[Nafsiyah] Bersungguh-sungguh Menjadi Hamba Allah Swt.

[Nafsiyah] Bersungguh-sungguh Menjadi Hamba Allah Swt.

Penulis: Arief B. Iskandar

Muslimah News, NAFSIYAH — Tahukah kita, jantung yang ada dalam tubuh adalah alat pemompa yang amat menakjubkan. la bekerja terus tanpa henti sejak minggu ke-4 dari kehidupan manusia (di dalam rahim) hingga kematiannya. Jika seseorang berumur 60 tahun, berarti selama itulah jantungnya tidak pernah berhenti bekerja memompa darah. Adakah pompa di dunia ini yang tahan bekerja selama 60 tahun tanpa henti?

Alat pemompa yang menakjubkan ini mengirimkan darah ke selaput nadi, urat syaraf, dan pembuluh darah, yang jika semua itu diletakkan secara berurutan pada sebuah garis lurus maka panjangnya bisa mencapai 60-100 ribu mil!

Tahukah kita, galaksi bimasakti hanyalah salah satu galaksi di dalam sistem tata surya kita. Galaksi bimasakti terdiri dari sekitar 200 miliar bintang. Para astronom memperkirakan bahwa di alam raya ini terdapat miliaran galaksi, dengan sekitar 1.000 triliun planet dan bintang. Setiap bintang atau galaksi berjalan pada orbitnya dengan kecepatan kira-kira 65.000 km perdetik.

Itulah di antara tanda-tanda kemahakuasaan Allah Swt.. Itulah ayat-ayat kauniah-Nya yang pada akhirnya meneguhkan klaim Allah Swt. sendiri, “Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dengan main-main.” (QS Al- Anbiya’ [21]: 16)

Sebagaimana kata Einstein, Tuhan tidak sedang bermain dadu ketika menciptakan jagat raya ini. Artinya, Allah Swt. bersungguh-sungguh saat menciptakan seluruh jagad raya ini dan sungguh-sungguh ketika menurunkan ayat-ayat qauliyah-Nya., yakni Al-Qur’an kalamullah.

Allah Swt. berfirman, “Tidakkah kalian memperhatikan Al-Qur’an? Seandainya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka bakal menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.” (QS An-Nisa’ [4]: 82)

Ketika Allah senantiasa bersungguh-sungguh dengan ayat-ayat kauniah dan qauliah-Nya, kita malah mendapati manusia sering “bermain-main” dengan kehidupannya; tidak serius dan bersungguh-sungguh menjalani tugasnya sebagai hamba Allah, yakni beribadah. Padahal, bukankah ibadah (pengabdian kepada Allah) merupakan raison d’ etre penciptaan manusia?

Allah Swt. berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56)

Sebagai muslim, kita tentu patut meneladani Nabi Muhammad saw. dan para Sahabat yang senantiasa menjalani kehidupan ini dengan serius dan sungguh-sungguh, tanpa pernah bermain-main; terutama dalam urusan ibadah, dakwah, dan jihad.

Dalam urusan ibadah, Nabi Muhammad saw. adalah teladan sempurna. Nabi saw. tidak pernah meninggalkan salat malam. Kakinya pun sering bengkak-bengkak sebab lamanya berdiri ketika salat. Nabi adalah orang yang paling banyak berpuasa. Nabi juga adalah orang yang paling banyak bertobat, tidak kurang dari 100 kali dalam sehari. Padahal, beliau adalah orang yang maksum (terpelihara dari dosa) dan dijamin masuk surga.

Para sahabat pun demikian istimewa ibadahnya. Mereka adalah orang-orang yang paling banyak mengkhatamkan Al-Qur’an. Menurut Utsman bin Affan ra., banyak Sahabat yang mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali. Mereka antara lain Abdullah bin Mas’ ud, Ubay bin Kaab, dan Zaid bin Tsabit. Ustman ra. sendiri sering mengkhatamkan Al-Qur’an hanya dalam waktu semalam. Itu sering ia lakukan dalam salat malam. Semua itu menunjukkan bahwa Nabi saw. dan para sahabat adalah orang-orang yang senantiasa serius dan bersungguh-sungguh dalam urusan ibadah.

Bagaimana dengan dakwah dan jihadmereka? Jangan ditanya. Nabi saw. dan para Sahabat adalah orang-orang yang telah menjadikan dakwah sebagai jalan hidup sekaligus “jalan kematian” mereka. Dengan kata lain, mereka hidup dan mati untuk dakwah dan jihad. Sebagian besar usia mereka, termasuk harta dan jiwa mereka, diwakafkan di jalan dakwah demi menegakkan kalimat–kalimat Allah Swt..

Amr bin Jamuh adalah salah seorang sahabat di antara ribuan sahabat yang mencintai kematian. Dikisahkan, ia adalah orang yang sering dihalang-halangi untuk berjihad oleh saudara-saudaranya karena kakinya pincang. Rasul pun telah membolehkannya untuk tidak ikut berjihad karena uzur-nya. itu. Namun, karena keinginan dan kecintaannya yang luar biasa pada syahadah (mati syahid), ia terus mendesak Rasul saw. agar mengizinkannya berperang. Akhirnya, Rasul saw. pun mengizinkannya. Dengan penuh kegembiraan, Amr pun segera berlari menuju medan perang, berjibaku dengan gigih melawan musuh, hingga akhirnya terbunuh sebagai syahid.

Itulah secuil fragmen keseriusan dan kesungguhan salafussalih dalam menjalani kehidupannya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita serius dan bersungguh-sungguh dalam hidup ini? Ataukah kita masih mengisi hidup ini dengan main-main?
Naudzubillah min dzalik! [MNews/Nsy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *