Penulis: Syekh Taqiyudin an-Nabhani
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Kelambatan dalam berpikir adalah masalah atau merupakan inti persoalan. Kelambatan ini berasal dari dominasi barat atas negeri-negeri Islam dan dominasi pemikiran-pemikirannya atas manusia. Oleh karena itu, tebersit dalam pemikiran bahwa pembahasan atas asas ini merupakan solusi masalah. Akan tetapi, dengan penelitian yang cermat dapat disimpulkan dua hal:
Pertama, bahwa hal ini merupakan penyederhanaan (simplifikasi) masalah.
Kedua bahwa hal ini berarti menghindari masalah.
Oleh karena itu, asas ini harus diperhatikan sekadarnya saat pengobatan dan pengobatan tidak tergantung padanya. Adapun penyederhanaan masalah adalah bahwa Barat dan dominasinya merupakan asas seluruh bencana dan di antaranya kelambatan dalam berpikir. Oleh karenanya, mengarahkan penyelesaian kepada asas artinya dengan hilangnya asas akan menghilangkan kelambatan. Hal ini meskipun benar secara general, tetapi membutuhkan mu’anat (kesulitan) dan tidak diperhatikannya mu’anat ini merupakan penyederhanaan masalah.
Dengan demikian, masalahnya adalah hilangnya asas dan adanya mu’anat. Adanya mu’anat sangat penting meskipun asas telah hilang. Mu’anat adalah sesuatu yang mengakibatkan hilangnya apa yang ditinggalkan oleh asas dan bukan asas itu sendiri. Dengan demikian, mu’anat merupakan asal penyelesaian dan bukan menghilangkan asas.
Mu’anat merupakan solusi, baik dengan disertai adanya asas, yaitu dominasi Barat, atau dengan hilangnya dominasi itu. Meskipun hilangnya dominasi itu mempermudah mu’anat dan menjadikannya lebih produktif, mu’anat merupakan sesuatu yang mengawali penyelesaian. Mu’anat adalah yang menghilangkan efek asas ini maka harus ada mu’anat dahulu sebelum segala sesuatu.
Dengan demikian, solusi bagi pemikiran yang lambat adalah mu’anat maka harus ada mu’anat karena tidak ada solusi tanpanya. Oleh karena itu, sesungguhnya solusi yang sebenarnya bagi kelambatan berpikir atau bagi tidak adanya surat pribadi H atau untuk mewujudkan sur’atul badihah adalah mu’anat. Mu’anat diarahkan kepada kelambatan dalam berpikir. Adapun cara mengarahkan mu’anat ini, penjelasannya sebagai berikut:
Pertama, harus diperlihatkan banyak hal kepada bangsa dan kepada individu-individu agar mereka berpikir dengannya. Melalui pemikiran mereka atas segala hal tadi dan dengan apa yang terjadi di hadapan mereka akan menjadikan mereka memperhatikan adanya kelambatan dalam berpikir. Perhatian atau pengindraan terhadap kelambatan merupakan titik tolak penyelesaian.
Kemudian kita mengambil perhatian itu atau pengindraan itu dan kita membahasnya dengan utama sehingga kita mengetahui hakikatnya. Misalnya kita melontarkan suatu pemikiran kepada manusia yang merupakan masa depan mereka atau realitas mereka atau sejarah mereka, kita mendapati mereka menganalisis masa depan ini dengan analisis yang lambat sehingga masa depan itu terlepas dari tangan mereka.
Mereka juga menganalisis realitas mereka atau sejarah mereka dengan cara yang sama. Padahal analisis atas masa depan tidak sama dengan analisis atas realitas dan tidak sama dengan analisis atas sejarah. Akan tetapi, kebiasaan mereka untuk berpikir lambat. Berpikir lambat merupakan tabiat mereka sehingga menjadikan mereka berlama-lama dalam menganalisis dan memberikan filosofi pada hal-hal yang sederhana sehingga menjadikan masa depan itu kabur, demikian juga realitas dan sejarah, daripada menambah kejelasannya.
Kelambatan dalam berpikir ini merupakan fenomena yang menonjol pada diri mereka semua orang. Ketika itu kita tidak menyalahkan pemikiran yang kita lontarkan, tetapi kita mencela fenomena umum yang terjadi pada diri mereka semua. Kita menangkapnya dan memegang dengan erat kerah bajunya dan menyerangnya dengan keras dan menjelaskan bahwa fenomena itu sangat memalukan dan kita menjauhkan mereka darinya.
Baiknya kita katakan pada mereka bahwa, “Sesungguhnya madu adalah kotoran serangga.” Apabila mereka telah membenci kelambatan dalam berpikir, artinya membenci berpikir lambat. Akan tampak dari mereka kecenderungan untuk cepat dalam berpikir.
Kecenderungan ini merupakan tanda-tanda kesembuhan. Jika kecenderungan ini belum nyata, kita harus mewujudkannya pada diri mereka dengan iyha (sugesti) atau dengan proses yang cepat, bahkan super cepat sehingga kecenderungan ini ada pada sebagian mereka meskipun belum ada pada mereka semua, tetapi tidak lama kemudian akan ada pada semuanya. [MNews/Rgl]
Sumber artikel: Syekh Taqiyudin an-Nabhani, Sur’atul Badihah (Berpikir Cepat dan Produktif
