Penulis: Arini Retnaningsih
Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Setahun sudah kita menunggu bulan ini tiba. Penuh harap dan kerinduan. Hari-hari yang penuh makna, ketika iman terasa manisnya, ibadah terasa nikmatnya. Inilah musim panen dalam amal-amal kita. Tentu, kita menginginkan hasil panen terbaik. Namun, hal itu tidak mungkin akan kita raih begitu saja. Butuh waktu sebelumnya untuk kita menanam dan memupuk persiapan-persiapan tersebut, tetapi dari jauh hari sebelumnya.
Para salaf saleh telah memulai persiapan Ramadan ini sejak memasuki Rajab. Abu Bakr al-Balkhi rahimahullah pernah mengatakan,
شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ.
“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Syakban adalah bulan menyirami tanaman, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman.”
Sedangkan Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan:
مَثَلُ شَهْرِ رَجَبٍ كَالرِّيْحِ، وَمَثُل شَعْبَانَ مَثَلُ الْغَيْمِ، وَمَثَلُ رَمَضَانَ مَثَلُ اْلمطَرِ، وَمَنْ لَمْ يَزْرَعْ وَيَغْرِسْ فِيْ رَجَبٍ، وَلَمْ يَسْقِ فِيْ شَعْبَانَ فَكَيْفَ يُرِيْدُ أَنْ يَحْصِدَ فِيْ رَمَضَانَ.
“Perumpamaan Rajab adalah seperti angin, Syakban seperti awan yang membawa hujan, dan Ramadan seperti hujan. Barang siapa yang tidak menanam pada Rajab dan tidak menyiraminya pada Syakban, bagaimana mungkin ia memanen hasilnya pada Ramadan?”(Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hlm. 130.)
Kita yang menginginkan memanen amal pada Ramadan, tidak bisa tidak harus memulai persiapan jauh-jauh hari sebelumnya dengan persiapan yang menyeluruh, baik iman, amal, maupun fisik dan materi.
Membangun Tekad, Memperkuat Iman
Menyiapkan Ramadan adalah membangun tekad untuk lulus sebagai golongan orang yang bertakwa pada akhirnya. Tekad yang kuat atau kita sebut azzam hanya terlahir dari keimanan yang kuat. Keyakinan yang tidak ada keraguan bahwa Allah menyediakan balasan terbaik bagi hamba-Nya yang berjuang pada Ramadan.
Dalam salah satu hadis qudsi, Rasulullah saw. bersabda, ”Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Taala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan ia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.’ Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misk,” (HR. Bukhari).
Balasan dari Allah adalah balasan terbaik. Apalagi saat Allah menegaskan bahwa hanya puasa, amal yang Dia jadikan untuk-Nya sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadis qudsi, ”Setiap amalan anak Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku,” (HR. Bukhari).
Iman yang kuat akan menghantarkan kita meyakini pahala terbesar puasa ini sehingga akan mampu memotivasi kita untuk mengerjakannya dengan sebaik-baiknya dan mencari kelipatan terbesar dari pahala yang Allah janjikan.
Memperkuat iman bisa dilakukan melalui amal-amal yang dinasihatkan para ulama, di antaranya apa yang disebut tombo ati (obat hati), misalnya membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya, menegakkan salat lail (tahajud dan witir), berkumpul dengan orang-orang saleh, memperbanyak puasa, dan memperpanjang zikir mengingat Allah di sebagian malam kita.
Selain itu, menguatkan keimanan dapat dilakukan dengan memperhatikan dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, menyimak kisah-kisah para Nabi, sahabat, dan para salaf saleh, mensyukuri berbagai nikmat Allah yang telah kita terima, serta memperbanyak mengingat sang pemutus nikmat, yaitu kematian beserta seluruh yang akan terjadi setelahnya.
Menimba Ilmu, Memperbaiki Amal
Ilmu adalah kunci dari amal. Tanpa ilmu, amal bisa menjadi salah dan menjerumuskan dalam kesesatan. Sebagai contoh, ada orang yang memilih tidak berpuasa hanya karena lupa melafazkan niat puasa di malam hari, padahal niat tidak harus dilafazkan. Jika ia bermaksud dan menyengaja untuk berpuasa, maka hal tersebut sudah merupakan niat. Atau orang yang tidak memahami ilmu, boleh jadi ia berpuasa, tetapi tidak menahan lisan, mata, dan telinganya dari maksiat sehingga rusak amal puasanya.
Jadi, untuk bisa berpuasa dan beribadah dengan sempurna pada Ramadan, kita perlu memiliki ilmu tentang puasa, dari rukun-rukunnya, apa yang membatalkannya, apa yang merusak pahalanya, yang menyempurnakannya, dan yang menghalanginya. Begitu pula harus memiliki ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengan Ramadan, seperti tarawih, iktikaf, zakat fitrah, dan Idulfitri.
