Tamu-Tamu Abu Darda

Tamu-Tamu Abu Darda

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Muhammad bin Ka’ab meriwayatkan bahwasanya ada beberapa orang bertamu ke rumah Abu Darda pada malam yang dingin. Ia pun memberikan mereka makanan yang hangat. Namun ia tidak mengirimkan selimut kepada mereka.

Di antara mereka ada yang berkata, “Abu Darda telah memberi kita makanan, tetapi ia tidak memberi kita selimut. Saya ingin menanyakan hal ini kepadanya.” Seorang yang lain berkata, “Biarkan ia.” Orang itu lalu pergi ke tempat Abu Darda. Sesampainya di depan pintu, ia melihat Abu Darda sedang duduk bersama istrinya. Keduanya mengenakan pakaian yang sangat sederhana dan tidak berselimut.

Orang itu berkata kepada Abu Darda, “Mengapa saya lihat engkau tidak tidur seperti kami tidur?” Abu Darda menjawab, “Sesungguhnya kami punya rumah yang bisa saja kami pindah ke sana. Kami bisa membawa selimut dan kasur kami ke sana. Akan tetapi, semua itu sudah kami berikan kepada orang lain. Sekiranya kami masih memiliki selimut, niscaya akan kami kirimkan kepadamu. Namun, di hadapan kita ada rintangan yang berat, yang mana seseorang yang membawa beban ringan lebih baik daripada orang yang membawa beban berat. Apakah engkau paham apa yang kukatakan padamu?” Orang itu berkata, “Iya.” (Ibnu al-Jauzi, 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah)

Hikmah

Abu Darda, sahabat Nabi ﷺ yang bijak tiada duanya memberi beberapa pesan penting dari kisahnya.

Pertama, Abu Darda memperlihatkan bagaimana seharusnya sikap seorang muslim kepada tamu mereka. Ini sesuai dengan apa yang disabdakan baginda Rasulullah ﷺ, “Barang siapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari).

Islam sangat menganjurkan untuk senantiasa memuliakan dan menghormati tamu sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah Swt., juga sebagai bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Sebabnya, kepribadian seseorang bisa terlihat dari cara ia menerima tamu dan memuliakan seseorang yang bertamu ke rumahnya.

Bertamu dan menerima tamu adalah realisasi menjaga tali silaturahmi dan ukhuah islamiah. Di antara keutamaan memuliakan tamu ialah mendapat pahala seperti ibadah haji dan umrah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika ada tamu masuk ke dalam rumah seorang mukmin, akan masuk bersama tamu itu seribu berkah dan seribu rahmat. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap kali suap makanan yang dimakan tamu seperti pahala haji dan umrah.” (HR Ibnu Abbas).

Kedua, Abu Darda juga memberi pesan berharga bahwa orang yang membawa beban ringan lebih baik daripada orang yang membawa beban berat. Ini menyiratkan kepada kita bahwa setiap amanah merupakan beban yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Taala. Orang yang diberi amanah berat, hisabnya juga berat, seperti amanah menjadi pemimpin kaum muslim. Sementara orang yang  diberi amanah ringan, hisabnya juga ringan, semisal bersikap baik terhadap tamu yang datang ke rumah kita.

Jadi, hendaklah kita tidak menyepelekan amanah, sekecil apa pun amanah tersebut. Sebabnya, kelak di akhirat, amal perbuatan kita seperti timbangan yang akan dimintai pertanggungjawabannya. “Diletakkanlah timbangan-timbangan itu pada Hari Kiamat, maka ditimbanglah amal kebaikan dan amal kejahatan. Barang siapa lebih berat timbangan kebaikannya daripada timbangan kejahatannya, sekali pun seberat sebutir biji, maka masuklah ia ke dalam surga. Akan tetapi barang siapa timbangan kejahatannya lebih berat daripada timbangan kebaikannya, sekalipun seberat sebutir biji, masuklah ia ke dalam neraka.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Semoga secuplik kisah di atas menjadikan kita lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam menunaikan amanah. Wallahualam. [MNews/CJ-YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *