Muslimah News, NAFSIYAH — Pengemban dakwah bisa terpapar “virus” mager (malas gerak), tidak berdaya, tidak melakukan apa-apa selain jadi komentator, tetapi tidak menjadi pelopor. Mereka banyak mengeluh, tetapi tidak berkontribusi secara penuh. Maunya disanjung, padahal dakwah tidak dijunjung. Bagi yang mager semestinya banyak istigfar dan segera sadar.
Rasa malas hanya akan melahirkan penguluran dan perasaan berat untuk melaksanakan berbagai kewajiban dan amal, bahkan condong mengarah pada kemandekan dan berlepas diri dari tanggung jawab.
Jika telah memilih jalan perjuangan dan menjadi pengemban dakwah, haruslah melakukan aktivitas dakwah. Apalagi aktivitas ini diwajibkan oleh Allah Swt., bukan atas perintah pemimpin jemaah atau perintah pembina dakwah.
Rasa malas juga merupakan “penyakit” yang sangat berbahaya dan mengakibatkan lenyapnya kemauan yang kuat dan harapan besar. Hidupnya tidak memiliki tujuan dan hilang rasa untuk meraih keutamaan dalam berdakwah. Cita-cita yang tinggi tidak menjadi orientasi, tertinggal jauh di belakang dalam melaksanakan berbagai kewajiban. Hal ini merugikan dirinya sendiri dan masyarakat luas.
Padahal, Allah Taala telah mengingatkan kita, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari rida) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Ankabut: 69)
Saudariku, sesungguhnya kita hidup seiring dengan bergulirnya waktu dan berkurangnya usia. Kalau tidak dioptimalkan untuk berbagai kebaikan akan menyesal dan merugi di dunia juga akhirat. Kita harus siap sedia dengan berbagai amanah besar. Amanah itu bukan dicari-cari, tetapi amanah akan mendatangi orang-orang yang benar-benar siap dan layak untuk mengembannya.
Keutamaan melakukan aktivitas dakwah telah sering dijelaskan oleh para ulama. Apakah kita lupa atau tidak pernah mengingatnya? Janganlah rasa malas menggelayuti diri, betah dengan gelar pengemban dakwah, tetapi tidak berdakwah. Yuk, segera sadarkan orang yang terpapar “virus” malas gerak dengan menjelaskan kembali alasan kita berdakwah.
Pertama, berdakwah kepada agama Allah Taala termasuk ketaatan yang paling tinggi dan ibadah paling agung. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)-Ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’” (QS Yusuf: 108)
Kedua, berdakwah akan memberikan kebaikan dan meraih pahala. Firman-Nya, “Siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’” (QS Fushsilat: 33)
Asy Syaukani berkata, “Tidak ada yang lebih baik darinya dan yang lebih jelas dari jalannya dan tidak ada yang lebih banyak pahalanya dibanding amalannya (dakwah).”
Ketiga, dengan dakwah mewujudkan harapan salehnya keturunan. Firman Allah Taala, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa’: 9)
Termasuk dari perkataan yang benar dan paling agung adalah berdakwah kepada agama Allah Swt..
Keempat, dakwah akan memberatkan timbangan-timbangan kebaikan kita pada hari ditunjukkannya amal perbuatan. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikit pun dan barang siapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa-dosa yang mengikutinya. Hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim)
Kelima, dakwah kepada Allah Taala merupakan sebagian dari sebab-sebab kemenangan dan keberuntungan di dunia juga akhirat. Firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-Ashr: 1—3)
Keenam, berdakwah mendatangkan kemenangan melawan musuh-musuh Islam. “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 10)
Allah akan menolong untuk menghilangkan kemungkaran, di tengah umat akan terwujud kemuliaan sehingga dakwah akan meraih kemenangan dan Islam berkuasa.
Ketujuh, berdakwah memberikan kedudukan-kedudukan yang mulia. Syekh Abdurrahman As Sa’dy rahimahullah berkata, “Dan kedudukan itu yaitu kedudukan saat berdakwah, merupakan kesempurnaan bagi orang-orang shiddiq. Mereka mendapatkan warisan yang sempurna dari para rasul.”
Kedelapan, para malaikat-Nya dan penduduk langit juga bumi berselawat untuk pendakwah. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah, para malaikat dan penghuni bumi juga langit sampai semut yang berada di lubangnya serta ikan benar-benar berselawat atas penyeru/pengajar kebaikan.” (HR Tirmidzi)
Kesembilan, berdakwah kepada agama Allah merupakan salah satu sedekah dari banyaknya sedekah. Firman-Nya, “ (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS Al-Baqarah: 3)
Al-Hasan berkata, ”Termasuk infak yang paling afdal adalah infak ilmu.” Semoga dengan sembilan alasan di atas makin menguatkan tekad kita dalam berdakwah dan menghilangkan rasa malas untuk bergerak. Karena kemuliaan Islam tidak didapatkan dengan berdiam diri, melainkan memaksimalkan seluruh potensi untuk berkontribusi atasnya. Semoga kita bisa. Amin. Wallahualam. [MNews/Rndy]
