Keutamaan Umrah Saat Ramadan

Keutamaan Umrah Saat Ramadan

Penulis: Wiwing Noeraini

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Tidak terasa kita sudah melalui pertengahan Ramadan. Sekalipun badan mulai lelah, tetapi tidak boleh mengurangi semangat untuk memperbanyak amal saleh pada bulan ini.

Salah satu amal saleh yang banyak diburu umat Islam saat Ramadan adalah ibadah umrah. Sejak awal Ramadan, Masjidilharam maupun Masjid Nabawi telah diserbu oleh gelombang besar jemaah umrah. Ramadan memang merupakan puncak musim umrah tahunan bagi umat muslim dunia. Diberitakan, reservasi ibadah umrah Arab Saudi saat ini sudah penuh hingga sampai akhir Ramadan.[1]

Sedangkan bagi muslim Indonesia, animo masyarakat terhadap ibadah umrah Ramadan yang begitu tinggi, sebagian dikarenakan sulitnya melakukan ibadah haji. Sudahlah usia tidak muda lagi, masih harus menunggu antrean ibadah haji hingga puluhan tahun. Bahkan, ada daftar tunggu yang hampir menembus angka 100 tahun! Sungguh tidak realistis.[2] Oleh karenanya, umrah Ramadan pun menjadi pilihan.

Pahala Umrah Setara dengan Naik Haji

Kenapa banyak orang berlomba-lomba melakukan umrah saat Ramadan? Ini karena pahalanya yang sangat besar. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa umrah saat bulan suci Ramadan sangat diutamakan sebab menjadi jalan untuk mendapatkan pahala setara haji.

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda kepada seorang wanita dari kalangan Anshar, ‘Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami?’ Ia berkata, ‘Kami hanya punya dua unta, yang satu dibawa oleh bapak dan anaknya, yang satu lagi kami gunakan untuk menyiram kebun.’ Maka Nabi saw. berkata, “Jika datang bulan Ramadan, lakukanlah umrah karena umrah itu sama dengan haji.” Dalam riwayat Muslim, “Sama dengan menunaikan haji bersamaku.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa keutamaan hadis tersebut berlaku bagi orang yang telah niat berhaji, tetapi ia tidak mampu, kemudian diganti dengan umrah saat Ramadan. Akan tetapi, para ulama dalam empat mazhab dan yang lainnya berpendapat bahwa keutamaan dalam hadis ini bersifat umum bagi siapa saja yang umrah saat Ramadan. Umrah di dalamnya sama dengan berhaji bagi semua orang, tidak khusus bagi orang tertentu dalam kondisi tertentu. Inilah pendapat yang lebih kuat, lebih mendekati kebenaran. Hal tersebut dilandasi sebagai berikut.

Pertama, terdapat hadis dari sejumlah sahabat, Tirmidzi berkata, “Dalam bab ini terdapat riwayat dari Ibnu Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Anas, dan Wahab bin Khanbasy. Dalam kebanyakan riwayat, mereka tidak menyebutkan kisah penanya wanita tersebut.”

Kedua, amalan manusia sepanjang masa, baik dari kalangan sahabat, tabiin, ulama, maupun muslih, mereka sangat mementingkan menunaikan umrah saat Ramadan untuk mendapatkan pahalanya.[3]

Oleh sebab itu, jelaslah, pahala umrah Ramadan senilai dengan pahala menunaikan ibadah haji.

Umrah Ramadan Tidak Menggugurkan Kewajiban Haji

Sekalipun ibadah umrah saat Ramadan setara dengan berhaji, hanya saja hal itu tidak menggugurkan kewajiban ibadah haji apabila yang bersangkutan sebelumnya belum pernah berhaji. Ini karena umrah Ramadan setara dengan haji dalam hal pahalanya saja.

Hal ini dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam karyanya, Fath al-Bari juz 3, hlm. 604,

أَنَّ الْعُمْرَةَ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ الْحَجَّةَ فِي الثَّوَابِ لَا أَنَّهَا تَقُومُ مَقَامَهَا فِي إسْقَاطِ الْفَرْضِ لِلْإِجْمَاعِ عَلَى أَنَّ الِاعْتِمَارَ لَا يُجْزِئُ عَنْ حَجِّ الْفَرْضِ

“Bahwa umrah Ramadan itu setara haji dalam pahalanya saja, bukan berarti umrah dapat menggantikan haji sehingga kewajiban haji dapat gugur, sebab ulama telah bersepakat (ijmak) bahwa umrah tidak dapat menggugurkan kewajiban haji.”

Adapun kesamaan antara pahala umrah saat Ramadan dan pahala haji adalah dari ukuran pahala, bukan dari jenis dan kualitas. Ini karena ibadah haji tidak diragukan lagi, lebih mulia daripada ibadah umrah dari sisi jenis amal. Siapa pun yang umrah saat Ramadan, ia akan meraih seukuran pahala ibadah haji. Hanya saja, beribadah haji memiliki berbagai keutamaan dan keistimewaan, serta kedudukan yang tidak terdapat dalam umrah, seperti berdoa di Arafah, melontar jamrah, menyembelih kurban, dan lainnya.

Oleh karenanya, jelas, siapa pun yang memiliki kemampuan sehingga sudah terkena taklif wajibnya beribadah haji, tetapi terhalang untuk menjalankannya, maka ia tetap harus terus mengupayakannya. Ia tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan melakukan umrah saat Ramadan saja.

Umrah Ramadan, Umrah Istimewa

Selain memiliki keutamaan setara dengan haji, umrah Ramadhan juga adalah umrah yang istimewa karena beberapa hal.

Pertama, meningkatkan iman Islam karena dengan hadir langsung di Makkah bisa menyaksikan kebesaran Allah yang luar biasa. Bahkan, baru melihat Ka’bah saja, niscaya air mata akan jatuh berlinang. Kita akan merasakan benar-benar berjumpa Allah karena telah memasuki rumah-Nya.

Beribadah Ramadan bersama jutaan orang di satu tempat semata mencari rida-Nya, juga bersama mencari Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, pasti akan memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa yang menyemaikan rasa rindu mendalam untuk selalu ingin kembali ke tanah suci. 

Kedua, memotivasi untuk lebih banyak beribadah. Ini karena keyakinan bahwa saat Ramadhan, semua amal ibadah dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Taala. Ini akan memotivasi untuk melakukan banyak ibadah selama umrah Ramadan. Menjalankan salat-salat sunah, seperti sunah rawatib, Dhuha, Tarawih, tahajud, dan witir, akan terasa ringan karena keyakinan akan pahalanya yang dilipatgandakan oleh Allah Swt. saat Ramadan. Terlebih, semua salat itu dilakukan di Masjidilharam dan Masjid Nabawi yang pahalanya berlipat-lipat dibandingkan salat di masjid lainnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1.000 salat di masjid lainnya selain Masjidilharam. Salat di Masjidilharam lebih utama daripada 100.000 salat di masjid lainnya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Bisa bayangkan, betapa banyaknya pahala yang didapatkan ketika salat di kedua masjid tersebut saat Ramadhan. Walhasil, semua itu menjadi dorongan untuk terus dan terus beribadah selama di sana. Semua ini akan membentuk bi’ah (kebiasaan) baik yang akan terus berlanjut saat seseorang sudah sampai di kampung halaman.

Ini pun sekaligus menjadi pertanda, apakah ibadah umrah kita diterima oleh Allah atau tidak? Ketika pulang umrah menjadi lebih baik, lebih banyak beribadah, dan lebih taat kepada Allah, maka itu adalah salah satu pertanda Allah menerima ibadah umrah kita. Akan tetapi sebaliknya, jika sepulang umrah tidak mengubah sikap perilaku dan ibadah, bahkan lebih buruk, bisa jadi itu pertanda umrah kita tidak bernilai di sisi Allah Taala. Na’udzubillahi min dzalik.

Ketiga, memperoleh kesempatan berdoa di tempat-tempat mustajab sehingga kita bisa bermunajat kepada Allah dengan sepuasnya. Di Masjidilharam ada sejumlah tempat yang mustajab untuk berdoa. Ada Multazam, yaitu tempat atau jarak antara sudut Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Juga ada Hijir Ismail, Rukun Yamani, dan Maqam Nabi Ibrahim as.. Sedangkan di Masjid Nabawi, salah satu tempat mustajab berdoa adalah di Raudhah. Letak Raudhah dijelaskan oleh Nabi saw., “Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga (Raudhah).” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, umrah Ramadan hakikatnya telah menggabungkan waktu dan tempat yang mustajab. Inilah saat yang tepat untuk merenung dan mengevaluasi diri, betapa banyak kesalahan dan dosa yang sudah kita buat selama ini. Kemudian bermohon semoga Allah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, dan semoga umrah ini menjadi penghapus semua dosa dan kesalahan yang sudah kita lakukan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Umrah hingga umrah berikutnya merupakan penebus kesalahan antara keduanya dan haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Malik, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah).

Yang tidak kalah penting, umrah Ramadan juga saat yang penting untuk meminta agar Allah memberikan kekuatan dan kemudahan untuk bisa menerapkan hukum-hukum-Nya secara kafah. Juga meminta pertolongan-Nya agar Khilafah segera tegak sehingga syariat-Nya bisa diterapkan secara sempurna. Tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah telah berkehendak. Hanya dengan izin-Nyalah syariat Islam kafah dalam naungan Khilafah bisa segera terwujud.

Keempat, umrah Ramadan menjadi sarana meningkatkan ukhuah islamiah, yakni memupuk persaudaraan di antara kaum muslim dari berbagai belahan dunia. Siapa pun yang pernah umrah, terlebih umrah Ramadan, akan merasakan betapa besarnya rasa persaudaraan di antara jemaah umrah. Mereka saling berbagi makanan dan minuman untuk berbuka puasa maupun sahur. Semua berlomba untuk memberikan apa pun yang mereka miliki, juga saling membantu ketika ada yang mengalami kesulitan. Sekalipun tidak jarang ada kendala bahasa dalam berkomunikasi, tetapi imanlah yang menyatukan. Semua terasa indah sekalipun hanya dengan isyarat dan bahasa kalbu.

Khatimah

Demikianlah, begitu besarnya pahala umrah saat bulan yang mulia ini. Sangat disayangkan, bahkan merugi, bagi siapa pun di antara kaum muslim yang memiliki kemampuan fisik maupun finansial, tetapi tidak terpanggil untuk menunaikan ibadah umrah ini. Bisa jadi hati dan pikirannya telah tertutup oleh dosa-dosa yang menggunung. Oleh sebab itu, bersegeralah untuk meminta ampun kepada-Nya. Semoga Allah segera memanggil kita menjadi tamu-tamu-Nya.

Labbaik allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda, wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika lak.

“Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya pujian dan kenikmatan hanya milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.” Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Daftar Referensi

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *