Penulis: Permadina Kanah Arieska, S.Si., M.Si.
Muslimah News, FOKUS — Fenomena “sleepover date” di kalangan remaja kian merebak dan viral di media sosial. Sleepover date adalah kencan sambil menginap dengan pasangan (belum menikah). Istilah ini terkesan kekinian, padahal sebenarnya maknanya sama dengan “kumpul kebo”, perilaku laki-laki dan perempuan yang berhubungan badan tanpa ikatan pernikahan.
Kaum muda seakan memiliki ruang bebas untuk mengekspresikan segala bentuk pikiran dan gaya hidup yang menurut mereka sangat kekinian. Padahal, jelas-jelas berdampak buruk dan berisiko tertular banyak penyakit kelamin.
Fakta ini tentu tidak terjadi kebetulan. Senyatanya, kaum muda kita sudah lama menjadi “anak asuh” media sosial. Sementara itu, media sosial sarat dengan propaganda paham sekuler liberalisme yang melahirkan gaya hidup permisif, hedonis, konsumtif, dan serba instan.
Lihat saja, seks bebas seakan telah membudaya. Berkencan dengan siapa saja sesuka mereka sudah menjadi tren kekinian yang dianggap “lumrah” seiring berjalannya masa. Tidak peduli dengan terbukanya peluang terkena HIV/AIDS dan semisalnya, yang penting bisa eksis di media sosial, syukur-syukur kalau viral dan terkenal, sekalipun postingnya berupa perilaku menjijikkan.
Negara pun seolah abai dengan perilaku seks bebas yang kian marak di masyarakat. Kampanye yang dilakukan sebatas mengedukasi, termasuk soal seks aman. Ancaman dekadensi moral dan perilaku menyimpang tidak menjadi urgensi penanganan, asalkan kaum muda tetap bisa menghasilkan cuan. Ini karena pemuda produktif adalah yang berkontribusi secara ekonomi bagi bangsa dan negara.
Pertanyaannya, profil anak muda seperti itukah yang kita harapkan bisa mengisi masa depan bangsa? Akankah visi Indonesia Emas 2045 dengan slogan “Menjadi bangsa maju, berdaulat, adil, dan makmur” dan “Menjadi satu dari lima kekuatan ekonomi dunia” bisa tercapai di tangan pemuda seperti itu?
Invasi Tsaqafah Asing dan Implikasi Negatif pada Pemuda Muslim
Tsaqafah asing adalah pengetahuan yang landasan dasarnya adalah sekularisme, bukan Islam. Sekularisme menjadi sebab pembahasan, pengajaran, dan penyebarannya.
Tsaqafah asing menjadikan seluruh konsep pemikiran dan pandangan hidup berdasarkan sekularisme saat memahami tentang alam semesta, manusia, juga kehidupan.
Menurut sekularisme, standar benar-salah dan baik-buruk didasarkan pada kemanfaatan yang didapatkan saja. Oleh karenanya, tolok ukur kebahagiaan adalah tercapainya materi duniawi sebanyak mungkin.
Berikut ini beberapa tsaqafah asing yang menginvasi pemuda muslim:
1. Budaya Permisif
Permisif berasal dari bahasa Inggris “permissive” yang berarti ‘serba membolehkan’. Sejalan dengan artinya, permisif merupakan sikap dan pandangan yang membolehkan dan mengizinkan segala-galanya.
Atas nama kebebasan dan HAM, seks bebas menjadi gaya hidup di kalangan muda. “Badan-badan saya, uang-uang saya, terserah saya,” kurang lebih seperti inilah pendapat mereka.
Tidak heran, kita banyak mendapati perilaku seks menyimpang, seperti eljibiti, fenomena “jatah mantan”, friends with benefit (FWB), one night stand, dan kini sleepover date, dsb. Semua perilaku ini menjamur di kalangan pemuda. Istilah-istilah yang digunakan kian variatif dan menipu, padahal hanya kedok untuk menormalisasi seks bebas.
2. Hedonisme
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan bahagia dengan mencari kesenangan sebanyak mungkin. Kesenangan adalah tujuan hidup dan kebaikan manusia yang tertinggi. Akibat hedonisme, seseorang mampu melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan kesenangan semata.
Kita banyak menjumpai kasus seorang anak tega membunuh orang tuanya hanya karena tidak dibelikan sepeda motor mahal, misalnya. Budaya clubbing, konsumerisme, hingga korupsi merupakan efek negatif dari hedonisme.
3. Individualisme
Individualisme adalah paham yang mendahulukan kepentingan diri sendiri dibandingkan kepentingan lainnya. Orang yang menganut individualisme disebut juga individualis.
Individualis akan melanjutkan kehendak pribadinya sendiri. Individualis menentang intervensi dari masyarakat, negara, dan kelompok lainnya atas pilihan pribadinya. Oleh karenanya, seorang individualis tidak peka terhadap problem di tengah masyarakat. Masalah masyarakat dianggap masalah orang lain dan tidak penting untuk dipikirkan, apalagi diselesaikan.
Seorang pemuda individualis tidak memiliki sikap awareness kala BBM naik yang membuat masyarakat kian tercekik. Jangankan menyikapi dengan bersuara menyampaikan pendapatnya untuk menghentikan kezaliman penguasa, sekadar ada kenaikan BBM saja belum tentu mereka ketahui.
Pemuda individualis juga asyik dengan aktivitas pribadinya, sekalipun useless dan buang-buang waktu. Juga hobi main gim, rebahan seharian tanpa melakukan apa-apa, hingga nongkrong semalaman dengan kawan-kawan.
Komparasi Islam Vs. Kapitalisme Sekuler
Ada perbedaan curam antara Islam dan kapitalisme sekuler dalam memandang produktivitas. Produktivitas dalam pandangan kapitalisme dipahami sebagai gabungan dari dua kata, yaitu “product” dan “activity”. Jika dilihat berdasarkan asal katanya, produktivitas berarti suatu bentuk aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk barang/jasa.
Secara umum, produktivitas adalah kemampuan setiap orang, sistem, atau perusahaan dalam menghasilkan produk barang/jasa dengan cara memanfaatkan sumber daya secara efektif dan efisien.
Oleh karenanya, dalam kapitalisme sekuler, semua kegiatan diarahkan agar produktif dalam artian bernilai ekonomi. Dalam dunia pendidikan, misalnya, mereka menerapkan sistem pendidikan sekuler yang tidak menjadikan agama (Islam) sebagai asasnya. Untuk menanamkan prinsip materialisme, sekolah difokuskan untuk mencari kerja.
Mereka juga memasukkan pemahaman moderasi Islam, HAM, pluralisme, dll. Belum lagi program teknopreneur yang ditujukan ke pesantren, membuat alih fungsi pesantren yang harusnya mencetak generasi ulama, beralih menjadi sosok pengusaha. Akhirnya, saat lulus, ilmu yang diperoleh di pesantren tidak melekat dengan benar. Demikian pula di kampus, lulus siap kerja menjadi acuan membuat kurikulum dan capaian pembelajaran.
Sungguh, paradigma produktivitas sekuler kapitalistik telah menjauhkan pemuda dari posisi strategisnya sebagai motor peradaban. Paradigma ini telah membajak potensi pemuda untuk kepentingan mengukuhkan penjajahan kapitalisme global, khususnya di dunia Islam.
Mereka hanya diarahkan menjadi sekrup mesin pemutar roda industri kapitalisme, sekaligus menjadi objek pasar bagi produk yang dihasilkan. Fesyen, barang-barang konsumsi, produk hiburan dan permainan, semua dipropagandakan sebagai alat meraih kebahagiaan dan puncak prestasi.
Semua ini sejalan dengan pengarusan produk pemikiran yang mengubah paradigma kaum muda menjadi kian cinta dunia. Pada saat yang sama, hilanglah kecintaan mereka akan agama dan perjuangan membangkitkan umatnya.
Berbeda dengan Islam, Islam mendudukkan pemuda sebagai bagian dari umat manusia yang memiliki tanggung jawab hidup sebagai hamba Allah sekaligus khalifah, pemakmur alam semesta.
Bentukan pendidikan dalam Islam menjadikan pemuda giat beribadah, tetapi pada saat yang sama terdorong menjadi pribadi yang bermanfaat untuk umat. Tidak heran jika generasi pemuda muslim mampu tampil sebagai mercusuar peradaban selama belasan abad.
Ilmu pengetahuan dan kemajuan materi berkembang di tangan kaum beriman. Negara mereka (Khilafah) mampu muncul sebagai adidaya yang memimpin dunia dan menebar rahmat bagi seluruh alam.
Tidakkah kita rindu para pemuda kembali pada fungsinya sebagai motor perubahan sekaligus pilar peradaban cemerlang? Jika iya, segera selamatkan mereka dengan dakwah menerapkan Islam kafah. Jangan biarkan musuh-musuh Islam memenangkan pertarungan hanya karena kita lalai dan malas berjuang mengubah keadaan.
Khatimah
Benar bahwa berjuang menegakkan Islam pada era hegemoni peradaban sekuler kapitalisme neoliberal pasti sangat berat dan butuh pengorbanan besar. Namun, Rasulullah saw. telah mewariskan sebuah jalan perjuangan yang rasional dan sesuai untuk diterapkan sepanjang zaman.
Jika sabar dan istikamah dalam menempuh jalan ini, pasti ujungnya adalah kemenangan. Masalahnya, siapkah kita mengambil jalan ini sebagai pilihan?
Allah Swt. berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.’.” (QS Yusuf: 108)
Walhasil, para pemuda harus segera kita selamatkan. Namun, berharap pada penguasa sekuler dan sistem yang diterapkannya, tentu bukan pilihan. Keduanya justru bertanggung jawab atas hilangnya kekuatan dan potensi yang ada pada kaum muda. Padahal, melalui tangan merekalah peradaban cemerlang diharapkan bisa kembali ke pangkuan umat Islam.
Satu-satunya harapan kita hanya pada dakwah Islam kafah yang akan menjadikan para pemuda muslim kembali pada fitrah potensinya, yakni menjadi pribadi cerdas dan bertakwa, serta menjadi problem solver bagi masyarakat. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Menghalalkan segala cara demi menghasilkan keuntungan salah satu ciri khas pada kapital