederhana.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan perasaan isolasi sosial dan mengaburkan batas antara dunia nyata dan virtual, sehingga individu semakin sulit membedakan dukungan emosional yang sehat dengan kenyamanan instan yang ditawarkan chatbot AI.
Sebuah penelitian dari Stanford University berfokus pada risiko ini. Hasil riset menunjukkan bahwa respons AI yang terlalu suportif justru bisa membuat seseorang makin “yakin sendiri”, bahkan saat posisi mereka sebenarnya salah.
Secara psikologis, manusia membutuhkan tantangan intelektual untuk bertumbuh. Jika setiap keluhan selalu dibenarkan oleh AI, kemampuannya untuk melakukan refleksi diri (self-reflection) akan menurun.
Pengguna bisa terjebak dalam delusi hubungan karena karakter yang diciptakan akan selalu mengikuti skenario emosional yang diinginkan pengguna. Akibatnya, keinginan untuk memperbaiki hubungan atau mencoba melihat perspektif orang lain dalam sebuah konflik justru ikut merosot tajam.
Buah Pahit Sekularisme
Fenomena kesepian massal sejatinya lahir dari sistem kehidupan sekularisme kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini membangun relasi sosial di atas asas manfaat, sehingga hubungan manusia menjadi transaksional.
Interaksi antarindividu hanya berbasis pada pertukaran manfaat, jasa, atau barang dengan harapan mendapat imbalan setara, kosong dari nilai spiritual. Hubungan ini berdampak serius pada kesehatan mental, memicu stres kronis, kecemasan, dan depresi serta merasa kesepian.
Padahal sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hubungan yang tulus, di mana dukungan diberikan tidak selalu harus ada kalkulasi materi. Namun, sekularisme yang mengagung-agungkan materi tidak mengenal nilai sosial, yang ada hanya kepentingan materi. Jargon “Tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi” membentuk watak egois dan mementingkan diri sendiri. Hal ini membuat manusia kehilangan fitrahnya sebagai makhluk sosial.
Sekularisme menyebabkan hilangnya komunikasi tulus di keluarga dan masyarakat. Dalam keluarga, kehangatan itu hilang karena masing-masing sibuk mengejar materi. Hal ini membuat seseorang kehilangan ruang aman untuk bercerita. Mereka lebih terbiasa menuliskan keluh kesah melalui unggahan cerita (story) atau chatbot AI, bukan dalam percakapan hangat dengan orang tua maupun sahabat terdekat.
Sekularisme juga membentuk masyarakat yang apatis, individualistis, minim kepedulian. “Urus saja dirimu sendiri, tidak perlu mengurus kehidupan orang lain” merupakan ungkapan yang lumrah terjadi di sistem ini. Jika individualisme sudah membudaya, maka fenomena kesepian kian nyata. Ketika tetangga sakit dan menghadapi masalah, tidak ada yang peduli. Sungguh memprihatinkan!
Lebih miris lagi, sekularisme memunculkan krisis spiritual, yakni hilangnya hubungan yang mendalam dengan Allah Swt., sehingga hati merasa sunyi meski dikelilingi gemerlap dunia.
Peluang Bisnis
Watak materialisme dalam sistem kapitalisme sekuler menjadikan setiap hal, termasuk rasa sepi, sebagai peluang bisnis. Perkembangan teknologi AI ditawarkan sebagai solusi kesepian sekaligus komoditas baru untuk meraih keuntungan.
Di Tiongkok, misalnya, terdapat aplikasi yang ditujukan bagi individu yang tinggal sendiri. Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna memastikan kondisi mereka tetap terpantau, sekaligus menghadirkan rasa tidak sepenuhnya sendirian. Dalam konteks ini, teknologi berfungsi sebagai pendamping sekaligus sistem pengawasan.
Aplikasi dan perusahaan teknologi bisa meraup cuan karena tingkat keterikatan (engagement) yang tinggi. Pengguna yang kesepian cenderung berinteraksi dengan AI secara intensif dan konsisten. Hal ini menciptakan tingkat retensi yang tinggi karena AI menjadi bagian dari rutinitas harian pengguna. Mempertahankan pelanggan dengan retensi yang tinggi biayanya jauh lebih murah dari pada mencari pelanggan baru.
