Menjadikan Dakwah sebagai Poros Hidup Muslimah

Menjadikan Dakwah sebagai Poros Hidup Muslimah

Penulis: Halima Noer

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Menjadi pengemban dakwah bukanlah sesuatu yang sulit, tetapi juga bukan sesuatu yang mudah untuk ditunaikan. Hambatan dan rintangan selalu ada. Ujian dan tantangan pun tidak sedikit. Seperti berbagai narasi miring yang diopinikan di tengah umat yang kerap mengaitkan Islam dengan radikalisme. Para pengemban dakwah Islam kafah dan Khilafah dituduh radikal dan membahayakan. Dakwah pun diawasi, dibatasi, penuh tekanan dan ancaman.

Pengemban dakwah tengah berhadapan dengan umat yang lebih dari 100 tahun berada di dalam sistem sekuler liberal setelah sistem Khilafah runtuh sehingga membuat umat sangat jauh dari ajaran Islam. Mereka tidak paham Islam, kecuali sebatas ajaran ritualnya.

Walhasil, menyampaikan Islam kafah terasa begitu berat. Bahkan, tidak jarang pihak keluarga seolah tidak mau berpihak kepadanya. Tidak sedikit seorang istri yang dilarang suaminya untuk berdakwah, atau seorang anak perempuan dilarang ayah atau saudara laki-lakinya karena mereka khawatir. Namun, akankah semua itu menghentikan dakwah muslimah?

Tentu tidak! Selama dakwah menjadi poros hidup muslimah, semua kesulitan dan kesempitan tidak akan menyurutkan sedikit pun langkahnya dalam berdakwah. Justru ancaman, tantangan, dan hambatan akan makin membuatnya bersungguh-sungguh dalam dakwah menyampaikan kebenaran Islam agar segera terjadi perubahan menyeluruh di masyarakat dengan Islam. Hukum-hukum Allah pun bisa diterapkan secara sempurna sehingga semua masalah umat bisa selesai.

Lalu, bagaimana menjadikan dakwah sebagai poros hidup?

Hidup Mengitari Dakwah

Menjadikan dakwah sebagai poros artinya menjadikan hidup dan semua aktivitas mengitari dakwah. Memilih pasangan hidup, pekerjaan, sekolah, maupun tempat kuliah, selalu dakwah yang menjadi pertimbangan. Ia tidak akan memilih pasangan hidup yang nantinya akan melarangnya untuk berdakwah. Demikian halnya dalam memilih pekerjaan ketika ia harus bekerja, ia akan memilih pekerjaan yang mendukung dakwah, bukan pekerjaan yang menyibukkannya sehingga tidak lagi tersisa waktu dan tenaga untuk berdakwah.

Muslimah yang menjadikan dakwah sebagai poros hidup akan memberikan apa pun yang ia miliki demi dan untuk dakwah. Ketika memiliki harta, ia akan berpikir agar harta tersebut bisa bermanfaat di jalan dakwah. Bahkan, ketika ia tidak punya harta, ia akan mencarinya agar bisa ia infakkan di jalan dakwah. Demikian juga saat ia memiliki ilmu atau keahlian, jabatan ataupun kedudukan, ide dan pikiran, waktu juga tenaga, semuanya akan ia persembahkan untuk dakwah.

Memberikan Komitmen Terbaik

Menjadikan dakwah sebagai poros hidup juga bermakna memberikan komitmen terbaik bagi dakwah. Artinya, menjadikan dakwah sebagai prioritas hidup. Tentu kita ingat peristiwa yang terjadi pada Rasulullah saw. ketika mendapatkan wahyu pertama, yakni Surah Al-Alaq. Beliau saw. langsung menyatakan kepada istrinya, Khadijah ra., “Laa rahata ba’da al-yawma, ya Khadijah. (Tidak ada lagi waktu berleha-leha setelah hari ini, wahai Khadijah).”

Dalam riwayat lain dinyatakan, “Qad dha’a waqtu an-nawm, ya Khadijah. (Waktu tidur telah hilang, wahai Khadijah).” Ini menunjukkan bahwa prioritas dakwah telah menjadi prioritas hidup Nabi saw. hingga menyita seluruh waktu beliau.

Ketika muslimah menjadikan dakwah sebagai poros, ia akan berdakwah dengan serius dan profesional. Ia akan bersungguh-sungguh merencanakan strategi dakwah, juga menetapkan target dan tujuan dakwah. Ia pun akan membuat berbagai program dakwah dan bersungguh-sungguh menjalankan program tersebut. Tidak hanya itu, ia juga akan senantiasa mengevaluasi semua yang dilakukan dan terus-menerus melakukan perbaikan ketika dakwah tidak mampu meraih target dan tujuan.

Lalu, bagaimana caranya agar dakwah bisa menjadi poros hidup muslimah? Setidaknya ada beberapa hal yang seharusnya dilakukan.

Pertama, Menjadikan Takwa sebagai Pijakan Dakwah

Setiap muslimah harus menjadikan takwa sebagai pijakan menjalani kehidupan. Dengan ketakwaannya, seorang muslimah akan selalu menjadikan syariat Islam sebagai standar sehingga solusi setiap permasalahan yang ia hadapi tidak akan diambil selain dari ketentuan Islam.

Dengan takwa sebagai pijakan, ia mampu menyelaraskan tugas utamanya sebagai ummun wa rabbatul bayt, yakni ibu dan pengurus rumah suaminya, beserta kewajibannya sebagai pengemban dakwah. Tidak ada satu pun yang dilalaikannya karena keduanya adalah kewajiban. Demikian juga berbagai kewajiban lainnya, seperti berbakti pada orang tua, taat pada suami, dan lainnya, akan ia sinergikan dengan kewajiban berdakwah.

Demikianlah, ketakwaanlah yang mendorong muslimah berdakwah dan menjaganya tetap istikamah di jalan dakwah. Ketakwaan pula yang membuatnya mampu mencari solusi yang tepat ketika dakwah itu menemui masalah.

Allah Swt. berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya dipermudah urusannya.” (QS Ath-Thalaq: 4).

Tidak hanya itu, landasan takwa juga akan menjaga idrak shilah billah (hubungan dengan Allah Swt., Sang Khalik) sehingga selalu fokus mengejar rida-Nya di setiap langkah dakwahnya. Dakwah karena Allah dan untuk Allah, bukan untuk mengejar materi, ketenaran, kepuasan jiwa, eksistensi diri, ataupun yang lainnya.

Kedua, Menghiasi Diri dengan Sabar

Sabar bukan berarti diam. Sabar juga berarti menyampaikan kebenaran. Seorang pengemban dakwah akan terus berdakwah sekuat tenaga dan menyerahkan hasilnya kepada Allah Taala. Ketika dakwah sulit diterima umat, ia akan sabar menjelaskan dan menuntun umat ke jalan yang lurus. Penolakan umat tidak akan membuatnya kesal dan marah hingga meninggalkan dakwah. Ia sangat memahami bahwa meninggalkan dakwah sama saja dengan meninggalkan ketaatan. Oleh karenanya, sabar dalam melakukan ketaatan adalah kunci kemenangan.

Allah Swt. berfirman, “Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu tenang karenanya. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS Ali Imran: 126).

Ketiga, Siap Menghadapi Ujian

Seorang pengemban dakwah juga harus siap ditempa berbagai ujian. Harus diingat bahwa berbagai tekanan dan ancaman yang menimpa pengemban dakwah hari ini, juga dialami Rasulullah saw. dan para sahabat dahulu. Namun, semua itu tidak sedikit pun berpengaruh dalam dakwah mereka, padahal mereka tengah Allah uji melalui penentangan dan fitnah keji. Allah Swt. menyebutnya sebagai syayâthîn.

Allah Swt. berfirman, “Demikianlah, Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin.” (QS Al-An’am [6]: 112).

Imam Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan, ujian yang disebutkan Allah Taala dalam ayat ini tidak hanya menimpa Rasulullah saw., melainkan juga berlaku umum bagi orang-orang yang mengikuti beliau dalam dakwah.

Rasulullah saw. yang mulia pernah disebut sebagai orang gila (QS Al-Hijr [15]: 6), tukang sihir (QS Shad [38]: 4), penyair gila (QS Shaffat [37]: 37), pemecah belah persatuan kaumnya, dan sebagainya. Kegiatan sosial dan ekonomi Rasulullah saw. dan para sahabat juga diembargo, dikucilkan di lembah tandus selama tiga tahun. Sebagian para sahabat—terutama yang lemah—ditangkap, disiksa, bahkan ada yang dibunuh. Rasulullah saw. pun tidak lepas dari penyerangan secara fisik. Ditaburi duri-duri di depan rumah, ditaburi isi perut unta di atas kepala, bahkan pernah dicekik dan hampir dibunuh.

Sekalipun begitu, berat ujian yang harus dihadapi para pengemban dakwah. Akan tetapi, satu hal yang pasti, para penentang dakwah akan menuai azab Allah Taala sebagaimana firman-Nya, “Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini dan sekali-kali tidak ada bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka yang selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihatnya.” (QS Huud [11]: 18—20).

Khatimah

Hidup di dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat abadi selamanya. Siapa pun yang paham hal itu tidak akan pernah mengejar dunia. Ia pasti akan mengejar akhirat sekalipun itu sulit, berat, dan melelahkan.

Demikianlah kehidupan para muslimah yang berdakwah. Ujian dan rintangan menjadi bagian kesehariannya. Namun, ia tidak akan mengeluh, apalagi merengek meminta dimaklumi atas kelalaiannya dalam menjalankan amanah dakwah, atau bahkan memutuskan untuk berhenti dari dakwah. Sama sekali tidak. Itu karena ia sangat paham bahwa ia telah melakukan aktivitas yang sangat mulia, aktivitas yang juga dilakukan oleh para nabi dan Rasul-Nya.

Lalu ketika tantangan makin besar, ia justru akan lebih kukuh lagi dalam berdakwah. Ia akan makin mendekat kepada Allah, sebab Allahlah sebaik baik Pelindung dan Penolong.

Allah Swt. berfirman, “(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.'” (QS Ali Imran [3]: 173). (MNews/Gz)

#KapitalismeSengsarakanUmat #KhilafahPerisaiHakiki #IslamSolusi #Khilafah

Share

One thought on “Menjadikan Dakwah sebagai Poros Hidup Muslimah”

  1. Subhanallah, penjelasan yang luar biasa mengena. Realed. Bismillah semoga daya, upaya, do’a, kesabaran dan keikhlasan menjadi karpet merah keberkahan dari Allaah berupa kemenangan Islam. Allahumma aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *