[Kabar] 8th ICEMS, Wiwing Noeraini: Say No to Moderasi!

[Kabar] 8th ICEMS, Wiwing Noeraini: Say No to Moderasi!

Muslimah News, NASIONAL — International Conference on Education In Muslim Society ke-8 (8th ICEMS) telah diselenggarakan oleh FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Balai Litbang Agama Jakarta dengan mengusung tema The Future of Education: Moderate, Inclusive, and Professional di Hotel Grand Tjokro Premier Bandung, Jawa Barat (22-24 Agustus 2022).

Melansir dari situs Kemenag (23/08/2022), saat menghadiri sekaligus membuka rangkaian acara tersebut, Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi menyatakan, tema tersebut sangat tepat untuk didiskusikan karena pendidikan merupakan infrastruktur strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki faham keagamaan yang moderat, toleran, dan inklusif. 

“Dunia pendidikan dengan sendirinya menjadi bagian penting dalam mengusung penguatan moderasi beragama, yang saya kira tidak hanya dalam konteks Indonesia, tetapi juga dunia secara global,” ujarnya.

Say No

Aktivis muslimah Wiwing Noeraini merespons isu moderasi ini dengan menegaskan, katakan tidak untuk moderasi.

“Say no to moderasi! Generasi harus kita lindungi dari bahaya moderasi beragama ataupun pemikiran kufur lainnya. Untuk itu, kita perlu memahamkan bahwa moderasi bukan berasal dari Islam, bertentangan dengan Islam, dan sangat berbahaya karena menjauhkan generasi dari ajaran Islam yang benar,” ujarnya.

Ia membeberkan, moderasi beragama adalah pemikiran berbahaya yang mengancam generasi karena merusak keyakinan akan kebenaran Islam.

“Ini karena moderasi beragama mengajarkan prinsip semua agama benar atau semua agama sama. Jelas prinsip ini bertentangan dengan akidah Islam yang mengajarkan hanya Islam agama yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Seperti dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 19,” tuturnya.

Krisis Identitas dan Islamofobia

Wiwing melanjutkan, moderasi beragama telah memperparah krisis identitas generasi muslim dan menciptakan islamofobia (ketakutan terhadap Islam). “, tidak sedikit orang tua melarang anak-anaknya mengaji karena khawatir mendapat cap radikal dan takut dianggap ekstrem,” ungkapnya miris.

Bahkan, katanya, mereka juga melarang anak-anak berkerudung panjang atau pakaian muslimah seperti jilbab atau gamis yang panjang dan lebar. “Tidak jarang pula ada orang tua yang lebih suka anaknya ikut kegiatan-kegiatan seni dan olah raga daripada ikut pengajian,” tekannya.

Oleh karena itu, ujar Wiwing, lahirlah generasi yang tidak paham hukum Islam dan tidak tahu cara menjadi muslim yang taat kepada Allah, Rabb-nya. “Akhirnya mereka tidak mau menampakkan identitas diri sebagai muslim yang taat. Tidak mau pakai kerudung panjang, tidak mau kajian, apalagi dakwah,” terangnya.

Generasi Sekuler

Wiwing memandang, moderasi beragama adalah cara halus membuat generasi muslim menjadi sekuler. “Melalui moderasi, ada penanaman di benak generasi bahwa syariat Islam tidak penting, yang penting adalah esensi ajaran Islam,” tandasnya.

Alhasil, Wiwing menyampaikan, generasi tercekoki pemahaman bahwa tidak perlu membenturkan pemahaman Islam dengan ritual budaya lokal. “Seperti sedekah laut, festival kebudayaan, atau ritual budaya lainnya. Semua itu adalah keragaman budaya lokal yang harus dijaga demi kerukunan bersama sekalipun itu mengajarkan kemusyrikan,” sebutnya.

Bahkan, menurut Wiwing, mereka memaksa generasi untuk menerima pemahaman bahwa tidak bisa menerapkan syariat Islam secara keseluruhan dalam kehidupan. “Karena kita berada dalam sistem dan kehidupan masyarakat yang plural (beragam) dalam bingkai negara yang demokratis, mereka mengimbau syariat Islam hanya bisa terterapkan oleh individu, tidak bisa oleh negara,” pungkasnya.

Peran Umat

Hanya saja, menurut Wiwing, upaya melindungi generasi membutuhkan peran serta seluruh komponen umat. “Semua pihak, baik negara, masyarakat, lembaga pendidikan maupun keluarga harus berperan aktif dan turut serta dalam melindungi generasi,” jelasnya.

Di akhir, Wiwing menerangkan, “Perlindungan secara menyeluruh terhadap generasi hanya mungkin terlaksana jika syariat Islam terterapkan secara keseluruhan dalam sistem pemerintahan Islam, bukan dalam sistem seperti saat ini,” tutupnya. [MNews/Nvt]

Foto sampul: Kemenag

Share

One thought on “[Kabar] 8th ICEMS, Wiwing Noeraini: Say No to Moderasi!”

  1. Perlindungan secara menyeluruh terhadap generasi hanya bisa terjadi pada negara yg menerapkan sistem Islam secara kaaffah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *