Muslimah News, INTERNASIONAL — PM Kanada Justin Trudeau mengutuk serangan islamofobia baru-baru ini di London, Ontario dan Winnipeg, Manitoba. Aksi islamofobia atau sentimen antimuslim memang terus meningkat di Barat di tengah serangan dan provokasi Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza dan Lebanon.
“Saya marah mengetahui bahwa wanita yang mengenakan jilbab menjadi sasaran serangan kekerasan di London dan sebuah masjid di Winnipeg menjadi sasaran pelecehan penuh kebencian,” kata Trudeau di akun resmi X-nya pada Jumat.
Menurut pernyataan dari Dewan Nasional Muslim Kanada (NCCM), dua wanita yang mengenakan jilbab diserang pada hari Kamis di depan anak-anak mereka di London dengan anggota keluarga muslim terbunuh dalam serangan kejam pada 2021.
Pernyataan tersebut mencatat bahwa seorang pria yang menghunus pisau meninju wajah para wanita itu dan membuat komentar yang tidak pantas. “Orang Israel melakukan pekerjaan yang baik untuk menata ulang Gaza. Mereka akan melakukan hal yang sama terhadap Lebanon,” dan cercaan lain yang bersifat islamofobia dan anti-Palestina,” menurut NCCM.
Aktivis dakwah Imrana Muhammad meminta umat waspada terhadap pernyataan PM Kanada ini. “Harus dipahami bahwa tidak ada sejumlah pernyataan publik yang mendukung perempuan muslim di Kanada yang dapat menutupi status PM Kanada sebagai musuh sejati saat ia mendukung pembunuhan massal puluhan ribu perempuan muslim di dunia muslim,” ucapnya pada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (9-10-2024).
Ia menilai, tidak ada kemungkinan bagi mereka menunjukkan aliansi dengan kepentingan muslim dan bermain di kedua sisi spektrum politik. “Kita, sebagai perempuan muslim, harus melihat melalui jaringan kebohongan yang diberikan oleh para pemimpin nonmuslim dan muslim kepada kita dengan pernyataan kutukan kosong mereka tanpa tindakan apa pun untuk menghentikan pembantaian perempuan dan anak-anak,” ujarnya.
Imrana mengutip pernyataan NCCM lainnya, “Sudah saatnya bertindak. Sekarang. Tidak ada waktu lagi untuk basa-basi dan kata-kata. Para pemimpin kita harus membuat rencana nyata untuk mengatasi peningkatan kebencian yang besar dan mengganggu ini terhadap komunitas kita.”
Sayangnya, menurut Imrana, ini menambah beban sosial dan politik kaum muslim. “Kita memiliki wakil-wakil yang jatuh ke dalam perangkap liberal yang sama dan pola pikir yang ketinggalan zaman tanpa visi Al-Qur’an dan Sunah. Mereka justru membuat kaum muslim mudah untuk tetap terjebak dalam siklus pelecehan dan kegagalan memiliki martabat,” kritiknya.
Ia menegaskan, seharusnya kaum muslim tidak mengenal kompromi dalam komitmen untuk kembali kepada kepemimpinan Nabi saw. dan contoh-contoh mulia dari para khalifah yang saleh.
“Mata dan telinga kita telah menjadi sangat terbiasa dengan pembunuhan dan tunawisma perempuan dan anak-anak kita sehingga tidak melihat urgensi untuk mewujudkan perubahan. Ini juga berarti kita telah menjadi kebal terhadap rasa takut terhadap api neraka dan kemarahan Allah Taala,” ungkapnya menyitir QS At-Taubah ayat 44,
“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin (tidak ikut) kepadamu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.”
Untuk itu, Imrana menegaskan, kaum muslim harus kembali menjunjung tinggi Al-Quran dan Sunah dengan kepemimpinan Khilafah, termasuk membela kehormatan dan kehidupan perempuan muslim. “Jelaslah bahwa musuh-musuh Islam merasa sangat bebas untuk memperluas peperangan mereka terhadap orang-orang beriman sampai hal ini terjadi,” kecamnya. [MNews/RA]
