Seandainya Matahari Diletakkan di Tangan Kananku dan Rembulan di Tangan Kiriku

Seandainya Matahari Diletakkan di Tangan Kananku dan Rembulan di Tangan Kiriku

Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna

Muslimah News, SYARAH HADIS — Penjelasan singkat hadis “seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku”.

Mari kita perhatikan matan hadis dan sanadnya sebagai berikut,

قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ : فَحَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ عُتْبَةَ بْنِ الْمُغَيرَةَ بْنِ الأَخْنَسِ ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ قُرَيْشًا حِينَ قَالَتْ لأَبِي طَالِبٍ هَذِهِ الْمَقَالَةَ ، بَعَثَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا ابْنَ أَخِي ، إِنَّ قَوْمَكَ قَدْ جَاءُونِي ، فَقَالُوا لِي : كَذَا وَكَذَا ، فَابْقِ عَلَيَّ وَعَلَى نَفْسِكَ ، وَلا تُحَمِّلْنِي مَا لا أُطِيقُ ، فَظَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَدْ بَدَا لِعَمِّهِ فِيهِ بَدَاءٌ ، وَأَنَّهُ خَاذِلُهُ وَمُسَلِّمُهُ ، وَأَنَّهُ ضَعُفَ عَنْ نُصْرَتِهِ وَالْقِيَامِ مَعَهُ ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَاللَّهِ يَا عَمِّ ، لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي ، وَالْقَمَرَ فِي شِمَالِي ، عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ ، حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ ، ثُمَّ اسْتَعْبَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَبَكَى ، ثُمَّ قَامَ ، فَلَمَّا وَلَّى نَادَاهُ أَبُو طَالِبٍ ، فَقَالَ : أَقْبِلْ يَا ابْنَ أَخِي ، فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : اذْهَبْ يَا ابْنَ أَخِي فَافْعَلْ مَا أَحْبَبْتَ ، فَوَاللَّهِ لا أُسْلِمُكَ لِشَيْءٍ أَبَدًا ”

Penggalan matannya berarti, “Wahai Paman, Demi Allah, kalaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah) sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya.”

Hadis ini dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dalam al-Maghazi (Sirah Ibnu Hisyam) dengan sanad dari Ya’qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas, ia mengisahkan, ketika kaum Quraisy mendatangi Abu Thalib untuk memprotes semua kegiatan dakwah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, maka Abu Thalib menegur Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu datang kepadaku lalu memprotes begini dan begitu, karena itu tetaplah denganku dan jagalah dirimu, serta janganlah engkau bebani aku sesuatu yang aku tidak mampu untuk mengembannya.” Kemudian Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda….

Ada beberapa catatan terkait hadis di atas,

Pertama, rawi bernama Ibnu Ishaq adalah seorang shaduq tapi mudallis (صدوق مدلس). Oleh karenanya, dalam pandangan para ahli hadis, Ibnu Ihsaq ini diperbincangkan. Meski demikian,  beliau adalah ulama besar, sehingga digelari imam al-maghazi atau shahib al-maghazi (إمام المغازي, صاحب المغازي)

Kedua, rawi bernama Ya’qub bin Utbah adalah seorang tabi’ut tabiindengan kedudukan tsiqah (ثقة) yang wafat pada 128 Hijriah.

Ketiga, dari Utbah ke sahabat terputus lebih dari 1 rawi secara berturut-turut, maka dapat disimpulkan hadisnya terkategori mu’dhal. Hadis mu’dhal adalah hadis dhaif.

Keempat, hadis di atas ada syahid di antaranya,

مَا اَنَابِاَقْدَرَ عَلٰى اَنْ اَدَعَ لَكُمْ ذٰلِكَ ، عَلٰى اَنْ تَشْعَلُوْا لِىْ مِنَهَا شَعْلَةً : يَعْنِى الشَّمْسَ.

“Aku tidak kuasa meninggalkan hal itu, meskipun karenanya kalian akan meletakkan matahari di atasku.”

رواه أبو جعفر البختري في ” حديث أبي الفضل أحمد بن ملاعب ” (47 / 1 – 2) وابن عساكر (11 / 363 / 1، 19 / 44 / 201) من طريق أبي يعلى وغيره كلاهما عن يونس بن بكير أنبأنا طلحة بن يحيى عن موسى بن طلحة حدثني عقيل بن أبي طالب قال: ” جاءت قريش إلى أبي طالب فقالوا: أرأيت أحمد؟ يؤذينا في نادينا، وفي مسجدنا، فانهه عن أذانا، فقال: يا عقيل، ائتني بمحمد، فذهبت فأتيته به، فقال: يا ابن أخي إن بني عمك زعموا أنك تؤذيهم في ناديهم، وفي مسجدهم، فانته عن ذلك، قال: فلحظ رسول الله صلى الله عليه وسلم ببصره (وفي رواية: فحلق رسول الله صلى الله عليه وسلم ببصره) إلى السماء فقال: فذكره.

قال: فقال أبو طالب: ما كذب ابن أخي. فارجعوا “.

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ja’far al-Bakhtari di dalam hadis Abu Fadhl Ahmad bin Mala’ib (47/1-2), Ibnu Asakir (11/363/1, 19/44/201) melalui Abu Ya’la dan yang lain, keduanya dari Yunus bin Bukair yang berkata, telah meriwayatkan kepada kami Thalhah bin Yahya dari Musa bin Thalhah, ia berkata, ‘Ukail bin Abi Thalib meriwayatkan hadis kepadaku, ia mengisahkan, orang-orang Quraisy datang kepada Abu Thalib, lalu mereka melaporkan, “Apakah engkau melihat Ahmad? Ia benar-benar mengganggu dengan azan dalam menyeru kepada kami di masjid kami. Tolong hentikan perbuatannya itu.” Kemudian Abu Thalib berkata, “Wahai Uqail, tolong panggilkan Ahmad (Muhammad-sallallahu ‘alaihi wasallam) ke sini.” Periwayat melanjutnya kisahnya,

“Setelah itu aku mencarinya dan membawanya menghadap ayah. Setibanya di hadapan ayah, beliau memberi tahu, ‘Wahai keponkakanku, kaum Quraisy melaporkan bahwa engkau telah mengganggu mereka. Jika benar maka hentikanlah.’ Periwayat masih menuturkan, ‘Lalu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam melirik pamannya itu (riwayat lain menyebutkan, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengernyitkan matanya) kemudian menengadah dan bersabda, (Perawi kemudian menyebutkan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam di atas).'” Periwayat mengakhiri kisahnya, “Kemudian Abu Thalib berseru, ‘Keponakanku ini tidak berbohong, karena itu, pulanglah kalian.’”

Dari berbagai jalur, hadis ini sahih. Para rawinya tsiqah, juga termasuk rawi yang dipakai oleh Imam Muslim.

Kelima, meski hadis di atas (“Seandainya matahari diletakkan di tangan kananku…”) secara sanad dhaif, tetapi matannya selaras dengan hadis tentang keteguhan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dalam memegang teguh urusan risalah Islam.

Keenam, hadis tersebut juga merupakan targhib (motivasi) dalam memegang teguh dakwah. Jika pun dihukumi dha’if oleh sebagian besar ahli hadis, tetapi dalam hal fadha’il al-a’mal (keutamaan) dan targhib wa tarhib (motivasi dan ancaman), masih boleh diamalkan. Ini pegangan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam hukum mengamalkan hadis dha’if. Selain itu, karena masih terkait dalil pokok tentang keteguhan dakwah dan juga tidak menyelisihinya.

Dengan demikian, dalam kritik sanad hadis di atas dha’if, tetapi secara makna adalah perkara yang masyru’, masih terkait dalil pokok, dha’if-nya tidak sangat parah, ada hadis penguat, dan topiknya terkait targhib yang tidak ada hubungan dengan akidah dan hukum halal haram. Jikapun tidak bisa naik menjadi hasan li ghairihi, mengamalkan hadis dhaif dalam perkara ini adalah boleh. Wallahualam. [MNews/Rgl]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *