[Fikrul Islam] Menguasai Kepemimpinan Metanoiac

[Fikrul Islam] Menguasai Kepemimpinan Metanoiac

Penulis: Ustaz M. R. Kurnia, dkk.

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Dunia saat ini, termasuk dunia Islam, dicengkeram oleh ideologi kapitalisme yang berasaskan ide sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Setelah runtuhnya komunisme di penghujung tahun 80-an, ideologi kapitalisme sekuler dengan leluasa merambah hampir seluruh negara di dunia, tidak terkecuali dunia Islam.

Dunia Islam yang pernah berjaya menguasai lebih dari 2/3 belahan dunia, kini setelah runtuhnya Khilafah Islam Utsmaniyah, pada 1924 terpecah menjadi lebih dari 50 negara kecil-kecil . Umat Islam bukan hanya lemah secara politik, ekonomi, militer, tetapi juga di bidang pemikiran. Akibatnya umat tidak kuasa menahan serbuan pemikiran, pemahaman, dan budaya yang bertentangan dengan akidah Islam.

Sekularisme oleh Muhammad Qutb (1986) dalam bukunya Ancaman Sekularisme diartikan sebagai iqamatu al hayati ala ghairi assassin mina aldini yakni membangun struktur kehidupan di atas landasan selain agama (Islam). Sementara itu, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani (1953) dalam kitabnya Nizhamul Islam, menjelaskan sekularisme sebagai fashluddin anil hayah yaitu memisahkan agama (Islam) dari kehidupan.

Pemikiran sekularisme berasal dari sejarah gelap Eropa Barat pada abad pertengahan. Saat itu, kekuasaan para agamawan (rijaluddin) yang berpusat di gereja demikian mendominasi hampir semua lapangan kehidupan, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ilmuwan dan negarawan melihat kondisi ini sebagai suatu hal yang sangat menghambat kemajuan, sebab temuan-temuan ilmiah yang rasional sekalipun tidak jarang bertabrakan dengan ajaran gereja yang dogmatis. Galileo Galilei dan Copernicus yang menolak mengubah pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi sentra perputaran planet-planet (heliosentris) dan bukan bumi (geosentris) sebagaimana yang didoktrinkan gereja selama ini, akhirnya dihukum mati.

Sampailah para ilmuwan dan negarawan itu pada satu kesimpulan bahwa bila ingin maju, masyarakat harus meninggalkan agama, atau membiarkan agama tetap di wilayah ritual peribadatan. Sementara itu, wilayah duniawi (politik, pemerintahan, iptek, ekonomi, tata sosial, dan lainnya), harus steril dari agama. Inilah awal munculnya pemahaman sekularisme.

Akan tetapi, satu hal yang harus diperhatikan benar adalah bahwa gugatan yang menyangkut eksistensi peran agama di tengah masyarakat ini sebenarnya terjadi khas pada agama Kristen saja yang ketika itu memang sudah tidak lagi up to date. Oleh karenanya menjadi suatu kejanggalan besar bila gugatan tadi lantas di alamatkan pula pada Islam, agama yang sempurna lagi paripurna, dan diridai Allah Swt. bagi seluruh umat manusia.

Islam jelas tidak mengenal pemisahan antara urusan ritual dengan urusan duniawi. Salat adalah ibadah yang merupakan bagian dari syariat yang seluruh umat Islam harus terikat sebagaimana keterikatan kaum muslimin pada syariat di bidang yang lain seperti ekonomi dan sosial politik. Seluruh gerak laku seorang muslim adalah ibadah karena Islam adalah sebuah totalitas. Merupakan tindak kekufuran bagi seorang muslim apabila beriman kepada ajaran Islam sebagian dan menolak sebagian yang lain. Oleh karena itu, benar-benar sangat aneh jika umat Islam ikut-ikutan menjadi sekuler.

Walhasil, seluruh aspek kehidupan terwarnai dan terpola oleh ideologi asing. Di tengah sistem sekularistik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Di bidang ekonomi berkembang ekonomi kapitalistik. Di bidang politik, berkembang perilaku politik oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik serta sikap beragama yang sinkretistik, serta paradigma pendidikan yang materialistik.

Begitupun dengan dunia pendidikan, sekularisme tidak memberikan ruang yang cukup bagi agama sebab agama bukanlah sesuatu yang penting dalam kehidupan. Walhasil alumni sistem pendidikan ini akan menjadi manusia yang sekularistik, materialistik, oportunistik, dan individualistik.

Nyatanya bahwa sejak runtuhnya kekhalifahan Islam pada 1924, umat Islam telah tumbuh dan berkembang dalam pola salah asuhan ideologi. Akibatnya, umat Islam jatuh sakit dalam derita yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, yakni krisis multidimensi. Sebuah penyakit yang hanya bisa disembuhkan secara total hanya dengan satu obat, yakni kembali ke dalam Islam secara menyeluruh, tidak lagi sekuler.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).

Beratnya persoalan atau krisis yang dihadapi, membuat semua itu hanya mungkin dihadapi melalui solusi yang paradigmatik dan integral, yakni dengan kembali pada tatanan kehidupan Islam secara menyeluruh. Mengapa? Harus secara berparadigmatik oleh karena semua problematik yang ada sesungguhnya berpangkal dari sistem yang terlahir dari pandangan hidup yang salah, yaitu sekularisme.

Sekularisme memang nyata-nyata bertentangan dengan Islam, mengingkari fitrah tauhid manusia dan bertentangan dengan akal sehat. Berbagai problematik tadi juga menghendaki solusi yang integral oleh karena kerusakan yang terjadi telah menyentuh semua sendi kehidupan manusia.

Penyelesaian yang parsial tidak akan menyelesaikan secara tuntas berbagai krisis itu. Bahkan, sebaliknya bisa memicu problematik baru yang mungkin tidak kalah gawatnya. Oleh karenanya, solusi paradigmatik dan integral yang dimaksud tidak lain adalah dengan cara mewujudkan menegakkan kembali seluruh tatanan kehidupan masyarakat berlandaskan pada aturan syariat Islam.

Dari sinilah dapat dimengerti bahwa kebangkitan umat untuk kembali ke haribaan Islam sangat membutuhkan sebuah kepemimpinan yang metanoiac. Apa dan bagaimana sebenarnya pola kepemimpinan ini? Lalu bagaimana dengan tren pengembangan model kepemimpinan dunia era kekinian, apakah juga mengerucut pada model kepemimpinan ini? Jawabannya akan dipaparkan pada tulisan berikutnya. [MNews/Rgl]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *