[Fikrul Islam] Buah Keimanan Adalah Ketaatan

[Fikrul Islam] Buah Keimanan Adalah Ketaatan

Penulis: Ahmad Mahmud

Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Keimanan kepada Allah harus dibarengi dengan kekufuran (pengingkaran) terhadap sekutu-sekutu selain-Nya, bagaimanapun bentuk dan gambaran sekutu-sekutu itu, apakah berupa berhala atau berwujud pemikiran. Sesungguhnya Al-Qur’an telah menyebutkan para penyembah berhala dan pengemban pemikiran. Allah berfirman,

قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ  وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ

“Ibrahim berkata, “Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat itu?” Allahlah yang telah menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.” (QS Ash-Shaffat: 95-96)

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى اَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْاُنْثٰى تِلْكَ اِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزٰى

“Apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Latta dan ‘Uzza serta Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah patut untuk kalian anak laki-laki dan untuk Allah anak perempuan? Yang demikian itu tentu merupakan suatu pembagian yang tidak adil.” (QS An-Najm: 19-22)

وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ

وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوا ائْتُوْا بِاٰبَاۤىِٕنَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup tidak ada yang membinasakan kita selain masa. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. Jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami yang jelas, tidak ada bantahan dari mereka selain mengatakan, ‘Datangkanlah nenek moyang kami jika kalian memang orang-orang yang benar.’ Katakanlah, ‘Allahlah yang menghidupkan kalian kemudian mematikan kalian. Setelah itu, Dia mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya.’ Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak tahu.” (QS Al-Jatsiyah: 24-26)

Dengan demikian, keimanan kepada selain Allah adalah batil serta wajib dijauhi dan diingkari. Sebagaimana keimanan membutuhkan perenungan dan pemikiran, kekufuran pun agar bisa dihindari dan dijauhi, memerlukan perenungan dan pemikiran. Beberapa ayat sebelumnya telah menggerakkan akal-akal manusia dan meminta kepada mereka agar merenungkan realitas berbagai akidah orang-orang kafir, tujuannya agar mereka meyakini bahwa akidah-akidah itu batil sehingga mereka benar-benar mengingkari tagut. Allah Swt. berfirman,

“Oleh karena itu, siapa saja yang mengingkari tagut dan mengimani Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kuat dan tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 256)

Jika perenungan dan pemikiran merupakan sarana untuk beriman kepada Allah, maka keduanya juga merupakan sarana untuk mengingkari tagut. Keduanya harus ada pada seorang muslim agar dia bisa berpegang teguh pada ‘urwah Al wutsqa (tali yang kukuh) dan mendapatkan petunjuk yang benar.

Keimanan yang seperti inilah yang dituntut dari setiap muslim agar ia senantiasa terikat dengannya. Oleh karena itu, siapa saja yang mengimani Allah dan menjauhi semua perkara selainnya, ia akan menemukan dirinya cenderung kepada Tuhan Yang Mahaagung, Maha Pencipta, dan Mahakuasa. Dengan begitu, dia pun akan mencintai-Nya, takut kepada-Nya, sangat ingin mendapatkan rahmat-Nya, selalu beribadah kepada-Nya dan senantiasa terikat dengan segala perintah-Nya.

Pada gilirannya, akan tumbuhlah pada dirinya kecintaan pada semua perkara yang dicintainya dan kebencian pada semua perkara yang dibenci olehnya. Seorang muslim dalam hidupnya senantiasa mengarahkan dirinya hanya kepada Allah dalam rangka memuji-Nya atas segala nikmat dan karunia yang telah Dia curahkan kepadanya.

Bagaimana tidak, ia hanyalah manusia yang lemah, tidak mampu, dan senantiasa membutuhkan zat yang mengatur urusannya. Kalau saja Allah tidak memberi petunjuk, dia pasti tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak istikamah, dan urusannya menjadi tidak baik.

Oleh karena itu, dengan mengikuti perintah Allah, seorang muslim akan hidup dengan kehidupan yang baik. Sebaliknya, jika ia menjauhkan diri dari mengingat Allah, maka ia akan hidup dalam kehidupan yang sempit serta merugi di dunia dan akhirat. Keimanan, secara pasti, akan mendorong keterikatan dan ketakwaan, sekaligus memberikan efek kepada seorang muslim untuk selalu berorientasi kepada sang Pencipta dalam rangka beribadah dan taat kepada-Nya.

Jika demikian halnya, apa sesungguhnya yang membuat Allah rida dan apa pula yang membuat-Nya murka? Jawabannya, tidak lain, bahwa yang membuat Allah meridai hamba-Nya adalah ketaatan kepada-Nya. Ketaatan adalah sekumpulan perbuatan makruf yang telah ditentukan oleh syariat bagi umat Islam dan mereka dituntut untuk melaksanakannya. Sebaliknya, yang membuatnya murka adalah kemaksiatan kepadanya, yaitu sekumpulan perbuatan mungkar yang telah ditentukan oleh syariat dan umat Islam diperintahkan untuk meninggalkannya. [MNews/Rgl]

Sumber: Ahmad Mahmud, Dakwah Islam

Sumber foto: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *