Siapa yang tidak ingin cepat sembuh? Setiap orang pasti menginginkannya karena kesehatan adalah sesuatu yang berharga. Lantas, bagaimana jika terjadi fenomena masyarakat yang rela antre berobat alternatif, seperti fenomena pengobatan Ida Dayak?
Penulis: Asy-Syifa Ummu Siddiq
Muslimah News, OPINI — Beberapa waktu terakhir, publik digemparkan dengan sistem pengobatan alternatif Ida Dayak sejak videonya beredar cepat di dunia maya. Ida Dayak memperlihatkan kelihaiannya dalam mengobati tangan bengkok, tidak bisa jalan, bahkan strok. Masyarakat pun langsung antusias.
Mereka berbondong-bondong datang ke tempat praktik Ida Dayak, berharap sakit yang mereka derita selama ini bisa sembuh total. Fakta menarik lainnya, pengobatan ini gratis. Wajar jika masyarakat banyak yang tergiur.
Antusiasme warga terhadap pengobatan seperti ini bukanlah pertama kali. Masih ingat Ponari yang mengobati orang dengan batu yang dicelupkan ke air? Saat itu, Ponari juga viral dan pasiennya pun membludak.
Kondisi seperti ini sesungguhnya memperlihatkan bahwa masyarakat saat ini terus mencari pengobatan yang dapat menyembuhkan. Bisa jadi mereka merasa lelah dan tidak sabar dengan pengobatan medis, apalagi pengobatan modern sering membutuhkan waktu lama. Walhasil, masyarakat pun mencoba pengobatan alternatif.
Evaluasi Layanan Kesehatan
Sebagian pengamat menyebutkan, ada daerah-daerah tertentu yang memang belum maksimal mendapatkan layanan kesehatan lengkap. Padahal, masyarakat sangat membutuhkan hal itu, terutama dokter spesialis yang jarang ditemukan, kecuali di kota-kota. Jadilah masyarakat mencari pengobatan yang bisa mereka jangkau. Di sisi lain, pengobatan alternatif dibolehkan sepanjang tidak mengandung unsur syirik, penipuan, dan bahaya.
Animo masyarakat yang datang ke Ida Dayak menunjukkan bahwa mereka ingin sembuh lebih cepat. Apalagi caranya mudah, tinggal datang dan antre, tidak perlu mendaftar dan memenuhi proses registrasi panjang sebagaimana terjadi di pelayanan kesehatan modern. Apalagi jika menggunakan BPJS, mereka harus memenuhi persyaratan panjang.
Selain itu, ketika berobat ke Ida Dayak, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin ataupun bawa mobil dan jalan kaki. Semua mengantre dan mendapatkan layanan yang sama, sesuatu yang tidak mereka dapatkan di layanan kesehatan modern, yakni pelayanan diberikan sesuai kelasnya, BPJS atau non-BPJS; kelas 1, 2, atau 3; VIP atau VVIP. Perbedaan kelas ini menandakan beda jenis obatnya, layanan, hingga ruangannya.
Selain itu, Ida Dayak yang dikabarkan dapat menyembuhkan berbagai penyakit membuat masyarakat merasa mudah karena satu orang bisa ahli bermacam-macam. Berbeda dengan pengobatan modern yang setiap penyakitnya memiliki bidang ahli sendiri-sendiri sehingga pengobatan memang cenderung lama. Walhasil, kalau tidak sabar, pasien mudah bosan atau putus asa dan mencari alternatif lain.
Masalah yang tidak boleh dilupakan adalah ongkos pelayanan. Pengobatan Ida Dayak disebut gratis. Masyarakat negeri ini yang mayoritas menengah ke bawah tentu tertarik mencoba karena tidak perlu mengeluarkan kocek banyak. Sangat berbeda dengan pelayanan kesehatan modern yang jika ingin segera ditangani harus pakai layanan mandiri. Jikalau pakai BPJS, mereka harus rela antre, itu pun tidak semua sakit bisa diklaim.
Layanan Kesehatan dalam Islam
Dalam Islam, kesehatan adalah salah satu kebutuhan utama karena merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Hal ini didasarkan pada hadis, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari).
Negara sebagai pelayan dan pelindung rakyat berkewajiban memberikan layanan kesehatan yang baik dan memuaskan. Negara tidak boleh membedakan antara kaya dan miskin, semua orang memiliki kedudukan yang sama. Tersebab kesehatan termasuk kebutuhan dasar, sudah selayaknya layanan kesehatan itu bebas biaya ataupun murah.
Negara wajib menyediakan semua layanan, mulai dari dokter, perawat, obat-obatan, alat, dan fasilitas lainnya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan rakyat. Ini karena tugas utama negara adalah menjalankan tanggung jawabnya, bukan sekadar regulator atau fasilitator.
Dengan demikian, layanan kesehatan setidaknya harus memiliki empat kriteria. Pertama, berkualitas, mempunyai standar pelayanan yang teruji, dan selaras dengan prinsip etik kedokteran Islam. Kedua, memiliki individu pelaksana, seperti SDM kesehatan yang kompeten dan amanah di bidangnya. Ketiga, tersedia (available), semua jenis layanan kesehatan yang dibutuhkan mudah didapat dan selalu ada (continuous). Keempat, lokasi pelayanan kesehatan mudah dicapai (accessible), tidak ada hambatan geografis.
Fenomena Ida Dayak hendaknya bisa menjadi bahan evaluasi dan pelajaran bagi seluruh lapisan bahwa kesehatan itu sangat penting dan harus diwujudkan. Dalam hal ini, Islam telah menawarkan konsep kesehatan yang terbaik, bahkan sudah terbukti selama belasan abad. Wallahualam. [MNews/Gz]
