Penulis: Ustaz Yahya Abdurrahman
Muslimah News, SYARAH HADIS —
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَال: كَانَ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ إِذَا دَفَعَ مَالًا مُضَارَبَة اشْتَرَطَ عَلَى صَاحِبِهِ: لَا يَسْلُكُ بِهِ بَحْرًا، وَلَا يَنْزِلُ بِهِ وَاديا، وَلَا يَشْتَرِي بِهِ ذَاتَ كَبِدٍ رَطْبَةٍ، فَإِنْ فَعَلَ فَهُوَ ضَامِنٌ، فَرَفَعَ شَرْطَهُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَجَازَه
Ibnu Abbas ra. berkata, “Abbas bin Abdul Muthallib jika ia menyerahkan harta sebagai mudarabah, ia mensyaratkan kepada temannya, ‘Jangan melalui laut, jangan menginap di lembah, dan jangan digunakan membeli sesuatu yang memiliki bagian dalam yang basah.’ Jika dia (orang itu) melakukan itu, dia menjamin. Lalu ia (Abbas bin Abdul Muthallib) mengangkat (menyampaikan) syaratnya itu kepada Rasulullah saw. dan beliau memperbolehkannya.” (HR Ath-Thabarani, Ad-Daraquthni, dan Al-Baihaqi).
Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Ath-Thabarani di dalam Mu’jam al-Awsâth, hadis no. 760. Ia menyatakan, “Hadis ini tidak diriwayatkan dari Ibnu Abbas kecuali dengan sanad ini. Muhammad bin ‘Uqbah menyendiri dengannya.”
Imam Ad-Daraquthni meriwayatkan hadis ini di dalam Sunan Ad-Daraquthni, yakni hadis no. 3081 dan berkomentar, “Abu al-Jarud—salah seorang perawinya—daif.”
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan hadis ini di dalam Sunan al-Kubrâ, yakni hadis nomor 11611 dan 11612 dan berkomentar, “Abu al-Jarud Ziyad bin al-Mundzir menyendiri dengannya. Dia seorang kufiyun (penduduk Kufah) yang daif. Yahya bin Ma’in menilai dia kadzdzâb (pendusta) dan yang lain mendaifkan dia.”
Jadi hadis ini daif, tidak layak jadi hujah dalam hukum syariat.
Shuhaib ra. menuturkan bahwa Rasul saw. bersabda,
ثَلَاثٌ فِيهِنَّ الْبَرَكَةُ، الْبَيْعُ إِلَى أَجَلٍ، وَالْمُقَارَضَةُ، وَأَخْلَاطُ الْبُرِ بالشَّعِيرِ، لِلْبَيْتِ لَا لِلْبَيْعِ
“Ada tiga hal yang di dalamnya ada keberkahan: jual beli secara kredit, al-muqâradhah (al-mudhârabah), serta campuran gandum dan jelai untuk rumah (makan) tidak untuk dijual.” (HR Ibnu Majah no. 2289).
Riwayat ini daif. Ibnu al-Jawziy (w. 597 H) di dalam Al-Mawdhû’ât li Ibni al-Jawzî menyatakan, “Ini adalah hadis mawdhu’ atas Rasulllah saw.. Abdurrahman bin Dawud dan Umar bin Bistham keduanya majhul dan hadisnya tidak dihapal (gahyru mahfûzh).”
Asy-Syaukani (w. 1250 H) di dalam Nayl al-Awthâr mengatakan, di dalam sanadnya ada Nashr bin Qasim dari Abdurrahim bin Dawud, keduanya majhul.
Imam Al-Bushiri (w. 840 H) di dalam Mishbâh az-Zujâjah fî Zawâ‘id Ibni Mâjah menyatakan, “Hadis ini daif. Shalih bin Shuhaib majhul. Abdurrahman bin Dawud hadisnya tidak dihapal. Demikian dikatakan oleh Al-‘Aqili. Lalu terkait Nashr bin al-Qasim, Al-Bukhari berkata, “Tidak. Hadisnya mawdhu’.”
Matan hadis ini disebutkan oleh Ibnu al-Jauziy di dalam Al-Mawdhû’ât dari jalur Shalih bin Shuhaib.
Dengan demikian, hadis ini juga daif bahkan mawdhu’ sehingga tidak layak dijadikan hujah atas hukum syariat.
Riwayat marfuk tentang mudarabah hanya dua hadis ini. Namun, menurut para ulama hadis, keduanya dha’iif. Hadis Al-Abbas menyiratkan taqrir Rasul saw. atas al-murâbahah dan syarat yang diajukan oleh Al-‘Abbas. Adapun hadis Shuhaib menyiratkan kebolehan al-muqâradhah, yakni al-murâbahah. Pernyataan bahwa di dalamnya ada keberkahan maknanya adalah ada keridaan Allah.
Mudarabah sama dengan al-qirâdh/al-muqâradhah. Ibnu Abd al-Barr (w. 463 H) di Al-Istidzkâr menjelaskan, mudarabah adalah istilah ulama Irak, sedangkan al-qirâdh adalah istilah ulama Hijaz.
Secara bahasa, mudarabah dari dharaba. Dharabat ath-thayru tadhribu: Dia pergi mencari rezeki. Dharaba fi al-ardhi dharban wa dharbânan: Dia keluar berdagang, berperang, bergegas, atau pergi (Al-Fairuz Abadi, Al-Qâmûs al-Muhîth).
Dharaba fi al-ardhi bermakna safar (bepergian) seperti dinyatakan di dalam QS An-Nisa [4]: 101, “wa in dharabtum fî al-ardhi (jika kalian bepergian di muka bumi)”. Adakalanya bepergian itu untuk mencari rezeki, “yadhribûna fî al-ardhi yabtaghûna min fadhlillâh (orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah)” (TQS Al-Muzammil [73]: 20).
Istilah al-mudhârabah diambil dari dharaba fî al-ardhi (yang dinyatakan di kedua ayat ini) dan karena kebanyakan laba mudarabah kala itu diperoleh dengan pergi berdagang. Juga dikatakan al-mudhârabah diambil dari dharaba fi al-mâl, yakni tasharrafa fîhi (mengelola harta).
Adapun istilah al-qirâdh atau al-muqâradhah diambil dari hadis Shuhaib di atas (meski daif) dan ucapan salah seorang sahabat kepada Umar bin Khaththab ra., ”Law ja’altahu qirâdh[an] (Andai kamu jadikan sebagai qirâdh).” Lalu Umar berkata, “Qad ja’altuhu qirâdh[an] (Aku jadikan sebagai qirâdh).”
Meski kedua hadis di atas daif, tetapi terdapat banyak atsar bahwa para sahabat melakukan al-murâbahah atau al-qirâdh/al-muqâradhah. Di antaranya:
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab ra. menyerahkan harta anak yatim secara mudarabah (HR Asy-Syafi’iy di dalam Ikhtilâf al-‘Iraqiyin dan Musnad asy-Syâfi’iy; Ibnu Abiy Syaibah di dalam Al-Mushannaf Ibni Abiy Syaibah; Al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubra dan Ma’rifah as-Sunan wa al-Atsâr).
Al-Baihaqi juga meriwayatkan bahwa Utsman bin Affan ra. menyerahkan harta secara mudarabah. Juga diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud dan Hakim bin Hizam menyerahkan harta secara mudarabah.
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar dan Ubaidullah bin Umar ketika di Bashrah diserahi oleh Abu Musa al-Asy’ari yang menjadi ‘amil Bashrah, harta negara untuk diserahkan kepada Umar. Dengan harta itu, Abdullah dan Ubaidullah boleh membeli barang dan dijual di Madinah. Harta itu diserahkan kepada Umar. Singkatnya, setiba di Madinah, Umar meminta modal dan semua labanya. Abdullah diam saja, Ubaidullah menyatakan keberatan. Lalu salah seorang sahabat yang duduk bersama Umar berkata, “Law ja’altahu qirâdh[an] (Andai engkau jadikan sebagai qirâdh).” Umar pun menjadikannya qirâdh dan mengambil modal dan setengah labanya. Abdullah dan Ubaidullah mengambil setengah laba sisanya (HR Asy-Syafi’iy di dalam Musnad asy-Syâfi’iy dan Al-Baihaqi di dalam Ma’rifah as-Sunan wa al-Atsâr). Imam Ath-Thahawi menilai riwayat ini sahih.
Semua riwayat itu, seperti dikatakan oleh Imam Al-Baihaqi menunjukkan bahwa mudarabah atau al-qirâdh itu tersebar luas dan dipraktikkan oleh para sahabat dan tidak ada seorang pun yang mengingkari sehingga menjadi ijmak sahabat atas kebolehannya.
Tentu saja, mudarabah atau al-qirâdh/al-muqâradhah yang boleh itu adalah yang sah, bukan yang batil atau fasid.
Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]
