[Kabar] Ayah Menganiaya dan Membunuh Anak Kandungnya, Pengamat: Hilangnya Fitrah Keayahan

[Kabar] Ayah Menganiaya dan Membunuh Anak Kandungnya, Pengamat: Hilangnya Fitrah Keayahan

Muslimah News, NASIONAL — Beberapa waktu terakhir, terjadi sejumlah kasus ayah membunuh dan menganiaya anak kandungnya sendiri.  Di Gresik, seorang anak berusia 9 tahun, tewas karena ditusuk oleh ayah kandungnya sendiri yang berusia 29 tahun pada 29 April 2023.

Sementara itu, di Pati, Satreskrim Polresta Pati mengevakuasi jasad bayi berusia 3 bulan di Sungai Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo Pati, Selasa, (2-5-2023) sore. Penyelidikan mengarah kepada ayah kandung korban yang berusia 20 tahun sebagai pembunuh bayinya sendiri dan membuangnya ke sungai.

Kemudian, balita berusia 2 tahun 7 bulan tewas setelah dianiaya ayah kandungnya di sebuah rumah di Kampung Mawenagu, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Awalnya, korban rewel sambil menangis dan korban sempat dipukul oleh RS, ayahnya sendiri, di bagian kepala sebanyak satu kali menggunakan kayu hingga korban terus menangis,

Hilangnya Fitrah

Pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti menyesalkan hilangnya fitrah keayahan dari kejadian-kejadian ini.

“Sungguh menyesakkan dada ada ayah tega membunuh anak kandungnya sendiri.  Mirisnya, kejadian ini tidak hanya satu kejadian saja, tetapi ada beberapa, bahkan bisa jadi jauh lebih banyak dibandingkan yang diberitakan media. Korbannya pun beragam usia, bahkan ada bayi baru lahir seperti yang terjadi di Serang akhir April 2023 lalu,” ungkapnya kepada MNews, Jumat (5-5-2023).  

Ia menilai, ada banyak faktor penyebab hilangnya naluri keayahan yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom buah hatinya.

“Sebagaimana kasus yang terjadi, di antara pemicunya adalah faktor ekonomi, tangisan anak yang tak juga berhenti, hingga malu karena anaknya lahir cacat,” ujarnya.

Ia menelaah, tampak nyata ada faktor internal dan eksternal yang memicu terjadinya pembunuhan yang seharusnya mustahil terjadi. 

“Kedewasaan dan kematangan mental tampaknya belum terwujud sehingga tidak siap dengan tanggung jawab sebagai seorang ayah. Hal ini tentu juga erat kaitannya dengan keimanan seseorang dalam menerima semua yang terjadi padanya, baik itu berupa kerepotan mengurusi anak, keridaan atas cacatnya anak, ataupun kesulitan hidup yang terjadi,” jelasnya.

Jauh dari Agama

Arum menjelaskan, dengan jauhnya agama dari kehidupan, membuat seseorang berpikir pendek dan membuatnya putus asa atas persoalan yang menimpanya.

“Di sisi lain, kesulitan ekonomi merupakan buah dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang tidak memiliki kepedulian pada orang-orang yang lemah. Dengan peran negara hanya sebagai regulator, maka orang-orang yang lemah ini tidak memiliki kemampuan untuk hidup sejahtera.  Kemiskinan jelas meningkatkan tekanan kehidupan,” urainya.

Selain itu, lanjut Arum, sekularisme juga membuat sistem pendidikan gagal mencetak individu yang kuat mentalnya. 

“Oleh karenanya, menjadi satu keniscayaan, dalam naungan sekularime kapitalisme lahir ayah-ayah yang lemah dan tidak memahami peran pentingnya sebagai pelindung dan pengayom keluarga termasuk anaknya sendiri. Akhirnya, terjadilah laki-laki menjadi ayah yang bermental lemah, juga berlaku jahat kepada buah hatinya sendiri,” paparnya.

Sistem Islam

Namun, Arum menyatakan, kondisi tersebut tidak akan terjadi dalam sistem Islam. “Islam jelas mewajibkan negara menjamin kesejahteraan setiap individu rakyatnya, termasuk individu yang lemah dan memiliki keterbatasan. Islam juga menyediakan lapangan pekerjaan yang banyak sehingga memungkinkan para ayah bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak.  Dengan layanan kesehatan dan pendidikan yang dijamin negara, maka sejahtera akan mudah terwujud,” ucapnya.

Di sisi lain, lanjutnya, sistem pendidikan Islam akan melahirkan ayah yang kuat imannya sehingga senantiasa taat pada syariat Allah dan  rida dengan ketetapan Allah.

“Kurikulum pendidikan Islam juga akan menghantarkan penguatan peran manusia sesuai dengan fitrahnya, sehingga  para ayah tidak saja giat dan semangat bekerja, tetapi juga tangguh dan sabar dalam membantu istrinya mengurus anak-anaknya,” jelasnya.

Dengan demikian, ia menuturkan, akan terwujud para ayah yang tetap terjaga fitrah pelindung dan pengayom yang akan mendampingi buah hatinya dengan penuh kasih sayang dan mendidiknya menjadi muslim yang taat dan tangguh.

“Maka, di dalam negara yang menerapkan Islam secara kafah, tidak akan ditemui sosok ayah yang tega membunuh buah hatinya sendiri,” tandasnya. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *