Muslimah News, NAFSIYAH — Bagi pengemban dakwah yang senantiasa mencurahkan kemampuannya untuk melakukan amal dakwah, pasti Allah Swt. akan mengganjarnya dengan pahala. Pengemban dakwah yang banyak melakukan amal dakwah tidak akan mendapatkan kerugian, karena seseungguhnya ia sedang “berjual beli” dengan Rabb-nya. Karena amal dakwah termasuk dari amalan kebaikan yang semestinya dilakukan setiap muslim.
Ulama mengatakan, “Balasan dari amal kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barang siapa melaksanakan kebaikan, lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barang siapa yang melaksanakan kebaikan, lalu dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.” (Latha-if Al Ma’arif)
Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut. Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat di sisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya, Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari hadis di atas, kita memahami bahwa setiap kebaikan akan Allah catat sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Coba bayangkan, jika kita melipatgandakan amal dakwah, berapa banyak kebaikan yang tercatat di sisi Allah? Bukankah menjadi suatu keberuntungan besar bagi seorang pengemban dakwah jika ia senantiasa melipatgandakan setiap amal dakwahnya?
Ia akan memanen hasil yang sangat melimpah di akhirat kelak. Namun, hendaknya amal dakwah yang ia lakukan memang semata-mata ditujukan hanya untuk Allah Taala, bukan untuk meraih pujian atau balasan manusia. Setiap amal yang dilakukan kaum muslimin berbeda-beda balasannya di sisi Allah sesuai dengan perbedaan ilmu dan pengagungan kepada Allah Swt..
Hendaknya seorang pengemban dakwah juga menyadari bahwa semakin besar tingkat keikhlasannya dalam aktivitas dakwah, semakin berlipat-lipat pahala dan ganjaran dari Allah Taala. Kunci utama agar pengemban dakwah bisa melipatgandakan amal dakwah ialah tawakal dan banyak berdoa pada-Nya.
Firman Allah Taala, “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS ath-Thalaq: 2-3)
Seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakal, sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).
Nasihat dari Syekh Taqiyuddin an Nabhani yang harus selalu kita ingat, “Ketahuilah dan pahamilah, pengemban dakwah tidak akan mampu memikul tanggung jawab dan kewajiban-kewajibannya tanpa menanamkan pada dirinya cita-cita untuk mengarah kepada jalan kesempurnaan, selalu mengkaji dan mencari kebenaran.”
Upaya melipatgandakan amal dakwah merupakan jalan yang ditempuh untuk segera meraih pertolongan Allah Taala. Agar Islam kembali menjadi aturan dan sistem dalam kehidupan manusia. Agar segera terwujud persatuan umat dalam satu institusi yakni Khilafah.
Tidakkah kita semua merindukan berada dalam riayah seorang Khalifah? Oleh karena itu, jangan menahan-nahan diri untuk berkontribusi dalam perjuangan Islam. Bergerak bersama, tidak boleh ada satu pun dari pengemban dakwah yang menganggur (tidak melakukan amal dakwah). Karena Allah akan melipatgandakan pula pahala dari setiap amal yang kita lakukan. Masyaallah. Wallahualam. [MNews/Rndy-Rgl]
Foto sampul: unsplash
