Falsafah Islamiah

Falsafah Islamiah

Oleh: Syekh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

Muslimah News, TANYA JAWAB — Tanya:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

Pada buku Mafâhîm li Hizb at-Tahrîr halaman 35 baris 7 dan 9 disebutkan “al-falsafah al-Islâmiyah”, padahal sebagaimana yang sudah maklum (diketahui bersama) menurut kita bahwa di dalam Islam tidak ada filsafat dan tidak ada filsuf. Bagaimana penjelasannya?

Semoga Allah memberikan balasan kepada Anda dengan segala kebaikan. (Asad azh-Zhahiriyah)

Jawab:

Dinyatakan di buku Mafâhîm halaman 35 sebagai berikut:

(Berdasarkan hal itu, perbuatan manusia itu merupakan materi yang dilakukan oleh manusia secara fisik. Hanya saja, ketika ia melakukannya, ia menyadari hubungannya dengan Allah berupa keberadaan perbuatan ini halal atau haram, lalu ia melakukannya atau tidak melakukannya berdasarkan asas ini, kesadaran dari manusia atas hubungannya dengan Allah ini adalah ruh.

Itulah yang memaksa manusia mengetahui syariat Allah untuk membedakan perbuatan-perbuatannya sehingga ia memahami yang baik dari yang buruk ketika ia mengetahui perbuatan-perbuatan yang Allah ridai dan yang Allah murkai. Ia membedakan yang tercela dari yang terpuji ketika syarak menentukan untuknya perbuatan yang terpuji dan perbuatan yang tercela. Tujuannya agar ia melihat nilai yang harus dipegang untuk kehidupan islami di masyarakat islami sesuai apa yang ditentukan oleh syarak.

Dengan ini, ketika ia melakukan perbuatan dan menyadari hubungannya dengan Allah, memungkinkannya untuk melakukan perbuatan atau tidak melakukannya sesuai kesadaran ini. Ini karena ia mengetahui jenis perbuatan, sifat, dan nilainya.

Dari sini, maka falsafah Islam adalah penggabungan materi dengan ruh, yakni menjadikan perbuatan dilakukan menurut perintah dan larangan Allah. Falsafah ini bersifat terus menerus mengikat untuk setiap perbuatan betapapun sedikit atau banyak, kecil atau besar. Hal itu merupakan pendeskripsian kehidupan (tashwîr li al-hayâh). Karena akidah islamiah adalah asas kehidupan, asas falsafah, dan asas peraturan, maka peradaban islami yang merupakan sekumpulan konsepsi kehidupan dari pandangan hidup Islam, dibangun di atas asas ruhiah yang satu, yaitu akidah islamiah, dan pendeskripsiannya untuk kehidupan adalah penggabungan materi dengan ruh, dan makna kebahagiaan dalam pandangannya adalah keridaan Allah).

Benar, ini adalah falsafah dalam makna yang islami (penggabungan materi dengan ruh), yakni kesadaran hubungan dengan Al-Khaliq. Itu merupakan istilah yang sahih dengan makna ini.

Adapun penggunaannya dengan istilah Yunani atau semacamnya yakni (pembahasan tentang apa yang ada di balik eksistensi atau di balik materi) maka ini diingkari oleh Islam. Di buku At-Tafkîr pada Pendahuluan halaman 4 disebutkan,

(Umat manusia telah menempuh perjalanan panjang kehidupan ini. Dari umur zaman dan umat manusia paling banyak memperhatikan hasil-hasil akal dan hasil-hasil aktivitas berpikir tanpa memperhatikan fakta akal dan fakta berpikir. Benar bahwa ada orang yang berusaha memahami fakta akal, di antara ulama kaum muslim dan cendekiawan nonmuslim, dahulu dan yang belakangan, tetapi mereka gagal dalam memahami fakta ini.

Ada orang yang berusaha merumuskan metode berpikir, tetapi mereka meski berhasil meraih dalam berbagai aspek buah metode ini berupa pencapaian-pencapaian ilmiah, tetapi mereka tersesat dari mengetahui berpikir dari sisi berpikir itu sendiri, dan mereka menyesatkan para pengikut yang terpesona oleh keberhasilan ilmiah. Sebelumnya, sejak masa orang-orang Yunani dan setelah mereka, mereka terdorong dalam mencapai pengetahuan tentang berpikir dan mereka mencapai apa yang disebut logika (mantik).

Mereka berhasil sampai ke sebagian pemikiran, tetapi mereka merusak pengetahuan dari sisi pengetahuan itu sendiri. Mantik (logika) menjadi bencana terhadap pengetahuan dan bukannya menjadi seperti yang diinginkan menjadi jalan untuk meraih pengetahuan dan standar kesahihannya.

Mereka terdorong dalam usaha sampai ke pengetahuan tentang berpikir, mereka juga telah sampai ke apa yang disebut filsafat, atau yang dikenal hubbu al-hikmah (cinta kepada kebijaksanaan), dan mendalami apa yang berada di balik eksistensi, yakni apa yang ada di balik materi. Lalu mereka mengadakan pembahasan lezatnya pengetahuan, lezatnya hasil-hasil. Akan tetapi, mereka jauh dari fakta, jauh dari kebenaran. Akibatnya menjauhkan dari hakikat dan jauh dari fakta sehingga menyesatkan banyak orang dan menyimpangkan berpikir dari kebenaran –ash-shawâb-).

Jadi, pembahasan apa yang ada di kitab At-Tafkîr harus merupakan kajian yang tenang, hati-hati, dengan perenungan, dengan izin Allah menjadi jelas hakikat tentang topik falsafah.

Saya berharap, di dalam ini ada kecukupan, Wallahualam wa ahkam. [MNews/Rgl]

Foto sampul: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *