Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, KELUARGA — Siapa pun yang akan dan sedang menjalani bahtera rumah tangga, pasti berharap rumah tangga yang dibangun bersama pasangan beroleh kebahagiaan dan ketenangan, serta penuh kasih sayang. Namun, perjalanan mewujudkan keinginan tersebut tidak selalu mulus. Kadang menemui banyak hambatan, rintangan, ujian, dan kesulitan. Ini semua harus dihadapi bersama.
Pada awal pernikahan, pasutri penuh perhatian dan berkomunikasi intens, walaupun sesekali ada pertengkaran kecil di antara keduanya karena berselisih paham. Akan tetapi, semuanya akan bisa diatasi bersama seiring berjalannya waktu. Selanjutnya, lahir buah hati yang lucu-lucu. Kesibukan pasutri makin banyak. Suami harus lebih semangat bekerja untuk menghidupi keluarga seiring kebutuhan rumah tangga yang makin banyak. Sebaliknya, sang istri yang sekarang sudah menjadi ibu, kesibukannya bertambah. Anak-anak biasanya menyita lebih banyak perhatiannya dibandingkan suaminya.
Pasutri pasti berharap interaksi mereka kian hangat. Namun nyatanya tidak demikian, terkadang kian hambar. Pasutri ingin memiliki quality time berdua. Nyatanya, bertemu cukup lama saja agak sulit. Terkadang masing-masing sibuk atau asyik dengan urusannya sendiri. Ketika tidak ada problem yang dihadapi, mungkin tidak terlalu mengganggu. Akan tetapi, ketika permasalahan menghampiri, seolah merasa sendiri atau merasa diabaikan oleh pasangan. Memiliki pasangan yang kurang perhatian, cuek, atau sibuk memang menjadi tantangan tersendiri. Seolah-olah pasangan tidak peduli lagi dengan keberadaan kita.
Suami yang tidak peka dapat dengan mudah salah menafsirkan perasaan atau keinginan istrinya. Hal ini dapat menyebabkan istri merasa tidak diperhatikan oleh suaminya. Demikian sebaliknya, ketika suami mengeluhkan kondisi pekerjaan, tetapi istrinya kurang menanggapi karena sibuk mengurusi anak-anaknya. Suami merasa diabaikan dan tidak diperhatikan oleh istrinya. Kondisi ini seharusnya diwaspadai oleh pasutri agar jangan berlarut-larut, bahkan menimbulkan pertengkaran.
Lalu, apa yang harus dilakukan agar pernikahan kita tetap harmonis?
Pertama, memahami bahwa pasangan adalah sahabat kita. Kehidupan pernikahan adalah kehidupan persahabatan antara suami dan istri. Suami menjadi sahabat bagi istrinya, begitu pula sebaliknya. Mereka bersahabat secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah yang harus dipahami dengan benar oleh pasutri. Layaknya sahabat, keduanya bisa saling memberi masukan, mengingatkan, menasehati, dan berdiskusi ketika menghadapi masalah. Dengan demikian, ketika ada perbedaan pendapat di antara keduanya, bukan ego pribadi yang muncul, tetapi justru prasangka baik bahwa pasangan kita pun ingin menyelesaikan permasalahan ini bersama.
Selain itu, hubungan persahabatan ini akan membuat pasutri saling memahami kelebihan dan kekurangan pasangannya, serta menerimanya dengan lapang dada. Ini akan menjadikan pasutri saling berempati sehingga tidak mudah berburuk sangka. Akan tetapi, tidak berarti toleran terhadap kesalahan dan kelemahan yang dapat merugikan pasangannya. Sikap ini akan memudahkan pasutri berpikir jernih sebelum memberikan pendapatnya.
Kedua, komunikasi intens dan mencari solusi bersama pasangan. Keharmonisan keluarga dapat tercapai dengan komunikasi yang baik. Secara umum, komunikasi secara langsung atau verbal lebih baik dilakukan supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Komunikasi yang baik akan membuat hubungan pasutri makin baik karena didasari rasa percaya, jujur, dan terbuka. Sampaikan hal yang ingin kita sampaikan atau tanyakan kepada pasangan secara langsung. Dengan begitu akan jelas apa yang diharapkan. Selama masih bisa bertatap muka, lebih baik dilakukan. Berkomunikasi langsung juga bisa menguatkan, serta tatapan mata dan sentuhan bisa menambah keharmonisan keluarga.
Saat muncul masalah dalam rumah tangga, utamakan komunikasi untuk menyelesaikannya. Komunikasi merupakan hal penting dalam keluarga. Saling berkomunikasi sangat diperlukan, bahkan dianjurkan oleh Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Islam memerintahkan pasutri bergaul secara makruf, saling menasehati, dan beramar makruf nahi mungkar sehingga kehidupan keluarga penuh ketenteraman dan persahabatan.
Jika perlu, kita bisa berdiskusi untuk mengevaluasi dan mencari solusi terbaik demi memperbaiki kondisi yang sudah terjadi. Diskusi sederhana seperti ini akan membuat pasangan makin nyaman dan merasa kita selalu ada untuknya. Pasangan akan merasa kita mendukungnya sehingga akan mengurangi rasa bersalahnya terhadap istri dan anak-anaknya. Bisa juga melibatkan anak-anak untuk membantu memotivasi dan menghibur ayahnya sehingga bisa bangkit lebih cepat.
Ketiga, saling percaya dan memahami. Pernikahan menyatukan dua orang dari latar belakang dan keluarga yang berbeda. Oleh karena itu, pasutri perlu saling memahami kelebihan dan kekurangan pasangan, serta menerimanya dengan lapang dada tanpa ada penyesalan. Selanjutnya harus saling menjaga kemuliaan dan kehormatan pasangan, serta beramar makruf nahi mungkar jika tampak ada hal-hal yang tidak sesuai syariat.
Saling percaya dan memahami akan menjadikan pasutri berempati sehingga tidak mudah berburuk sangka. Namun harus tetap bijak terhadap kesalahan dan kelemahan pasangannya. Sikap ini memudahkan pasutri berpikir jernih sebelum memberikan pendapat dan menilai pasangannya.
Setiap pasutri memiliki cara berbeda dalam mengungkapkan rasa cinta kepada pasangannya. Adakalanya pasangan kita terlihat kurang perhatian, tetapi tidak selalu berarti ia mengabaikan kita. Bisa jadi hal tersebut merupakan caranya mengajari kita mandiri dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Penting untuk mengetahui bahasa cinta pasangan kita. Dengan memahami bahasa cintanya, kita akan lebih mudah menunjukkan kasih sayang kepadanya.
Keempat, memberikan perhatian lebih dahulu kepada pasangan. Pasutri harus bekerja sama menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga. Sikap saling menghargai, menyayangi, pengertian, memaafkan, dan memberi perhatian harus dimiliki pasutri. Ketika beberapa sikap baik ini belum ada pada pasangan, kita bisa memberi contoh lebih dahulu. Insyaallah jika mau saling belajar, semua akan bisa terwujud dan akhirnya saling rida. Ini sebagaimana perkataan Abu Darda ra. pada istrinya, “Jika aku marah, buatlah aku rida padamu. Sebaliknya, jika engkau marah, aku pun akan membuat dirimu rida padaku. Kalau tidak demikian, tidaklah kita bersahabat.” Alangkah indahnya.
Ketika pasangan mengeluhkan suatu masalah, ada baiknya kita dengarkan dengan baik dan memberikan perhatian kepadanya. Tunjukkan bahwa kita peduli terhadap masalahnya. Kita bisa memotivasi dan membantu menyelesaikan masalahnya. Biasanya pasangan pun akan melakukan hal yang sama nantinya. Ia menjadi lebih perhatian dan melindungi. Ada baiknya kita juga menyelipkan pujian atau ucapan terima kasih kepada pasangan. Ia akan merasa lebih percaya diri, diperhatikan, dan dihargai. Hal yang sama akan dilakukan pula oleh pasangan kepada kita.
Kelima, berkegiatan bersama. Pasutri pasti memiliki kesibukan masing-masing yang penting. Akan tetapi, pasutri harus berusaha meluangkan waktu berkegiatan bersama, seperti memasak makanan kesukaan sebelum suami berangkat kerja. Bisa juga bersantai dan melakukan kegiatan ringan bersama. Pasutri dapat berolahraga atau berjalan kaki bersama anak-anak ke pasar kaget di dekat rumah, misalnya, walaupun hanya sebentar. Hal ini akan makin menguatkan ikatan di antara pasutri.
Aktivitas rutin yang biasanya dilakukan sendiri bisa dilakukan bersama pasangan. Kita bisa mengintensifkan salat berjemaah, saling membangunkan untuk salat tahajud bersama, sahur bersama ketika hendak melaksanakan saum sunah, dan tadarus bersama. Kita juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah, membereskan rumah, atau berkebun bersama walaupun hanya sebentar. Kebersamaan dengan keluarga akan menumbuhkan sikap saling sayang dan menghormati yang lebih kuat di antara anggota keluarga. Yang tadinya cuek akan makin perhatian terhadap pasangannya.
Keenam, bersabar menghadapi pasangan. Memang tidak mudah menarik perhatian pasangan yang cuek dan sibuk. Namun, kita harus tetap sabar dan berusaha membantu pasangan memahami bahwa ia harus lebih responsif, perhatian, dan mendengarkan. Ini bisa terjadi karena suami tidak melihat ada yang salah dengan apa yang dilakukannya selama ini.
Kejujuran dan percakapan terbuka merupakan cara tepat mengatasi ketakseimbangan dan ketakharmonisan dalam hubungan. Oleh karenanya, kita harus terus berkomunikasi dan bekerja sama dengan pasangan untuk menguatkan hubungan pernikahan. Teruslah menunjukkan kasih sayang kepada suami. Jangan menyerah. Dengan kesabaran dan usaha keras, kita pasti bisa mendapatkan perhatian pasangan. Kesabaran merupakan langkah utama ketika muncul perselisihan dengan pasangan. Kebaikannya tidak selalu bisa dilihat mata, tetapi bisa berupa ganjaran dari Allah Taala. Allah Swt. berfirman, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19).
Ketujuh, mendoakan pasangan. Apa pun yang terjadi di antara kita dan pasangan, hendaklah selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Saling mendoakan merupakan hal penting dalam hubungan pernikahan. Doakan dengan tulus agar Allah memberi keselamatan kepada pasangan dan keluarga kita, serta kelapangan rezeki, dan kemudahan. Ini akan memberi ketenangan kepada kedua belah pihak.
Kekuatan doa istri merupakan senjata terbesar dan terampuh dalam setiap langkah dan usaha suami. Rasulullah saw. mengatakan, “Sesungguhnya doa yang segera dikabulkan adalah doa seorang istri kepada suaminya yang tidak berada di tempat yang sama atau saling berjauhan.” (HR Tirmidzi).
Khatimah
Kehidupan pernikahan tidak selalu seindah harapan. Memang tidak mudah menyatukan dua pribadi berbeda, berasal dari latar belakang berbeda, serta memiliki kebiasaan, karakter, dan keinginan yang berbeda pula. Kadang ada suami yang kurang perhatian terhadap istrinya atau sebaliknya sehingga masing-masing merasa diabaikan. Bisa jadi hal ini karena khilaf, bukan karena kesengajaan. Oleh karena itu, saling menyelami dan berkomunikasi secara intens dengan pasangan menjadi hal penting dalam kehidupan pernikahan.
Pasutri harus bahu membahu serta bekerja sama menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangganya. Jika pasutri terus berusaha memperhatikan kewajibannya, rumah tangga yang penuh kedamaian akan terwujud. Insyaallah. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