Melatih Raga, Menggembleng Jiwa
Tubuh kita juga perlu dipersiapkan untuk menyambut Ramadan. Menjaganya agar tetap sehat, serta melatihnya untuk meyesuaikan ritme baru pada Ramadan. Oleh karena itu, sebelum masuk Ramadan, kita mulai membiasakan untuk bangun pada sepertiga malam terakhir sehingga saat masuk Ramadan kita tidak lagi terasa berat melakukannya.
Itu pula salah satu manfaat dari menjalankan shaum pada Syakban sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Begitu pula apa yang dilakukan para ulama dengan membiasakan membaca Al-Qur’an sejak masuk ke dalam Syakban.
Pembiasaan semacam ini menyiapkan tubuh kita untuk beradaptasi lebih awal dengan ritme Ramadan sehingga dari awal masuk Ramadan kita bisa langsung tancap gas dalam beribadah. Penyiapan raga seperti ini, sekaligus menggembleng jiwa kita untuk siap menjalankan ketaatan kepada Allah.
Muhasabah dan Muraqabah Menuju Kemenangan
Untuk menggapai Ramadan terbaik, kita perlu melakukan evaluasi atas Ramadan-Ramadan yang telah kita lalui selama ini. Menengok kembali target-target kita, apakah sudah tercapai? Apabila sudah, apa yang bisa kita tingkatkan? Apabila belum, apa yang menyebabkannya? Bagaimana kita memperbaikinya?
Dengan muhasabah semacam ini, kita bisa menilai Ramadan-Ramadan yang telah kita lewati dan merumuskan perbaikan-perbaikan dalam Ramadan yang akan datang. Dengan demikian, kita bisa berharap, Ramadan kita akan senantiasa menjadi Ramadan terbaik, lebih baik dari Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya.
Muhasabah ini perlu kita iringi dengan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat dan mengawasi dirinya. Tidak sedetik pun Allah lalai dan lengah. Dengan adanya kesadaran ini, seseorang akan meneliti apa-apa yang mereka telah lakukan dalam kehidupan sehari-hari, sudah sesuai dengan kehendak Allah ataukah malah menyimpang dari apa yang Dia tentukan. Termasuk ketika kita mengevaluasi Ramadan yang lalu, kita sertakan kesadaran bahwa Allah tahu sungguh-sungguhkah kita dalam upaya memperbaiki diri di Ramadan ini ataukah kita mencoba untuk mencari pembenaran-pembenaran dan pemakluman apabila target-target kita tidak tercapai.
Menyusun Target yang Terukur
Mengisi Ramadan tanpa menetapkan target seperti kita membiarkan air mengalir. Kalau saatnya habis, air akan makin mengecil sampai tidak ada lagi air yang mengalir. Berbeda halnya jika kita menetapkan target, kita akan berjuang untuk mewujudkannya. Hal ini akan membuat kita bersemangat dalam menjalankan ibadah Ramadan. Ibaratnya, kita tidak akan membiarkan airnya mengecil dan habis. Jika perlu, kita buat bendungan untuk menyimpannya dan mengalirkannya saat air mengecil.
Hal ini berlaku juga saat kita menyusun target. Usahakan target-target kita realistis dan mampu untuk kita capai. Namun jangan terlalu ringan, mengingat pahala puasa dan ibadah lain yang dilipatgandakan. Kapan lagi kita bisa panen pahala, sedangkan tahun depan belum tentu kita akan kembali bersua dengan Ramadan.
Target yang kita tetapkan perlu di-breakdown dalam langkah-langkah yang nyata. Misalnya, kita tetapkan target khatam Al-Qur’an, sedangkan kita terbiasa mendapat haid sekitar tujuh hari. Jadi, tiap hari setidaknya kita harus membaca 1,5 juz. Apabila kita atur untuk membaca Al-Qur’an setiap selesai shalat, maka 1,5 juz tersebut bisa kita bagi lima.
Untuk bisa mencapai target, kita perlu pengaturan waktu yang efisien. Tinggalkan perbuatan-perbuatan mubah, kecuali sekadarnya saja sesekali. Persiapkan semua kebutuhan Ramadan, termasuk agenda mudik, baju, kue, sembako yang akan kita sumbangkan, perhitungan zakat, dan sebagainya, sebelum memasuki Ramadan.
Insyaallah, dengan langkah-langkah tersebut, kita mampu mewujudkan Ramadan terbaik setiap tahunnya. Tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu, tentu dengan senantiasa disertai doa agar Allah memberikan kesehatan, keberkahan, keteguhan, dan kekuatan selama Ramadan. Begitu juga senantiasa kita bertawakal kepada Allah. Semoga Allah menjadikan Ramadan kita tahun ini Ramadan terbaik yang pernah kita lalui. Aamiin Allahumma aamiin. [MNews]