Potensi monetisasi, yakni mengubah aktivitas digital menjadi sumber penghasilan, sangat besar. Aplikasi seperti Replika menggunakan model freemium, yang, mana fitur canggih—seperti interaksi suara, topik percakapan khusus, atau hubungan ‘romantis’—dikunci di balik dinding berbayar (paywall).
Interaksi curhat yang mendalam juga menghasilkan data perilaku dan emosional yang berharga bagi pengembangan AI.
Sekilas tampak membantu, tetapi faktanya AI justru memperparah isolasi sosial. Manusia lebih sering menatap layar daripada menatap wajah orang lain. Percakapan mendalam berganti dengan emoji dan notifikasi, sementara dunia maya menjadi tempat untuk menenangkan diri.
Padahal di balik ketenangan itu, AI berpotensi menimbulkan distorsi dalam hubungan manusia. AI tidak menuntut apa pun dari manusia dan tidak menimbulkan risiko konflik, penolakan, atau salah paham, padahal hubungan antarmanusia justru tumbuh dari hal-hal tersebut. Jika manusia terbiasa dengan ‘kenyamanan’ tanpa risiko ini, mereka akan semakin jauh dari kemampuan membangun relasi yang nyata.
Manusia yang seharusnya membangun interaksi dengan manusia lain untuk menjalankan amanah menjaga bumi, melah asyik dengan chatbot AI. Bagi seorang muslim, kondisi seperti ini jelas akan menghambat dakwah, bahkan bisa menjerumuskan dalam kebinasaan diri. Ini karena AI tidak memiliki intuisi, empati nyata, sehingga sangat mungkin gagal mengenali pada diri pengguna tanda-tanda pikiran bunuh diri, gangguan psikotik, maupun depresi berat.
Absennya Negara
Negara juga absen dalam mengurus rakyat dengan memberikan pandangan hidup yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia akan bahagia jika ia mampu menyelesaikan seluruh permasalahan hidupnya dan mampu mengendalikan kebahagiaan itu sesuai porsinya, sehingga tidak mudah rapuh saat dirundung masalah.
Negara membiarkan pasar mengeksploitasi kelemahan jiwa warganya dengan membiarkan aplikasi chatbot AI terus bermunculan. Rasa aman dan perasaan dipahami yang ditawarkan membuat individu terus kembali ke dunia virtual sebagai sumber kenyamanan emosional. Ini sama saja negara menjerumuskan warganya dalam kerapuhan jiwa.
Dengan demikian, sistem kapitalisme sekuler menjadi biang kemunculan masalah kesepian yang dialami manusia. Alih-alih menyelesaikan masalah, kapitalisme justru memberikan ruang chatbot AI sebagai solusi semu atas masalah kesepian yang dialami manusia, yang malah menambah masalah baru.
Sudah saatnya manusia mencari sistem sahih yang mampu memandu mereka dalam menjalani hidup, agar mengetahui hakikat dirinya sebagai hamba Allah, memahami tujuan penciptaannya, dan menyadari arah setelah kehidupan dunia ini, sebagai panduan hidup sehingga terhindar dari disorientasi
Berpikir Mendasar tentang Kehidupan
Fakta di atas menunjukkan bahwa sekularisme tidak mampu memberikan pandangan hidup yang benar sebagai sandaran manusia. Kondisi di atas hanya akan terurai saat manusia berpikir mendasar tentang kehidupan.
Islam memberikan panduan bagi umatnya untuk mengukuhkan visi hidup sebagai jawaban simpul besar dalam menjalani hidup. Simpul besar (uqdatul qubra) itu menjawab tiga pertanyaan, dari mana manusia berasal, apa tujuan hidupnya, dan ke mana kelak setelah meninggalkan dunia ini.
Akidah Islam menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah Swt. untuk beribadah kepada-Nya dan membawa misi memakmurkan bumi dengan syariat Islam. Setelah manusia mati, ia akan menghadap Allah untuk diminta pertanggungjawaban atas amanah yang ada di pundaknya. Selanjutnya, manusia akan dimasukkan ke surga atau neraka bergantung pada hasil perhitungan amal selama hidup di dunia.
