Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Dua tahun sebelum wafatnya Rasulullah saw., beliau mengirim Usamah bin Zaid sebagai komandan pasukan kecil untuk menghadapi sekelompok orang musyrik yang mengganggu ketenteraman kaum muslim. Ini adalah pertama kalinya Usamah bin Zaid diangkat sebagai pemimpin.
Tugas tersebut diselesaikan dengan baik oleh Usamah. Ia bersama pasukannya pulang membawa kemenangan. Bahkan berita kemenangannya sudah terlebih dahulu ia sampai kepada Rasulullah ﷺ. Beliau sangat senang.
Saat itu, Usamah menceritakan kisah kemenangannya secara langsung kepada Rasulullah ﷺ. Ia menceritakan ketika pasukan musuh sudah kalah, ia berhasil mengejar seorang tentara musuh. Ketika ia membidikkan tombaknya ke arah tentara tersebut, sang tentara mengucap Laa ilaaha illallah. Akan tetapi Usamah tetap menancapkan tombaknya ke tubuh tentara itu hingga ia meninggal.
Mendengar hal itu, wajah Rasulullah saw. langsung berubah. Beliau marah, lalu berkata, “Apa-apaan kamu ini Usamah! Bagaimana dengan kalimat Laa ilaaha illallah?” Beliau terus mengulangi ucapannya itu hingga membuat Usamah merinding. Ia merasa ingin lepas dari semua perbuatannya selama ini, lalu masuk Islam sebagai orang baru. Rasulullah saw. menyesalkan kematian tentara itu, juga tindakan Usamah yang telah membunuhnya. Setelah mendengar ucapan Rasulullah saw. tersebut, Usamah tidak lagi memerangi orang yang mengatakan Laa ilaaha illallah. (Khalid Muhammad Khalid, 60 Sirah Sahabat Rasulullah ﷺ)
Hikmah
Pascaperistiwa tersebut, Usamah mendapat banyak pelajaran berharga dari Rasulullah ﷺ. Pelajaran yang senantiasa ia pegang hingga ia meninggal dunia pada akhir masa pemerintahan Khalifah Mu’awiyah. Pelajaran yang membawa beberapa hikmah bagi Usamah secara pribadi, juga bagi seluruh kaum muslim.
Pertama, Rasulullah saw. tidak ragu menegur siapa pun yang berbuat salah, meski orang tersebut adalah putra dari kesayangan beliau. Ini mengisyaratkan bahwa siapa saja yang berbuat salah, meski ia anak atau putra dari orang terdekat, tetap harus diluruskan. Ini dilakukan Rasulullah saw. agar Usamah tidak terlalu jauh menyimpang dari kebenaran. Rasulullah saw. mengajarkan agar kaum muslim senantiasa menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana saja dan kapan saja.
Kedua, dalam Islam, nyawa seorang muslim sangat berharga. Selama ia mengucap kalimat Laa ilaaha illallah, maka haram bagi siapa saja untuk membunuhnya. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” (QS Al-Isra’ [17]: 33).
Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda, “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau saw. menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatannya, yang beriman, dan yang bersih dari zina.” (HR Bukhari, no. 2615, 6465; Muslim, no. 89).
Ketika syariat Islam menjadi landasan kehidupan, nyawa pun sangat terjaga. Kondisi ini sangat berbeda dalam sistem sekuler kapitalisme, nyawa manusia mudah hilang begitu saja. Sungguh, tiada kehidupan yang lebih baik, selain kembali pada aturan Sang Pencipta manusia, yakni Allah Taala. Kisah ini menjadi pelajaran yang sangat dalam dan bermakna. Hikmah yang mengungkapkan betapa tingginya pengaturan Islam dari sisi kemanusiaan, keadilan, keluhuran prinsip, ketinggian Islam, dan akhlaknya. [MNews/CJ-YG]
