Muslimah News, INTERNASIONAL — Dubes AS untuk Indonesia, Sung Yong Kim, memastikan dukungan AS untuk menguatkan pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender di Indonesia. Dalam acara Women in Fintech: Empowering the Next Generation Forum (11/8), ia menyatakan pemberdayaan perempuan adalah faktor yang sangat penting dalam keberhasilan Indonesia melakukan transformasi digital dan kesetaraan gender. Ia juga mengatakan, AS sangat berkomitmen memajukan hal tersebut dan tidak lepas dari keputusan atau kebijakan administrasi Presiden Joe Biden.
Dukungan AS ini dinilai pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti demi terwujudnya cita-cita global dan kepentingan AS. Bahkan, menurutnya, akan berpengaruh terhadap ketahanan keluarga dan memudahkan perusakan keluarga muslim.
“Dukungan AS terhadap pemberdayaan perempuan (PP) dan kesetaraan gender (KG) tentu demi terwujudnya cita-cita global dan—tidak boleh dilupakan—untuk kepentingan AS. Padahal, PP dan KG akan mengakibatkan berbagai persoalan dan berpengaruh terhadap ketahanan keluarga. Oleh karena itu, dukungan AS jelas memudahkan perusakan keluarga muslim,” terangnya kepada MNews, Senin (15/8/2022)
Rumus Global
Arum mengungkapkan PP dan KG sebenarnya sudah menjadi rumus global dan didoktrinkan kepada semua negara sebagai solusi persoalan perempuan dan mewujudkan kesejahteraan perempuan
“Untuk itu, perlu kewaspadaan karena sejatinya dukungan AS ini akan mempercepat terwujudnya PP dan KG di Indonesia. Padahal, PP dan KG menjadikan perempuan mendapatkan beban ganda karena harus berperan sebagai ibu, pendidik anak, dan pengatur rumah tangga sekaligus sebagai pencari nafkah. Banyaknya perceraian dan anak bermasalah adalah salah satu contoh nyata dampak buruk kampanye PP dan KG,” ulasnya.
Di sisi lain, lanjutnya, PP dan KG ini menjadi bukti bahwa sistem kapitalisme telah menetapkan nasib perempuan ada di tangan perempuan itu sendiri.
“Sedangkan, negara melepaskan diri dari tanggung jawabnya untuk menjamin kehidupan perempuan. Sesungguhnya, ini adalah bentuk eksploitasi perempuan secara terselubung,” cetusnya.
Hal ini, jelasnya, akan disadari ketika membandingkannya dengan sistem ekonomi Islam yang menetapkan perempuan ada dalam jaminan suami atau laki-laki.
“Negara juga memiliki mekanisme untuk menjamin nafkah perempuan dan anak-anak demi terlaksananya tugas dasar perempuan sesuai dengan kodratnya. Bahkan, negara wajib mewujudkan kesejahteraan semua rakyatnya, individu per individu,” bebernya.
Arahan Barat
Arum menyatakan, komitmen AS dalam membantu Indonesia untuk mewujudkan PP dan KG juga menjadi bukti kuat adanya upaya untuk menggiring Indonesia mengikuti arahan Barat.
“Tentu saja semua itu adalah untuk kepentingan Barat (AS) sesuai dengan cara pandang Barat dalam sistem kapitalisme. Kesejahteraan perempuan hanyalah ilusi karena sejatinya PP dan KG hanya menguntungkan para pemilik modal dan tidak pernah memikirkan kesejahteraan para pekerja, baik laki-laki maupun perempuan,” kupasnya.
Ia memperingatkan, inilah tabiat dasar sistem kapitalisme. “Mereka sengaja menebarkan narasi sesat untuk memikat. Padahal, sejatinya menghancurkan umat Islam lantaran membuat umat jauh dari Islam dalam seluruh aspek kehidupan,” kritiknya.
Terlebih, imbuhnya, Allah telah mengingatkan dalam QS Thaha ayat 124 yang artinya,
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Ganti dengan Syariat Islam
Nyatalah, tandasnya, PP dan KG bukan jalan sejahtera bagi perempuan, tetapi topeng kebusukan Barat untuk meraih keuntungannya semata dan cara licik untuk menghancurkan keluarga muslim.
“Oleh karena itu, sejatinya Indonesia tidak membutuhkan dukungan AS. Bahkan, sudah waktunya Indonesia membuang ide PP dan KG ini dan menggantinya dengan pemikiran dan syariat Islam,” ungkapnya.
Hal ini, sambungnya, karena hanya Islam yang datang dari Allah Swt. yang tepat untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk perempuan.
“Hanya dalam naungan Islam secara kafah, perempuan akan mulia dan sejahtera, serta generasi berkualitas dan keluarga sakinah mawaddah war-rahmah akan terwujud untuk membangun peradaban Islam yang mulia.” tegasnya menutup penjelasan. [MNews/Ruh]
Foto sampul: U.S. Embassy and Consulates in Indonesia
