Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Umar bin Khaththab ra. pernah mengutus Umair bin Sa’ad al-Anshari menjadi gubernur Homs, Suriah. Setahun sejak menjadi gubernur, Umair tidak pernah mengirimkan kabar apa pun kepada Khalifah Umar di Madinah. Hal ini tentu membuat Umar bertanya-tanya. Ia akhirnya menyurati Umair.
Dalam isi surat yang dikirim melalu sekretarisnya, Umar meminta agar Umair segera menemuinya sambil membawa harta fai dari kaum muslim. Umair pun berangkat ke Madinah dengan berjalan kaki dan hanya membawa bekal seadanya. Ia tidak membawa harta fai sama sekali.
Setibanya di Madinah, kondisi warna tubuhnya sudah pucat dan wajahnya kusut penuh debu, sementara bulu-bulu di matanya sudah memanjang. Kemudian Umair masuk menemui Umar dan memberi salam.
Umar bertanya, “Bagaimana kabarmu?”
Umair menjawab, “Saya sehat dan baik-baik saja. Saya membawa perbekalan secukupnya.” Umar bertanya lagi, “Engkau ke sini dengan berjalan kaki?” Umair menjawab, “Iya.”
“Apakah tidak ada dari umat Islam yang berkenan memberimu kuda sebagai kendaraanmu?” tanya Umar lagi. Umair menjawab, “Tidak. Mereka tidak memberikannya kepadaku. Aku pun juga tidak meminta kepada mereka.” “Buruk sekali perlakukan umat Islam di sana sehingga tidak ada yang rela membantumu,” kata Umar. “Wahai Umar, jangan menggunjing mereka. Mereka orang baik dan senantiasa menunaikan salat subuh,” kata Umair menjelaskan.
“Apa yang membuatmu tidak mengirim kabar sejak lama? Apa yang telah engkau lakukan?”
“Mengapa engkau tanyakan itu, wahai Amirulmukminin?” Umair lalu menjelaskan apa saja yang ia lakukan sebagai Gubernur Homs. Ia telah mengumpulkan orang-orang yang tepercaya. Ia juga memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan harta-harta fai. Semua harta itu habis dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan. Dengan demikian, tidak ada yang bisa dibawa dan dipersembahkan kepada Umar sama sekali.
Mendengar penjelasan tersebut, Umar kagum. Ia pun segera menyuruh sekretarisnya untuk membuat surat tugas baru untuk Umair. Mengetahui akan diberi amanah dan tugas lagi, Umair menolak. Ia beralasan bahwa menjadi gubernur itu berat. Umair pun memohon izin untuk pulang ke kampungnya. Umar mengizinkan. Umar masih merasa tidak percaya dengan apa yang telah ditunjukkan Umair. Jabatannya sebagai guberunur seakan tidak berarti apa-apa ketika Umar mengetahui kehidupan semacam apa yang dijalani Umair, yaitu seakan ia adalah orang miskin dan susah, padahal ia seorang gubernur Homs di Suriah.
Meski demikian, Umar tetap ingin memastikan kehidupan Umair sebagai gubernur. Oleh karenanya, Umar mengutus sekretarisnya, Al-Harits untuk menyelidikinya. Sambil memberikan uang seratus dinar kepada Al-Harits, Umar berkata, “Pergilah ke rumah Umair! Bersikaplah seperti tamu. Jika engkau melihat suatu bukti pelanggaran, segeralah ke sini. Namun, jika engkau melihat kondisi ekonominya sangat sulit, berikanlah seratus dinar ini kepadanya.”
Al-Harits pergi ke rumah Umair dan menginap di sana selama tiga hari. Saat itu, keluarga Umair hanya memiliki sepotong roti gandum. Mereka tidak memakannya. Roti itu justru diberikan kepada tamunya, Al-Harits. Karena tiga hari tidak makan sama sekali, Umair dan keluarganya kelaparan. Dalam kondisi tersebut, Umair berkata kepada Al-Harits, “Engkau telah membuat kami kelaparan. Jika kamu ingin pergi dari sini, kami persilakan!”
Al-Harits akhirnya memberikan uang seratus dinar kepada Umair sambil berkata, “Amirulmukminin mengutusku untuk memberikan ini kepadamu. Gunakanlah harta ini untuk keperluanmu.” Mendapati hal itu, Umair menolak, lalu berkata, “Saya tidak memerlukan ini. Tolong kembalikan kepada khalifah!” Al-Harits tetap meminta Umair menerimanya. Umair pun menerimanya dan membagikan uang tersebut untuk disedekahkan. Umair berkata kepada Al-Harits, “Sampaikan salamku kepada Amirulmukminin.”
Kemudian, Al-Harits kembali kepada Umar. Ia menceritakan bahwa Umair adalah orang yang sangat kesusahan. Umar bertanya kepadanya tentang tindakan Umair terkait penggunaan uang seratus dinar itu. Namun Al-Harits menjawab, “Saya tidak tahu.”
Umar pun memanggil Umair untuk kembali menghadapnya agar menjelaskan tentang uang seratus dinar yang ia berikan kepadanya. Umair hanya menjawab dengan jawaban politis dan rendah hati, “Saya gunakan uang itu untuk kepentingan diriku.” Umar berkata, “Semoga Allah merahmatimu.” Ia memberikan satu wasaq (sekitar 130 kg) bahan makanan dan dua potong baju kepada Umair untuk dibawa pulang. Umair kemudian berkata, “Saya tidak membutuhkan makanan itu. Saya masih memiliki 2 sha’ (sekitar 2 kg) gandum di rumah. Namun, saya mau menerima baju itu. Istri saya membutuhkannya.” (Ibnu al-Jauzi, 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah).
Hikmah
Demikianlah kisah seorang Umair bin Sa’ad , pemimpin sederhana, adil, bijaksana, zuhud, dan sangat disegani oleh kepala negaranya, Umar bin Khaththab ra.. Umair menjalani kehidupan zuhud sebagai pejabat negara. Khalifah Umar selaku pemimpin tertinggi kaum muslim juga selalu bersikap hati-hati dengan memastikan bahwa pejabat yang ia tunjuk benar-benar amanah dan menjalankan tugasnya.
Melalui kisah ini, kita kembali disuguhkan potret sistem dan kepemimpinan Islam yang melahirkan sosok pejabat dan kepala negara yang hidup sederhana, amanah, dan mengurus rakyatnya dengan baik dan benar. Alangkah makmurnya negeri Islam jika pejabatnya amanah dan tepercaya.
Sikap pemimpin seperti ini hanya bisa terwujud dalam sistem dan kepemimpinan Islam secara kafah, bukan model kepemimpinan sekuler kapitalisme yang selalu mengedepankan kepentingan diri, partai, dan oligarki kekuasaan. Ketika pemimpin tegas, ia akan mendapat rasa hormat dari rakyatnya. Ketika pemimpin amanah, ia akan disegani pemimpin di atasnya, rakyat pun akan menghargainya. [MNews/CJ-YG]