Dengan menjawab tiga pertanyaan di atas, manusia akan memahami tujuan hidup dan manfaat atas sebuah aktivitas yang dilakukannya. Selain itu, tiga pertanyaan ini juga menjadi penuntun dan penerang jalan bagi manusia. Manusia yang telah memahami tujuan dan arah pandang dalam aktivitasnya akan memiliki visi hidup yang jelas, matang, dan memiliki prinsip. Visi hidup yang jelas ini menjadi kunci ketenangan dan ketenteraman seorang muslim.
Setelah mengurai simpul besar, setiap muslim diseru untuk senantiasa menciptakan ketenangan jiwa melalui salat, zikir, atau berdoa. Allah Swt. berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d [13]: 28).
Selain itu, Islam juga mengajarkan konsep qada dan kadar. Konsep ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia merupakan bagian dari ketentuan Allah Taala. Tugas manusia adalah menerima ketetapan Allah Taala. Meski demikian, menerima ketentuan Allah tidak bermakna pasrah. Sebaliknya, manusia harus senantiasa menempuh ikhtiar yang dapat membawa pada hasil yang diinginkan. Dengan kata lain, penerimaan tersebut bermakna aktif, bukan pasif.
Penerimaan pada ketetapan Allah Taala ini erat kaitannya dengan konsep tawakal. Manusia kerap menganggap bahwa tawakal adalah kepasrahan yang dilakukan tanpa usaha. Padahal, tawakal ini sifatnya aktif. Manusia menempuh sebab terbaik, untuk memperoleh hasil yang terbaik pula, seraya memasrahkan diri kepada Allah. Andaipun hasil yang diperolehnya tidak sesuai dengan harapan, ia rida atas ketetapan Allah. Inilah makna penerimaan atas ketetapan (qada) Allah yang merepresentasikan sikap tawakal muslim yang progresif.
Pemahaman terhadap qada akan mampu menstimulasi etos kerja seorang muslim untuk produktif menjalani kehidupan. Pemahaman tentang standar kebahagiaan hanya ada tatkala Allah rida, akan membuatnya senantiasa berbaiksangka kepada Allah. Segala ikhtiar yang ditempuh seorang muslim senantiasa dibarengi dengan sikap tawakal dan menerima qada yang Allah tetapkan. Inilah rahasia Islam dalam membangun jiwa yang kokoh, bukan dari algoritma.
Ia tidak akan merasa kesepian atau dipusingkan dengan perasaan-perasaan negatif, rendah diri, dengki, karena ia yakin bahwa Allah senantiasa membersamainya. Pemahamannya senantiasa menuntunnya untuk berpikir dan beramal semata karena Allah Taala.
Kehangatan Keluarga
Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki peran penting dalam membangun fondasi kehangatan keluarga. Ketika keluarga menjalankan rumah tangganya sesuai aturan Islam akan terjalin komunikasi yang sehat.
Orang tua akan menjadi tempat pertama bagi anak untuk mencurahkan setiap kegundahan yang dihadapi. Seluruh anggota keluarga akan mengupayakan suasana saling memberi, menerima, membutuhkan satu sama lain. Selain itu masing-masing anggota keluarga akan saling memaafkan, mencintai, merindukan, dan menguatkan dalam kebaikan.
Dengan begitu, anggota keluarga akan merasa nyaman karena mendapatkan dukungan penuh dari keluarga, tidak akan merasa kesepian. Demikianlah cara Islam melindungi individu muslim agar terhindar dari problem psikis, termasuk problem merasa kesepian.
Sistem Sosial yang Sehat
Dari aspek kemasyarakatan, upaya mewujudkan kesehatan mental merupakan hasil dari kerja sama (taawun) antara satu individu dengan individu lainnya. Dalam Islam, masyarakat bukan hanya terdiri atas individu saja.
Dalam kitab Nizhamul Islam Syekh Taqiyuddin An Nabhani menjelaskan tentang pengertian masyarakat. Masyarakat adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi satu sama lainnya, dan memiliki kesatuan afkar (pemikiran), masya’ir (perasaan) dan nizham (aturan).
Apabila individu-individu masyarakat memiliki landasan yang sama yaitu akidah Islam, maka landasan pemikiran masyarakat pun acuannya sama yaitu akidah Islam. Perasaan masyarakat sama yaitu ingin selalu mendapatkan rida Allah. Untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat, menggunakan aturan yang sama yaitu syariat Islam.
Artinya, Islam menciptakan sistem sosial yang sehat dan tenang terintegrasi dari pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama di tengah masyarakat. Kesehatan jiwa tidak hanya diupayakan oleh individu, tetapi juga masyarakat yang sadar.
Islam memberikan tuntunan hidup bermasyarakat. Islam mengatur tata cara bertetangga, berinteraksi, muamalah, saling menolong, dan sebagainya. Banyak ayat maupun hadis yang berkaitan dengan aspek sosial kemasyarakatan. Allah Taala berfirman, “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…” (QS Al-Maidah [5]: 2).
Ayat ini merefleksikan atmosfer sosial kehidupan bermasyarakat umat Islam yang saling membantu dalam takwa seraya menjauh dari perbuatan dosa.
Islam juga memberikan tugas kolektif kepada masyarakat untuk mencegah kemungkaran. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang yang menjaga larangan-larangan Allah dan orang yang terjatuh di dalamnya adalah seperti suatu kaum yang sedang mengundi untuk mendapatkan tempat mereka masing-masing di dalam kapal. Sebagian mendapat tempat di bagian atas kapal dan sebagian lainnya mendapat di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah jika ingin mendapatkan air minum mereka melewati orang-orang yang ada di atas. Mereka (yang ada di bawah) berkata: “Andaikata kita melubangi perahu ini untuk mendapatkan air minum, maka kita tidak akan mengganggu mereka yang ada di atas”. Jika orang-orang yang ada di atas membiarkan perbuatan dan keinginan orang-orang yang ada di bawah (yaitu melubangi kapal), maka mereka semua akan tenggelam.” (HR Bukhâri dan At-Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam memandang masyarakat sebagai komunitas yang perlu dipelihara oleh setiap anggota masyarakat. Tugas ini membuat individu memiliki jaringan sosial nyata dan bermakna.
Negara yang Meriayah
Demikian juga dari aspek bernegara. Negara dalam Islam berkedudukan sebagai raa’in (pengurus) yang mengurus seluruh urusan rakyatnya, termasuk relasi sosial. Rasulullah saw. menegaskan, “Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat. Dia akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya.” (HR Bukhari).
Muhammad Abd Al-Aziz bin Ali As-Syadzili, dalam kitab Al-Adab an-Nabawi, menjelaskan makna ar-râ’i adalah al-hâfidz al-mu’taman (penjaga, pemelihara, wali, pelindung, pengawal, pengurus, pengasuh yang diberi amanah). Penguasa/pemimpin wajib mewujudkan kemaslahatan siapa saja yang berada di bawah kepemimpinannya.
Negara Khilafah akan membangun kehidupan sosial masyarakat sesuai tuntunan syariat Islam, mencetak generasi berkepribadian Islam melalui sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam, serta mengembangkan teknologi untuk kemaslahatan umat.
Negara akan mengeluarkan kebijakan yang menjamin media informasi termasuk media digital digunakan untuk kemaslahatan umat dan menjaga masyarakat dari pemikiran yang rusak dan menyesatkan.
Negara akan mendorong para cendekiawan muslim menciptakan teknologi dan platform media sosial yang edukatif dan bermanfaat, serta mengarahkan media digital sebagai sarana dakwah, amar makruf nahi mungkar, dan penyebaran ilmu. Melalui media digital, negara mempermudah akses komunikasi publik antara negara dan rakyat untuk mencegah kesalahpahaman, serta sebagai sarana aspirasi dan kritik yang konstruktif bagi masyarakat terhadap pemimpin.
Dengan pengaturan Islam secara kafah, mulai dari pemaknaan individu tentang kehidupan, kehangatan keluarga, sistem sosial yang sehat, dan negara yang meriayah, tidak akan ada individu-individu yang kesepian, yang kesepiannya dieksploitasi oleh pasar. Sebaliknya akan hadir generasi khairu ummah sebagaimana predikat yang diberikan oleh Allah Swt., ”Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”(QS Ali Imran [3]:110). [MNews/IA-CJ]
